BINA KREATIF TALK ABOUT............


MAMA … AKU NGGAK MAU BELAJAR , AKU CAPEK…
(85 % anak di Indonesia memiliki short term Memory)
Para orang tua dan guru yang berbahagia, suatu hari saya pernah diminta menjadi pembicara oleh salah satu pengelola TK yang ingin menyelenggarakan program parenting kepada para orangtua muridnya. Tema yang diambilnya waktu itu ada CALISTUNG kependekan dari Baca, Tulis dan Hitung. Saya bertnya pada penyelenggara, apa yang diharapkan dari saya melalui tema ini?
Begini, kami ingin memberikan pemahaman pada para orang tua bahwa di sekolah ini, kami belum mengajarkan Baca, Tulis dan hitung kepada anak di usia yang sangat dini. Namun masalahnya, para orangtua tetap saja ngotot dan terus meminta anaknya agar diajari Baca, Tulis dan Hitung.
Kemudian saya bertanya lagi, “apa alasan para orang tua meminta anaknya diajari Baca, Tulis dan hitung?”
Karena hampir semua sekolah dasar mewajibkan anak kelas 1 yang baru mendaftar harus sudah bias Baca, Tulis dan hitung.
Para orangtua dan guru yang berbahagia, saya tidak pernah lupa kejadian ini. Saya juga heran dari mana asal-usulnya, mengapa setiap sekolah dasar mewajibkan siswa baru kelas satunya bisa CALISTUNG. Padahal jika kita bandingkan dengan pendidikan - pendidikan anak usia dini yang ada di Negara - negara maju, sama sekali tidak ada kewajiban semacam ini. Program untuk anak usia dini mayoritas adalah bermain. Karena bermain, bagi anak-anak, sama dengan belajar. Mereka baru diperkenalkan Baca, Tulis dan Hitung pada kelas tiga sekolah dasar (Elementary).
Secara ilmiah, baru-baru ini saya membaca bahwa anak usia dini baru bisa memfokuskan organ visualnya pada objek tiga dimensi, oleh karenanya, alat-alat pembelajaran anak usia dini yang baik adalah berbentuk tiga dimensi. Apabila anak usia dini dipaksa untuk belajar CALISTUNG yang pada umumnya menggunakan objek dua dimensi atau tulisan di papan tulis, maka si anak akan mengalami gangguan organ visual pada usia yang lebih muda.
Para orang tua dan guru yang berbahagia , tahukah anda mengapa sekolah-sekolah yang ada di Negara maju tidak menekankan pada aspek Baca, Tulis dan Hitung, melainkan lebih menekankan pada aspek pengembangan kreativitas dan kemampuan berpikir / nalar anak?
Menurut penelitian ilmiah, secara global kemampuan otak manusia yang berkaitan dengan pembelajaran terbagi menjadi tiga hal besar. Pertama adalah kemampuan kreatif, kedua adalah kemampuan berfikir / nalar, dan ketiga adalah kemampuan mengingat.
Dari ketiga kemampuan ini, kemampuan mengingat merupakan kemampuan alami yang berifat pelengkap, sementara kemampuan kreatif dan berfikir mrupakan kemampuan utama dan vital yang akan membantu anak untuk mencapai sukses di kehidupannya kelak.
Keberhasilan hidup seseorang lebih banyak ditentukan oleh kemampuan kreatif dan berfikirnya ketimbang kemampuan mengingatnya, atau dengan kata lain kemampuan mengingat (short term memory) hanya sebagai pelengkap saja.
Namun sayangnya, yang terjadi pada system pendidikan kita malah sebaliknya. Sejak usia dini anak-anak sudah dipaksa untuk bisa CALISTUNG, yang sesungguhnya hanyalah sebuah proses untuk mngembangkan kemampuan mengingat jangka pendek anak (Short Term Memory Learning).
Ternyata proses ini tidak hanya berhenti di suia dini saja, namun hingga dewasa mereka terus diajar dan diuji berdasarkan kemampuan mengingatnya dan bukan kemampuan kreatif atau nalarnya.
Para orangtua dan guru yang berbahagia, berikut ini adalah salah satu contoh pertanyaan yang dulu pernah diujikan pada saat kita masih bersekolah.
Apa yang terjadi antara 1825 s.d. 1830 ? Masih ingat pelajaran sejarah ? ya, pasti jawabannya adalah perang diponegoro. Para orangtua dan guru yang berbahagia, sementara saya pernah tanyakan pertanyaan yang sama pada anak-anak TK.
