<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-4214269774589169133</id><updated>2012-01-26T18:22:43.004+07:00</updated><title type='text'>BINA KREATIF</title><subtitle type='html'>Lembaga Konsultasi Psikologi dan Konsultan Pendidikan</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://binakreatif.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4214269774589169133/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://binakreatif.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Kak Wien</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_IjcvEQdax7w/SVmhO3r18gI/AAAAAAAAAEE/mGgzTLHEGB8/S220/Poster+Kakwin.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>51</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4214269774589169133.post-5831163322953572760</id><published>2012-01-18T17:28:00.001+07:00</published><updated>2012-01-18T17:31:06.512+07:00</updated><title type='text'>INGIN BERBAGI</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-EgamGgQSLAs/TxafWsmOQPI/AAAAAAAAAYA/XNDCD_Spomc/s1600/anak61.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 134px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-EgamGgQSLAs/TxafWsmOQPI/AAAAAAAAAYA/XNDCD_Spomc/s200/anak61.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5698917590761357554" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;KOMUNIKASI ORANG TUA DAN ANAK&lt;br /&gt;( Menyikapi  Makin maraknya Anak Kabur dari rumah )&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Ir. Akhir Winardi , SPsi. MPsi. ( Konsultan dan Psikolog Anak )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu ngga pernah mendengarkan mama,” kita seringkali mendengar ini, sama seringnya dengan, “Mama ngga mau dengerin saya.” Padahal komunikasi yang baik membantu anak dan orang tua membentuk rasa percaya diri, perasaan harga diri dan hubungan yang baik dengan orang lain.&lt;br /&gt; Seringkali orang tua menganggap apa yang dirasa benar tentu benar juga bagi anak – anaknya , padahal banyak sekali yang bisa berbeda. Memahami anak – anak kita jauh lebih penting dari pada kita memaksakan kehendak kita , yang pada akhirnya seringkali  muncul konflik antara orang tua dengan anak.&lt;br /&gt; Banyaknya kasus anak kabur dari rumah , salah satu penyebabnya adalah tidak adanya keterbukaan dalam keluarga. Banyak masalah internal yang tidak terselesaikan , dan akhirnya anak memutuskan keluar dari rumah yang belum tentu anak memahami kondisi yang sesungguhnya. &lt;br /&gt;Selain itu juga semakin maraknya film – film anak dan remaja  yang mengambil cerita anak – anak kabur dari rumah karena permasalahan internal. &lt;br /&gt; Hal  semacam itulah yang juga sangat berdampak pada anak – anak  untuk meniru tindakan kabur dari rumah.&lt;br /&gt;Banyak cerita anak kabur dari rumah terjadi  dikalangan umum , bahkan sampai para artis remaja dan anak pun malakukan tindakan kabur dari rumah. Seperti kisah artis “ Arumi ” dan yang baru – baru ini artis iklan cilik “ Vita ”  Di daerah cipayung yang menghilang. Entah apa yang terjadi dan tentunya ini menjadi pelajaran bagi kita semua para orang tua  begitu pentingnya “ Keterbukaan Komunikasi Orang tua dengan Anak”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cobalah beberapa tips berikut untuk membangun komunikasi yang baik antara orang tua dan anak.&lt;br /&gt;• Ajarkan anak mendengarkan. Sentuhlah anak dengan lembut sebelum berbicara dengannya, panggil namanya. &lt;br /&gt;• Berbicara dengan lembut, kadang-kadang berbisik sehingga anak ‘terpaksa’ mendengarkan. Mereka juga menyukainya.&lt;br /&gt;• Tataplah anak pada matanya sehingga anda tahu apakah mereka memahami apa yang anda katakan. Membungkuk atau duduklah sehingga anda sama tinggi dengan anak anda.&lt;br /&gt;• Praktek mendengarkan dan berbicara. Bicarakan kepada anggota keluarga apa yang anda lihat di TV, di taman atau toko, di mana saja. Ceritakan apa yang anda dengar di radio. Bicarakan dengan anak anda tentang sekolah, apa yang terjadi, pelajarannya, teman-temannya. Bicarakan juga minat nya, buku yang dibacanya, CD barunya, atlit idolanya, main bola dengan anak-anak tetangga di lapangan dekat rumah. Pendeknya, bicarakan apa saja. &lt;br /&gt;• Hormati anak dan gunakan nada bicara yang sopan. Bila kita berbicara kepada anak seperti kepada teman kita, anak kita lebih mudah menganggap kita sebagai orang yang dipercaya.&lt;br /&gt;• Pujilah anak-anak. Berikan pujian karena mereka bekerja sama dengan anda atau saudara mereka, atau untuk mengerjakan tugas-tugas kecil di rumah.&lt;br /&gt;• Gunakan ucapan-ucapan untuk memancing anak-anak untuk bercerita lebih banyak tentang apa yang mereka alami atau perasaan mereka, seperti, “Oh begitu ya, lalu bagaimana?” “Masa?” “Coba ceritakan lagi, mama belum ngerti, nih.”&lt;br /&gt;• Pujian membangun kepercayaan diri anak dan mendorong komunikasi. Kata-kata kasar akan menyakiti anak-anak dan mengajarkan bahwa mereka tidak cukup baik.&lt;br /&gt;• Kita tidak boleh menganggap anak terlalu besar untuk mendengar “I love you”, “Mama sayang kamu.” Mengatatkan “I love you” sangat penting. Anda dapat juga menuliskannya sehingga anak dapat membawa-bawanya.&lt;br /&gt;• Berikan perhatian sepenuhnya ketika anak ingin berbicara dengan anda. Letakkan buku yang anda baca, palingkan wajah anda dari TV, hentikan sejenak kegiatan yang sedang anda lakukan dan dengarkan anak anda.&lt;br /&gt;• Berikan pendapat anda tanpa memaksakannya kepada anak, tunjukkan kepada anak bahwa boleh saja ia tidak sependapat dengan anda.&lt;br /&gt;• Biarkan anak menyelesaikan apa yang ingin ia sampaikan sebelurm memberikan respon. Berbicaralah dengan anak anda, jangan menggurui, mengkritik, mengancam atau mengucapkan kata-kata yang menyakitkan.&lt;br /&gt; Bila anda tidak sepaham dengan anak anda, jangan berdebat untuk menentukan siapa yang benar, katakan, “Kamu mungkin ngga’ setuju, tetapi begini pendapat mama.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah Ayah , Bunda, mari kita benahi sama – sama komunikasi kita dalam keluarga. Semoga kita tetap bisa menjaga dan mempebaiki komunikasi dalam keluarga.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4214269774589169133-5831163322953572760?l=binakreatif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://binakreatif.blogspot.com/feeds/5831163322953572760/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4214269774589169133&amp;postID=5831163322953572760' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4214269774589169133/posts/default/5831163322953572760'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4214269774589169133/posts/default/5831163322953572760'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://binakreatif.blogspot.com/2012/01/ingin-berbagi.html' title='INGIN BERBAGI'/><author><name>Kak Wien</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_IjcvEQdax7w/SVmhO3r18gI/AAAAAAAAAEE/mGgzTLHEGB8/S220/Poster+Kakwin.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-EgamGgQSLAs/TxafWsmOQPI/AAAAAAAAAYA/XNDCD_Spomc/s72-c/anak61.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4214269774589169133.post-541159744904123850</id><published>2012-01-03T23:40:00.002+07:00</published><updated>2012-01-03T23:44:53.842+07:00</updated><title type='text'>MENGEMBANGKAN POTENSI DAN BAKAT ANAK</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/--dkT3HjptN4/TwMweO2-QFI/AAAAAAAAAX0/vao9GmJpbaA/s1600/Siswa%2BSD%2B1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 145px;" src="http://4.bp.blogspot.com/--dkT3HjptN4/TwMweO2-QFI/AAAAAAAAAX0/vao9GmJpbaA/s200/Siswa%2BSD%2B1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5693447649869316178" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Mengembangkan Bakat dan Minat&lt;br /&gt;Oleh : Tim Bina Kreatif&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; Tidak ada seorang pun yang tidak berbakat, yang membedakan ialah ada tidaknya minat untuk mengembangkannya. Bakat merupakan potensi bawaan yang dimiliki manusia, sedangkan minat tercipta karena adanya ketertarikan kuat atas sesuatu. Kedua hal ini seringkali dikaitkan dengan faktor kecerdasan dan kesuksesan seseorang. Bagi saya sendiri, orang cerdas itu orang yang mampu memahami, mengembangkan dan mendayagunakan bakatnya untuk kepentingan dan kebahagiaan hidupnya, dan orang sukses ialah orang yang mampu membahagiakan hidupnya. Sukses bisa saja karena bakat, tetapi sering juga karena minat. Jika demikian, bagaimana bakat itu muncul dan terbentuk dalam diri kita? Bagaimana kita bisa mengembangkan keduanya?