“Nak, siapa yang tahu apa yang terjadi antara 18.25 s.d. 18.30 ? Tiba-tiba seorang anak berteriak,” saya tahu! Saya tahu! Itu waktunya Film Ipindan Upin. “ Bagaimana menurut anda, salahkan jawaban anak ini? Tentu saja jika ini menjawab untuk soal ujian nasional pasti akan disalahkan.
Para Orang tua dan guru yang berbahagia, sejak kecil kita tidak pernah dinilai berdasarkan nalar kita dalam menjawab soal-soal. Sejak kecil kita juga tidak pernah diberi pertanyaan yang menggunakan nalar / berfikir seperti :
Apa yang terjadi jika minyak bumi Indonesia habis ? Apa akibatnya ? ya, saat hal itu terjadi maka masyarakat kita menjadi panic. Karena sejak dulu tidak pernah dipertanyakan, apa lagi sempat dipikirkan.
Para orang tua dan guru yang berbahagia, begitulah anak-anak kita telah dibesarkan dengan system pendidikan yang tidak melatih untuk berfikir kreatif. Jadi, wajar saja jika saat ini jumlah pengangguran baru dari lulusan akademi dan universitas terus membengkak. Sementara para pelajar lulusan SMA dan ederajat terus berebut menyerbu perguruan tinggi yang pada akhirnya juga akan menjadikan mereka hanya sebagai calon-calon pengangguran baru. Sayangnya ternyata mereka juga tidak menyadari hal ini, karena memang tidak pernah dilatih untuk memikirkannya.
Para orangtua dan guru yang berbahagia, mari bersama-sama kita ciptakan sitem pembelajaran yang mengasah kemampuan berfikir anak! Bukan sekedar hafalan. Agar kelak mereka bisa melihat dan menciptakan peluang-peluang baru, bukannya melihat dan menciptakannya masalah baru bagi bangsa ini!
Ingat, pasar bebas tenaga kerja sudah di depan mata. Zaman ketika persaingan kualitas manusia akan semakin ketat! Apakah kelak anak-anak kita akan menjadi budak atau tuan rumah di negrinya sendiri, kitalah yang paling bertanggung jawab.
Sebuah catatan artikel menarik tentang membaca dan menulis menjelaskan sebagai berikut :
Anak yang diajari menulis dan membaca lebih awal ternyata membaca buku dan membuat tulisan jauh lebih sedikit daripada anak yang diajarkan baca dan menulis kemudian. Jauh lebih penting untuk menjaga rasa ingin tahu anak dengan mengembangkan kreativitas individunya daripada mengajarinya untuk membaca dan menulis diusia dini.
Dan mungkin itulah sebabnya, kita semua, para orangtua yang dulu sejak kecil sudah di paksa untuk bisa membaca agar dianggap anak pintar dan mendahului anak lain, tetapi ironisnya kini malah menjadi orangtua yang jarang atau malas membaca. Apalagi untuk membuat tulisan.
Begini penjelasan alamiahnya. Apabila yang pertama kali dirangsang adalah otak kreatif dan rasa ingin tahu anak, maka anak-anak akan menyimpan segudang pertanyaan yang membutuhkan jawaban. Semakin banyak yang ingin diketahui anak maka semakin besar pula usaha untuk mencari jawabannya. Oleh karena itu, keinginan anak yang terpendam tersebut akan meledak apabila kemudian dia baru diajari bagaimana cara membaca dan menulis. Maka anak ini akan menjadi keranjingan untuk membaca dan menulis karena begitu banyak pertanyaan yang harus segera dijawab dan begitu banyak pengetahuan baru yang harus dia tulis.
Namun sebaliknya, jika yang dirangsang pertama adalah membaca dan menulis, maka otak kreatif anak ini tergantung dari rangsangan awalnya dan memiliki periode kritis hingga usia 12 tahun. Anak yang waktunya lebih terfokus untuk belajar membaca dan menulis sama sekali tidak memiliki ketertarikan, tidak punya pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab, oleh karenanya dia tidak banyak menggunakan kemampuan baca tulisnya.
Mungkin itulah alasan mengapa system pembelajaran di kebanyakan Negara maju lebih mementingkan kreativitas daripada kemampuan membaca dan menulis pada anak-anak di usia dini.
Mari kita renungkan kembali, seperti apakah anak-anak kita dirumah dan disekolah telah dididik?
Bina Kreatif Oktober 2010

Selayang Pandang BKKC .........