&lt;br /&gt; Secara ilmiah, para ahli (dikutip dari www. kesehatan.kompas.com) menyatakan bahwa saat lahir kita memiliki 100 miliar neuron. Tiga bulan atau 60 hari menjelang kelahiran, neuron yang kita miliki itu sudah berkomunikasi satu sama lain. Mereka bahkan membentuk jalinan yang dinamakan dengan axon. Saat jalinan terbentuk, sebuah sinapsis pun otomatis terbentuk. Di usia tiga tahun, setiap 100 miliar neuron kita itu telah menciptakan jaringan sinapsis dengan neuron lainnya. Koneksi antarneuron inilah yang menjadi awal mula munculnya bakat. Tanda-tandanya, kita akan terlihat aktif luar biasa. Jalinan sinapsis akan terus mendorong diri kita untuk tidak berhenti melakukan apa pun yang kita mau sesuai dengan minat kita. Proses ini berlangsung hingga usia kita mencapai 16 tahun. Di usia inilah bakat mulai terasah karena kita memiliki ruang lebih luas untuk fokus dan benar-benar mengeksploitasi beberapa sinapsis tertentu setelah mengalami proses kebingungan memilih, mencoba melakukan segala sesuatu, dan kita tidak terfokus untuk mematangkan sebuah nilai kompetensi tertentu. Dari proses ini, kita dapat memahami bahwa minat merupakan faktor yang dapat mengarahkan bakat. Dalam beberapa pengertian, minat merupakan suatu perhatian khusus terhadap suatu hal tertentu yang tercipta dengan penuh kemauan dan tergantung dari bakat dan lingkungannya. Dengan demikian, minat dan bakat merupakan faktor yang saling mempengaruhi, terlepas dari faktor mana yang lebih dominan. Keduanya penting untuk dikembangkan secara optimal bahkan maksimal.&lt;br /&gt; Dalam kenyatannya, bakat atau nature sering diartikan sebagai talenta, yakni kemampuan tertentu yang unik, kecakapan, gift (anugerah) yang dimiliki seseorang. Pengertian ini mengalami perkembangan signifikan dengan munculnya pengertian menurut Gallup (2001) bahwa bakat merupakan pola pikir, perasaan dan perilaku yang berulang-ulang dan dapat meningkatkan produktivitas. Berdasarkan pengertian tersebut, maka bakat itu tidak hanya menyangkut kecakapan tertentu, tetapi juga berkaitan dengan adanya peran untuk mengembangkan. Dalam hal ini, minat menjadi faktor penting yang berfungsi sebagai nurture yang akan membantu pengembangan bakat tersebut. Minat merupakan suatu pemusatan perhatian secara tidak sengaja yang terlahir dengan penuh kemauan, rasa ketertarikan, keinginan, dan kesenangan. Ciri umum minat ialah adanya perhatian yang besar, memiliki harapan yang tinggi, berorientasi pada keberhasilan, mempunyai kebangggaan, kesediaan untuk berusaha dan mempunyai pertimbangan yang positif. Minat dapat dikatakan sebagai dorongan kuat bagi seseorang untuk melakukan segala sesuatu dalam mewujudkan pencapaian tujuan dan cita-cita yang menjadi keinginannya.&lt;br /&gt; Keberadaan minat merupakan faktor utama bagi pengembangan bakat karena tanpa minat, bakat tidak akan berdayaguna. Artinya, minat yang tinggi akan membuat kita mampu melakukan sesuatu sekalipun kita tidak berbakat, sebaliknya berbakat tanpa minat akan sulit mengembangkan bakat tersebut. Karena itu, ketika kita mengenali dan memahami bakat kita, tumbuhkanlah dan peliharalah minat kita agar bakat yang kita punya terjaga. Minat bisa diciptakan, tetapi bakat merupakan bawaan yang tidak bisa kita ciptakan dengan tiba-tiba. Semua orang bisa melakukan hal yang sama dengan kita, tetapi yang berbakat bisa menghasilkan kualitas yang lebih baik. Untuk memahami bakat dan minat memang bukan masalah gampang karena tidak hanya menyangkut masalah banyaknya teori dan tes untuk mengenali bakat dan mengukur minat kita.  Lebih dari itu, ada yang sangat penting untuk kita pahami yakni bagaimana mengembangkan bakat dan minat itu untuk sebuah prestasi kehidupan karena tidak semua orang mampu memaksimalkan bakatnya, sekalipun ia telah mengenali dan mengetahuinya.&lt;br /&gt; Untuk mengembangkan bakat dan minat, diperlukan beberapa faktor berikut. Pertama, stimulasi. Faktor stimulan bakat dan minat bisa internal atau eksternal. Stimulan yang utama ialah kesadaran akan potensi diri, belajar dan terus belajar, konsentrasi dan fokus dengan kemampuan atau kelebihan diri kita. Jangan selalu melihat kepada kelemahan, karena waktu kita akan terbuang, sehingga bakat pun ikut terpendam dan minat jadi “melempem”. Kedua, berusahalah untuk kreatif dengan mencari inspirasi dari mana saja dan dari siapa saja. Kreativitas akan menuntun jalan kita menuju pengenalan dan pemahaman bakat, menumbuhkembangkan minat, sehingga kita bisa mengembangkannya agar bermanfaat untuk hidup kita. Ketiga, peliharalah kejujuran dan ketulusan. Kita harus jujur mengakui bakat yang kita miliki sekalipun tidak begitu kita minati. Ketulusan mensyukuri bakat dapat menumbuhkan minat meskipun perlu proses dan waktu. Bakat alami itu akan tetap ada, bisa dikembangkan dan dimanfaatkan dengan meningkatkan kekuatan minat. Misalnya, kita semua bisa menulis, tetapi yang berbakat bisa menghasilkan tulisan yang lebih baik daripada yang lainnya. Ketika bakat itu disertai dengan minat yang kuat, maka bakat itu akan berkembang lebih pesat dan berkualitas. Bakat itu akan mengundang kerinduan untuk melakukannya kembali, seperti energi yang mensuplai kebutuhan.&lt;br /&gt; Tulisan ini merupakan motivasi bagi saya sendiri dan semoga bermanfaat bagi pembaca. Kita tidak bisa selalu menjadi apa yang kita inginkan, tetapi kita bisa menjadi diri yang lebih baik dari diri yang sekarang dengan mengembangkan bakat kita.  &lt;br /&gt;( Nurul Mardiyana , SPd.  Tentor Lembaga Psikologi Bina Kreatif )&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4214269774589169133-541159744904123850?l=binakreatif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://binakreatif.blogspot.com/feeds/541159744904123850/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4214269774589169133&amp;postID=541159744904123850' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4214269774589169133/posts/default/541159744904123850'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4214269774589169133/posts/default/541159744904123850'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://binakreatif.blogspot.com/2012/01/mengembangkan-potensi-dan-bakat-anak.html' title='MENGEMBANGKAN POTENSI DAN BAKAT ANAK'/><author><name>Kak Wien</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_IjcvEQdax7w/SVmhO3r18gI/AAAAAAAAAEE/mGgzTLHEGB8/S220/Poster+Kakwin.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/--dkT3HjptN4/TwMweO2-QFI/AAAAAAAAAX0/vao9GmJpbaA/s72-c/Siswa%2BSD%2B1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4214269774589169133.post-6054759621175455996</id><published>2011-08-08T16:42:00.002+07:00</published><updated>2011-08-08T16:53:28.764+07:00</updated><title type='text'>BERBAGI  ILMU  DAN  BER-INFAQ</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-IqSahubi-M8/Tj-xrm9l-4I/AAAAAAAAAXs/pUErGSFx9RU/s1600/BERBAGI%2BDAN%2BBERINFAQ.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 158px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-IqSahubi-M8/Tj-xrm9l-4I/AAAAAAAAAXs/pUErGSFx9RU/s200/BERBAGI%2BDAN%2BBERINFAQ.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5638420621242530690" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kepada Yth. &lt;br /&gt;Bapak / Ibu Saudara - saudaraku yang berbahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Assalamualaikum Wr wb&lt;br /&gt;	Semoga Rahmat dan Hidayah Alloh selalu menyertai kita semua amin. Di Bulan Yang Penuh Barokah ini Kami mengajak saudaraku untuk sama – sama berbagi pengetahuan sekaligus ber infaq.  Alhamdulillah Kami sedang membangun Sekolah Untuk Anak Berkebutuhan Khusus ( ABK )  di  Jl. Akar Wangi I no 10 Komplek Departement Pertanian  Citayam.  &lt;br /&gt;        Saat ini murid yang telah kami luluskan kurang lebih 40 siswa dengan berbagai kekurangan dan kelebihannya , dan saat ini yang bisa ditampung hanya 8 – 10 siswa karena keterbatasan sarana dan prasarananya. Dan masih puluhan anak yang menunggu  penanganan. Untuk itu saya mengajak saudaraku untuk berinfaq dan berbagi , Insyaalloh besarnya Rp 80.000,- + ongkos kirim Rp 10.000,-   lebih juga boleh . Infaq dari anda akan kami alokasikan untuk pembangunan sekolah ABK.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan Infaq  Rp 80. 000,-  anda kami beri &lt;br /&gt;•	Buku berjudul Parenting Revolution  		1 buku.&lt;br /&gt;•	Buku berjudul Smart Parenting 			1 buku&lt;br /&gt;•	Peraga Konsentrasi  “Binner Imajinative”		1 set&lt;br /&gt;•	DVD Seninar Parenting bersama Kak Wien	1  CD&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Infaq anda bisa ditransfer melalui  :&lt;br /&gt;BANK  BCA ,  BANK  MANDIRI  ,  DAN  BANK  BRI&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ingin transfer silahkan SMS  ke 08151853874  atau ke 085743328407   atau  phone  ke  021  87987089 &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;	&lt;br /&gt;       Kirimkan alamat lengkap anda beserta no telephone yang bisa kami hubungi. Semoga keikhlasan anda dibalas oleh Alloh Swt. Sebagai amal sholeh yang akan terus mengalir selama proses pembelajaran terus berlangsung. Amin ya rabbal’alamin.