BINA KREATIF KIDS CARE
Aksi Peduli dan Berbagi bersama Psikolog

Dalam perjalanan kami mengenalkan dunia psikologi kepada masyarakat awam, banyak sekali kami temukan kendala. Selama ini masyarakat awam hanya tahu kalau tugas psikolog hanya menangani orang stress, mengadakan tes – tes kecerdasan/IQ atau sebatas HRD di perusahaan – perusahaan. Hal ini memang bisa dimaklumi karena kurangnya sosialisasi peran psikolog di masyarakat. Padahal melihat perkembangan perilaku masyarakat saat ini yang penuh dengan tekanan hidup dan berbagai masalah sosial banyak hal yang bisa dilakukan. Sekali lagi, tekanan apapun yang dialami orang tua pasti akan berdampak pada perkembangan emosional anak. Untuk itulah Bina Kreatif mencoba mendampingi orang tua dalam mendidik dan mengasuh anak.
Suatu hari kami mengadakan dialog di salah satu sekolah yang letaknya terpencil didesa Ciseeng Parung Bogor. Kami menemui seorang ibu muda yang sudah memiliki 3 anak yang masih kecil – kecil. Jangankan bertemu psikolog atau mencari ilmu tentang fase perkembangan anak, untuk biaya hidup sehari – hari dan kesehatan pun sangat sulit. Si Ibu menikah diusia 15 tahun dan diusianya yang hampir berkepala dua ini ia harus mengasuh anak – anak yang menurut kami sangat berat. Karena sisi emosional ibu belum matang dalam mendidik anak maka solusi yang sering dilakukan untuk putra - putrinya adalah dengan memarahi dan memakai kekerasan fisik. Bahkan anak sulungnya yang belum genap 4 tahun harus menerima hukuman setiap hari, mulai cubitan, jeweran maupun pukulan di pantat. Ketika kami ajak dialog, banyak sekali keluhan menghadapi perilaku anak yang menurutnya sulit untuk dikendalikan. Ketika kami menglakukan observasi anak lebih lanjut, ternyata ditemui kondisi anak tergolong “ Hiperaktive”.
Kami mencoba lebih mengarahkan pada tindakan langsung mengatasi masalah si Sulung yang Hiperaktif. Kami melakukan kerja sama dengan pihak sekolah. Alhamdulillah pihak sekolah menyambut baik keinginan kami dan kebetulan ada salah satu guru yang bersedia mendampingi anak di sekolah. Kami sering melakukan kontak dengan guru yang menangani si anak. Penanganan di bulan 1 sampai dengan 6 belum banyak terlihat perkembangannya. Namun penanganan terus menerus diberikan Sampai akhirnya mulai terlihat perubahan menjelang tahun pertama. Anak sudah terlihat jauh lebih bisa mengontrol gerak dan emosionalnya. Semua ini bisa berkesinambungan dengan baik karena ada kerjasama orang tua , sekolah ( guru ) dan psikolog yang mendampingi. Orang tuanya sangat bersyukur walaupun harus menyisihkan biaya 3 ribu rupiah untuk menelpon lewat wartel setiap konsultasi ke kami. Saat ini beliau jauh lebih bisa memahami perkembangan psikologis putra – putrinya, lebih sabar , lebih pengertian dan lebih bersyukur.
Bapak ibu yang budiman itu tadi sekilas berbagi pengalaman menghadapi permasalahan putra – putri di rumah. Masih banyak pengalaman – pengalaman kami dalam mensosialisasikan Psikolog masuk ke sekolah.
Dalam perjalanan kami menelusuri sekolah – sekolah , banyak kami jumpai permasalahan anak mulai dari masalah yang ringan sampai yang rumit. Hampir disetiap sekolah dijumpai anak yang bermasalah mulai dari emosional yang labil sampai kesulitan berkonsentrasi. Bahkan dua tahun terakhir ternyata semakin banyak permasalahan disekolah yang kami temui. Untuk memfasilitasi sekolah, kami luncurkan Program Pendampingan Guru, Program Pendampingan Sekolah dan Program Pendampingan Anak dan Orang tua ( atau biasa kami singkat dengan PPG , PPS , PPA )
Setelah kami luncurkan program PPG , PPS , PPA respon dari orang tua sangat baik. Mereka sangat antusias menanggapi program kami. Kami memberikan layanan konsultasi sore hari jam 4 sore sampai jam 6 sore melalui telepon. Setiap hari rata – rata 10 penelpon menanyakan problem yang dialami putra putrinya. Kami juga memberikan layanan dalam bentuk “Konsultasi via SMS” dan ternyata dalam sehari kami mendapatkan pertanyaan dari SMS sangat banyak. Awalnya kami sempat berfikir bagaimana menanggulangi biaya pulsa telpon yang membengkak. Tetapi Alhamdulillah, bantuan datangnya langsung dari Allah. Insyaallah rezeki datangnya dari mana saja. Sampai saat ini layanan paling banyak peminatnya adalah sharing via SMS. Para orang tua merasakan banyak manfaat dalam memperoleh penanganan praktis masalah putra – putrinya. Bahkan sekarang ini orang tua bisa memiliki Psikolog Keluarga tanpa harus mengeluarkan biaya besar. Memang Program Berbagi yang kami luncurkan belum banyak dirasakan banyak orang,. baru sebatas orang tua yang menjadi member Bina Kreatif.