&lt;br /&gt;Jaza Kumulloh Khoiron katsiron. &lt;br /&gt;Wassalamualaikum wr  wb&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hormat kami, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Management  Bina Kreatif&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4214269774589169133-6054759621175455996?l=binakreatif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://binakreatif.blogspot.com/feeds/6054759621175455996/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4214269774589169133&amp;postID=6054759621175455996' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4214269774589169133/posts/default/6054759621175455996'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4214269774589169133/posts/default/6054759621175455996'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://binakreatif.blogspot.com/2011/08/berbagi-ilmu-dan-ber-infaq.html' title='BERBAGI  ILMU  DAN  BER-INFAQ'/><author><name>Kak Wien</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_IjcvEQdax7w/SVmhO3r18gI/AAAAAAAAAEE/mGgzTLHEGB8/S220/Poster+Kakwin.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-IqSahubi-M8/Tj-xrm9l-4I/AAAAAAAAAXs/pUErGSFx9RU/s72-c/BERBAGI%2BDAN%2BBERINFAQ.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4214269774589169133.post-8629692894871470401</id><published>2011-04-27T20:46:00.002+07:00</published><updated>2011-04-27T20:51:21.397+07:00</updated><title type='text'>RENUNGAN HARI INI</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-pHh2hmTgFSA/TbgfTTy5uTI/AAAAAAAAAXg/k66L2jmAF4U/s1600/anak60.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 152px; height: 110px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-pHh2hmTgFSA/TbgfTTy5uTI/AAAAAAAAAXg/k66L2jmAF4U/s200/anak60.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5600260553226959154" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;KISAH SAHABATKU&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dewi adalah sahabatku, ia adalah seorang mahasiswi yang pintar. Sejak masuk kampus, sikap dan konsep dirinya sudah jelas: meraih yg terbaik di bidang akademis maupun profesi yang akan digelutinya. ”Why not to be the best?,” itu mottonya.. bahkan Dewi dapat beasiswa untuk studi Hukum Internasional di luar negri.&lt;br /&gt;Setelah menyelesaikan kuliahnya, Dewi mendapat pendamping hidup yang ”selevel”; sama-sama berprestasi, meski berbeda profesi. Tak lama berselang lahirlah Bayu, buah cinta mereka, anak pertamanya tersebut lahir ketika Dewi diangkat manjadi staf diplomat, bertepatan dengan suaminya meraih PhD. Maka lengkaplah sudah kebahagiaan mereka.&lt;br /&gt;Ketika Bayu, berusia 6 bulan, kesibukan Dewi semakin menggila.., nyaris tiap hari ia terbang dari satu kota ke kota lain, dan dari satu negara ke negara lain. Sebagai seorang sahabat setulusnya aku pernah bertanya padanya, “Tidakkah si Bayu masih terlalu kecil utk ditinggal-tinggal oleh ibundanya?” Dengan sigap Dewi menjawab, “Oh, aku sudah mengantisipasi segala sesuatunya dgn sempurna”. “Everything is OK!, Don’t worry Everything is under control kok!” begitulah selalu ucapannya, penuh percaya diri.&lt;br /&gt;Ucapannya itu memang betul-betul ia buktikan. Perawatan anaknya, ditangani secara profesional oleh baby sitter termahal. Dewi tinggal mengontrol jadwal Bayu lewat telepon. Pada akhirnya Bayu tumbuh menjadi anak yg tampak lincah, cerdas mandiri dan mudah mengerti.&lt;br /&gt;Kakek-neneknya selalu memompakan kebanggaan kepada cucu semata wayang itu, tentang betapa hebatnya ibu-bapaknya. Tentang gelar Phd. dan nama besar, tentang naik pesawat terbang, dan uang yg berlimpah. “Contohlah ayah-bundamu Bayu, kalau Bayu besar nanti jadilah seperti Bunda”. Begitu selalu nenek Bayu, berpesan di akhir dongeng menjelang tidurnya.&lt;br /&gt;Ketika Bayu berusia 5 tahun, neneknya menyampaikan kepada Dewi kalau Bayu minta seorang adik utk bisa menjadi teman bermainnya di rumah apa bila ia merasa kesepian.&lt;br /&gt;Terkejut dengan permintaan tak terduga itu, Dewi dan suaminya kembali meminta pengertian anaknya. Kesibukan mereka blm memungkinkan utk menghadirkan seorang adik buat Bayu. Lagi-lagi bocah kecil inipun mau ”memahami” orangtuanya.&lt;br /&gt;Dengan bangga Dewi mengatakan bahwa kamu memang anak hebat, buktinya, kata Dewi, kamu tak lagi merengek minta adik. Bayu, tampaknya mewarisi karakter ibunya yg bukan perengek dan sangat mandiri. Meski kedua orangtuanya kerap pulang larut, ia jarang sekali ngambek. Bahkan, tutur Dewi padaku, Bayu selalu menyambut kedatangannya dgn penuh ceria. Maka, Dewi sering memanggilnya malaikat kecilku. Sungguh keluarga yg bahagia, pikirku. Meski kedua orangtuanya super sibuk, namun Bayu tetap tumbuh dgn penuh cinta dari orang tuanya. Diam-diam, aku jadi sangat iri pada keluarga ini.&lt;br /&gt;Suatu hari, menjelang Dewi berangkat ke kantor, entah mengapa Bayu menolak dimandikan oleh baby sitternya. Bayu ingin pagi ini dimandikan oleh Bundanya, “Bunda aku ingin mandi sama bunda…please…please bunda”, pinta Bayu dgn penuh harap.&lt;br /&gt;Karuan saja Dewi, yg detik demi detik waktunya sangat diperhitungkan merasa gusar dgn permintaan anaknya. Ia dgn tegas menolak permintaan Bayu, sambil tetap gesit berdandan dan mempersiapkan keperluan kantornya. Suaminya pun turut membujuk Bayu agar mau mandi dgn baby sitternya. Bayu dgn penuh pengertian mau menurutinya, meski wajahnya cemberut.&lt;br /&gt;Peristiwa ini terus berulang sampai hampir sepekan. “Bunda, mandikan aku!” Ayo dong bunda mandikan aku sekali ini saja…?”, kian lama suara Bayu semakin penuh tekanan. Tapi toh, Dewi dan suaminya berpikir, mungkin itu karena Bayu sedang dalam masa pra-sekolah, jadinya agak lebih minta perhatian. Setelah dibujuk-bujuk, akhirnya Bayu bisa ditinggal juga dan mandi bersama Mbanya.&lt;br /&gt;Sampai suatu sore, Dewi dikejutkan oleh telpon dari sang baby sitter, “Bu, hari ini Bayu panas tinggi dan kejang-kejang. Sekarang sedang diperiksa di Ruang Emergency”.&lt;br /&gt;Dewi, ketika diberi tahu soal Bayu, sedang meresmikan kantor barunya di Medan. Setelah tiba di Jakarta, Dewi langsung ngebut ke UGD. Tapi Sayang … terlambat sudah…Tuhan sudah punya rencana lain. Bayu, si malaikat kecil, keburu dipanggil pulang oleh Tuhannya.. Terlihat Dewi mengalami shock berat. Setibanya di rumah, satu-satunya keinginan dia adalah untuk memandikan putranya, setelah beberapa hari lalu Bayu mulai menuntut ia untuk memandikannya, Dewi pernah berjanji pada anaknya untuk suatu saat memandikannya sendiri jika ia tidak sedang ada urusan yg sangat penting.&lt;br /&gt;Dan siang itu, janji Dewi akhirnya terpenuhi juga, meskipun setelah tubuh si kecil terbujur kaku. Di tengah para tetangga yang sedang melayat, terdengar suara Dewi dengan nada yang bergetar berkata “Ini Bunda Nak…., hari ini Bunda mandikan Bayu ya…Sayang….! akhirnya Bunda penuhi juga janji Bunda ya Nak..”. Lalu segera saja satu demi satu orang-orang yang melayat dan berada di dekatnya tersebut berusaha untuk menyingkir dari sampingnya, sambil tak kuasa untuk menahan tangis mereka.&lt;br /&gt;Ketika tanah merah telah mengubur jasad si kecil, para pengiring jenazah masih berdiri mematung di sisi pusara sang Malaikat Kecil.. Berkali-kali Dewi, sahabatku yang tegar itu, berkata kepada rekan-rekan disekitarnya, “Inikan sudah takdir, ya kan..!” Sama saja, aku di sebelahnya ataupun di seberang lautan, kalau sudah saatnya di panggil, ya dia pergi juga, iya kan?”. Aku yang saat itu tepat berada di sampingnya diam saja. Seolah-olah Dewi tak merasa berduka dengan kepergian anaknya dan sepertinya ia juga tidak perlu hiburan dari orang lain.&lt;br /&gt;Sementara di sebelah kanannya, Suaminya berdiri mematung seperti tak bernyawa. Wajahnya pucat pasi dengan bibir bergetar tak kuasa menahan air mata yg mulai meleleh membasahi pipinya.&lt;br /&gt;Sambil menatap pusara anaknya, terdengar lagi suara Dewi berujar, “Inilah konsekuensi sebuah pilihan!”, lanjut Dewi, tetap mencoba untuk tegar dan kuat.&lt;br /&gt;Angin senja meniupkan aroma bunga kamboja yang menusuk hidung hingga ke tulang sumsum. Tak lama setelah itu tanpa diduga-duga tiba-tiba saja Dewi jatuh berlutut, lalu membantingkan dirinya ke tanah tepat di atas pusara anaknya sambil berteriak-teriak histeris. “Bayu maafkan Bunda ya sayang..!!, ampuni bundamu ya nak…? serunya berulang-ulang sambil membenturkan kepalanya ke tanah, dan segera terdengar tangis yang meledak-ledak dengan penuh berurai air mata membanjiri tanah pusara putra tercintanya yang kini telah pergi untuk selama-lamanya. Sepanjang persahabatan kami, rasanya baru kali ini aku menyaksikan Dewi menangis dengan histeris seperti ini.&lt;br /&gt;Lalu terdengar lagi Dewi berteriak-teriak histeris. “Bangunlah Bayu sayangku….Bangun Bayu cintaku, ayo bangun nak…..?!?”, pintanya berulang-ulang, “Bunda mau mandikan kamu Sayang…. Tolong beri kesempatan Bunda sekali saja Nak…. Sekali ini saja, Bayu.. anakku…?”. Dewi merintih mengiba-iba sambil kembali membenturkan kepalanya berkali-kali ke tanah lalu ia peluki dan ciumi pusara anaknya bak orang yg sudah hilang ingatan. Air matanya mengalir semakin deras membanjiri tanah merah yg menaungi jasad Bayu.&lt;br /&gt;Senja semakin senyap, aroma bunga kamboja semakin tercium kuat menusuk hidung membuat seluruh bulu kuduk kami berdiri menyaksikan peristiwa yang menyayat hati ini… Tapi apa hendak dikata, nasi sudah menjadi bubur. Bayu tidak pernah mengetahui bagaimana rasanya dimandikan oleh orang tuanya karena mereka merasa bahwa banyak hal yang jauh lebih penting dari pada hanya sekedar memandikan seorang anak.