Melalui program konsultasi lewat telepon, orang tua bisa berdiskusi atau menanyakan langsung penanganan masalah anak kepada psikolog. Ada satu peristiwa yang sampai sekarang masih sangat hangat di ingatan kami yaitu ada seorang ibu yang berkonsultasi dan curhat tentang anak semata wayangnya yang kini mengalami Kekurangan fisik dan mental. Hampir dua jam si ibu cerita mulai dari kelahiran putranya Dodi yang lahir premature, sampai usia 2 tahun belum bisa berjalan, bahkan untuk mengucapkan kata “mama” saja baru terdengar jelas ketika usianya sudah 4 tahun. Dodi juga sering sakit – sakitan hampir setiap bulan berobat ke dokter atau Rumah sakit Dodi anak yang tidak bisa diam, aktif bergerak, dan diusianya yang hampir 7 tahun kondisi mentalnya masih seperti anak 4 tahun. Belum lagi menghadapi keluhan dan cibiran tetangga yang menganggap Dodi anak aneh dan nakal, Bahkan yang lebih menyakitkan ketika Dodi harus dikucilkan dengan teman – teman seusianya karena orang tua yang lain khawatir kalau anaknya akan “disakiti” oleh Dodi. Dalam waktu yang cukup lama kami pun ikut merasakan kesedihan yang dihadapi si ibu. Kami hanya bisa memberikan motivasi dan mempersilahkan sang ibu untuk datang langsung ke Bina Kreatif untuk sharing dengan konsultan dan terapis kami.
Kami bisa memahami betapa beratnya memiliki anak yang punya “keterbatasan”, karena kamipun pernah mengalami hal yang sama. Ini sedikit cerita tentang anak pertama kami Fian. Diusia 4 bulan Fian sering mengalami kejang/ Step. Ketika demam dengan suhu badan 38 derajat Celcius saja anak kami sudah mengalami kejang. Hal ini memicu kecemasan yang sangat berlebihan pada diri kami. Kami juga menyadari bahwa anak yang sering mengalami kejang pasti akan mengalami keterlambatan berfikir dan emosionalnya cenderung kurang stabil. Ketika Fian masuk TK terlihat konsentrasinya tidak maksimal, bahkan menurut guru kelas, cenderung banyak melamun. Kami mencoba mencari literature kemana – mana mulai dari dokter syaraf, dokter spesialis anak bahkan sampai tak terhitung buku perkembangan anak yang kami baca. Peristiwa anak kami dikucilkan teman, dipandang sebelah mata oleh tetangga, tidak dipahami oleh guru kelasnya adalah perjalanan hidup yang telah kami lewati. Beban kami bertambah berat karena kami dikenal sebagai Psikolog yang sering memberikan solusi kepada banyak orang. Bagi orang yang tidak tahu kronologis kejadiannya pasti akan berpikir masa sih anak seorang Psikolog kok kayak gini ???? perkembangan anaknya jauh sekali dari ideal. Rasa tidak bisa menerima ketetapan Allah juga pernah kami alami, astaghfirullah’aladzim……..Namun kami tetap mencoba bersabar dan terus berusaha. Alhamdulillah jerih payah kami ada hasilnya, kesabaran kami membuahkan hasil. Saat ini putra kami sudah kelas 5 SDN Cipayung Jaya Depok, dan hasil belajarnya lumayan menggembirakan. Akhirnya kami menyadari, ternyata hikmah yang ada dibalik peristiwa ini jauh lebih berharga dibandingkan dengan kesulitan yang telah kami lewati dan yang akan terus kami perjuangkan. Kami jadi lebih bisa memahami orang tua yang mengalami hal yang sama dengan yang kami rasakan. Dan Insyaallah kami ingin berbuat lebih banyak lagi untuk menolong orang tua yang memiliki anak bermasalah dan “special need”
Mulai tahun 2002 - 2003 kami melakukan kegiatan pendampingan anak berkebutuhan khusus. Program pendampingan kami tidak hanya fokus pada penanganan anak melalui terapi saja, tetapi kami juga berusaha mendampingi orang tua. Kami sadar bahwa beban mental orang tua yang memiliki “anak berkebutuhan khusus” sangat tinggi. Karena bagaimanapun juga siapa sih yang mau punya anak special need? Dan kami pun yakin para orang tua ini tidak punya bekal untuk mendampingi anaknya. Padahal orang tua adalah bagian terpenting untuk kemajuan perkembangan anak yang memiliki keterbatasan. Dengan sering mengajak sharing orang tua, kami berharap beban psikologis orang tua bisa turun sehingga lebih bisa menerima kondisi anak, memiliki motivasi positif terhadap anak, yang tentu saja berdampak besar terhadap kondisi psikologis anak. Kami sadar bahwa program pendampingan ini belum berjalan maksimal, sehingga pada tahun 2006/2007 kami mulai mensosialisasikan sedikit demi sedikit problem anak berkebutuhan khusus di sekolah – sekolah yang telah menjadi member kami. Kami berharap semakin banyak orang tua dan pihak sekolah yang paham tentang wacana ini maka semakin banyak juga orang tua yang tertolong.
Walaupun kami fokus pada anak berkebutuhan khusus tetapi kami membuka akses juga untuk sharing seputar problema anak. Sharing kami lakukan di acara Parenting Course hasil kerjasama Bina Kreatif dengan sekolah – sekolah binaan maupun di kantor Bina Kreatif Jl. Akar Wangi 2 no. 24 Komplek Departemen Pertanian “Atsiri Permai” Citayam phone 021 87987089 setiap hari Senin – Sabtu dari jam 8 – 11 siang , dengan dibantu 3 terapis dan 1 konsultan.
Seiring waktu semakin banyak orang tua yang merasakan manfaat sharing yang kami lakukan. Bahkan kami memberikan layanan sharing gratis bagi orang tua yang mempunyai “Member Card Bina Kreatif Kids Care” dengan terlebih dahulu konfirmasi kedatangan.
Kami turut bahagia ketika orang lain bisa mendapatkan manfaat dari apa yang kami berikan . Semoga bermanfaat dan Tetap Semangat !!!!!