&lt;br /&gt;Semoga kisah ini bisa menjadi pelajaran berharga bagi kita semua para orang tua yang sering merasa hebat dan penting dengan segala kesibukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~~~000~~~&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4214269774589169133-8629692894871470401?l=binakreatif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://binakreatif.blogspot.com/feeds/8629692894871470401/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4214269774589169133&amp;postID=8629692894871470401' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4214269774589169133/posts/default/8629692894871470401'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4214269774589169133/posts/default/8629692894871470401'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://binakreatif.blogspot.com/2011/04/renungan-hari-ini.html' title='RENUNGAN HARI INI'/><author><name>Kak Wien</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_IjcvEQdax7w/SVmhO3r18gI/AAAAAAAAAEE/mGgzTLHEGB8/S220/Poster+Kakwin.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-pHh2hmTgFSA/TbgfTTy5uTI/AAAAAAAAAXg/k66L2jmAF4U/s72-c/anak60.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4214269774589169133.post-2045899235096692978</id><published>2011-01-04T09:14:00.002+07:00</published><updated>2011-01-04T09:24:06.684+07:00</updated><title type='text'>Bina Kreatif Talk About........</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_IjcvEQdax7w/TSKErFKXb7I/AAAAAAAAAXM/VozfE3cgHhM/s1600/YK21.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 112px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_IjcvEQdax7w/TSKErFKXb7I/AAAAAAAAAXM/VozfE3cgHhM/s200/YK21.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5558150765783510962" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;BINA KREATIF  talk about………………….. “ PRE TEEN”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;MAMA….PAPA….&lt;br /&gt;AKU UDAH GEDE……..!!&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Dalam  hampir di setiap pertemuan Parenting Course yang kami adakan dengan pihak sekolah yang menjadi member  kami, banyak dijumpai orang tua yang mengeluhkan tentang anaknya yang  berusia 10 tahun keatas. Dalam satu kasus pernah seorang ibu merasa bingung dengan perubahan sikap anaknya yang berbalik 180 derajat. “ Anak saya dulunya sangat penurut, tidak banyak tingkah, dan tidak punya masalah disekolah. Awalnya saya pikir ia stress menghadapi pelajaran sekolah, tetapi prestasinya baik – baik saja tuh…..guru disekolah juga tidak mengeluh tentang  sikapnya disekolah. Tapi kenapa ya akhir – akhir ini ia terlihat agak pendiam dirumah, dan kalau adik atau kakaknya menggoda sedikit saja ia sudah menunjukkan marah yang luar biasa.emosinya meledak- ledak….ada apa ya?”&lt;br /&gt;     Ayah……Ibu……. menjadi orang tua adalah sebuah kehormatan yang luar biasa yang telah diberikan Tuhan pada kita. Sebuah tugas mengemban amanah yang penuh dengan tantangan yang ternyata bisa menakutkan bagi kita.  Bagaimana tidak? “ Tugas” ini memberikan banyak sekali kejutan yang mungkin tidak pernah kita alami atau tidak pernah kita bayangkan sebelumnya dan mungkin saja tidak akan kita jumpai lagi dimasa yang akan datang. Dulu kita pernah berpikir akan menjadi orang tua yang sempurna bagi anak kita. Namun apa yang terjadi…? Ketika anak – anak bertambah usia dan memasuki fase yang berbeda, banyak orang tua yang kalang kabut bak orang kebakaran jenggot menghadapi segala tingkah polah anaknya yang sungguh diluar dugaan. &lt;br /&gt;Ayah…Ibu…. Dalam rentang usia 9 - 11 tahun adalah awal dimulainya masa pra pubertas. Batasan usia ini bervariasi pada setiap tempat dan kondisi. Ada yang mengalami lebih cepat atau bahkan lebih lambat. Pada masa ini dalam diri anak mulai terjadi transisi dari masa kanak- kanak ke masa remaja.&lt;br /&gt;     Setiap orang tua pasti menginginkan segala sesuatunya berjalan stabil, oleh karena itulah perubahan yang terjadi pada anak prapubertas terkadang menimbulkan goncangan yang membuat segalanya kacau balau. Jika diibaratkan masa kanak- kanak adalah sebuah pelabuhan maka anak kita bagai kapal yang tertambat dengan aman didalamnya. Ia terawat dengan baik, segala keinginannya terpenuhi, berlabuh di air yang tenang. Selama masa tenang itulah ia mendapat berbagai macam “ilmu berlayar” seperti bagaimana mengendalikan kemudi, membentangkan layar, menghadapi badai, dll.  