Bina kreatif , September 2010

SEMINAR PSIKOLOGI ( Sasaran Orang tua dan pelaku Pendidikan)

SEMINAR PSIKOLOGI ( Sasaran Orang tua dan pelaku Pendidikan)
Tujuan : Memberikan pengetahuan dan pemahaman kepada orang tua tentang perkembangan psikologi dan perkembangan emosional anak, sehingga bisa mencari solusi permasalahan anak dengan tepat.

"SMART Parenting Bina Kreatif Kids Care"

"SMART Parenting Bina Kreatif Kids Care"
"Sekolah yang baik adalah sekolah yang bisa meng-akumudir style dan potensi anak, jadi sekolah yang favorit menurut kebanyakan orang belum tentu baik untuk anak kita."Cuplikan dialog (Red)

KANTOR " BINA KREATIF "

KANTOR " BINA  KREATIF "
Alhamdulillah Kantor sekaligus tempat berbagi pengetahuan tumbuh kembang anak telah dioprasikan. Ingin Info lebih banyak silahkan Hubungi Management BKKC : 021 95192514 semoga banyak manfaatnya. Amin.

TEAM BINA KREATIF KIDS CARE

TEAM  BINA KREATIF KIDS CARE
Setiap anak memiliki kelebihan dan kekurangan masing - masing , tugas kita sebagai orang tua hanyalah membimbing , mengarahkan dan mendidiknya dengan baik. Kesabaran dalam mengasuh anak adalah kunci utama keberhasilan menjadikan anak - anak yang hebat , berakhlaq dan cerdas.
 

INFO 2009

INFO  2009

CONSULTING INFORMATION

CONSULTING  INFORMATION

INGIN KONSULTASI PSIKOLOGI

INGIN  KONSULTASI PSIKOLOGI