Namun ketika jangkar diangkat, sang kapal harus siap berhadapan dengan samudera luas yang penuh dengan tantangan. Demikian halnya dengan anak – anak kita, dengan bertambahnya usia semakin banyak ilmu yang diperoleh baik itu dari sekolah, teman, televisi atau bahkan internet. Dan yang harus dicatat dan diperhatikan oleh para orang tua adalah kenyataan bahwa anak mulai sadar bahwa orang tuanya bukanlah sosok  sempurna dimata mereka. Jadi jangan heran jika anak kita jadi lebih sering membantah kata – kata kita. “ Enggak gitu pa………., kata ayahnya Andi kan gini….gini…gini……..” dengan semangat menjelaskan argumentasinya tanpa menghiraukan kita sebagai orang tua yang merasa sudah kalah saing dengan orang lain. Lantas bagaimana ya menghadapi anak di usia – usia ini?&lt;br /&gt;     Masa prapubertas sebenarnya bukanlah masa paling penting dalam siklus perkembangan anak  namun  bisa jadi masa – masa yang menyulitkan bagi orang tua dan anak. Yang paling bertanggung jawab terhadap perubahan tersebut adalah hadirnya HORMON PERKEMBANGAN. Kehadiran hormon ini menyebabkan perkembangan diberbagai aspek kehidupan anak. Mulai dari fisik, seksual, psikis, intelektual maupun moral. Kehadiran hormon Estrogen contohnya, membuat payudara anak perempuan membesar dan kadang merasa sakit, pinggul juga mengembang, dan muncul rambut di ketiak. Hal ini tentunya membuat anak merasa tidak nyaman dan seringkali merasa malu. Belum lagi tidak lama setelah ini anak perempuan mulai mengalami menstruasi dan  muka mulai jerawatan.  Atau mulai bekerjanya hormone Testoteron yang membuat perubahan pada anak laki-laki, suaranya mulai berubah begitu pula alat kelaminnya. Muka mulai ditumbuhi kumis tipis diwajahnya atau seperti pada perempuan mulai timbul jerawat, mulai ditumbuhi rambut di beberapa bagian tubuh. Hal yang paling membingungkan bagi anak apalagi jika orang tua tidak cukup membekali  anak dengan pengetahuan seks sejak dini.  &lt;br /&gt;     Bekerjanya hormone perkembangan ini pula yang harus bertanggung jawab terhadap perubahan mood pada anak. Emosi bisa naik dan turun tidak menentu. Kondisi  inilah yang menyebabkan anak – anak menjadi gelisah, bingung, cemas, gundah,takut, dan berbagai perasaan lainnya. Anak mungkin menjaga jarak dengan orang tuanya dan lebih banyak menghabiskan waktu dengan teman sebaya. Mungkin saja ini disebabkan karena teman sebaya juga mengalami hal yang sama sehingga ia merasa memiliki teman senasib sepenanggungan yang bisa diajak bicara. &lt;br /&gt;     Ayah… Ibu…. saingan kita sebagai orang tua disekitar anak sangat banyak lho…. Mulai dari teman – teman sebaya anak, televisi, game/PS, Internet, majalah,dan masih banyak lagi. Apakah kita rela membiarkan anak lebih asyik chatting dengan teman dari dunia maya dan malah cuek dengan kehadiran kita didekatnya?   Akses pertemanan mulai merajalela melalui FaceBook sementara orang tua malah buta sama sekali dengan internet. Anak yang haus dengan keingin tahuan yang dalam mengenai seks  pada akhirnya lebih memilih mencari informasi melalui orang lain atau situs – situs porno daripada melalui orang tuanya sendiri karena belum apa – apa orang tua sudah menutup rapat akses tersebut.  Banyak orang tua yang apabila anaknya bertanya tentang masalah seks malah menghindar dengan alasan tabu atau risih membicarakannya. Kalau anak bertanya “Ma….kenapa ya burungku ( maaf, maksudnya penis) jadi membesar kalau dipegang?” bukannya menjawab secara ilmiah malah mengalihkan   “Hus….kecil – kecil ngomong jorok, udah ntar juga kamu tahu.” Akibatnya anak jadi malas bertanya pada kita. ”Toh ntar aku dianggap masih anak kecil dan malu – maluin.” Maka hilanglah kesempatan emas  kita untuk  berkomunikasi dengan anak. Dampak lainnya , anak jadi punya pandangan negatif mengenai seks. Padahal informasi tentang seks yang diterima anak melalui orang lain atau  media informatika belum tentu dapat dipertanggung jawabkan secara moral. Apalagi dunia hiburan cenderung mengidentifikasikan seks secara vulgar dan dekat dengan hal- hal yang diharamkan agama. Seandainya saja orang tua bisa mengkomunikasikan pengetahuan tentang seks secara ilmiah, banyak sekali keuntungan yang didapatkan anak antara lain anak punya pandangan positif mengenai seks, anak lebih menghargai dirinya, bisa menjaga diri dan kehormatannya dan menganggap cinta dan kasih sayang adalah mukjizat dan keagungan Tuhan yang patut disyukuri. Toh berbicara seks tidak hanya sebatas urusan pemuasan nafsu biologis semata, tapi bagaimana cara kita menghargai diri sendiri dan orang lain, bagaimana memperlakukan lawan jenis, bagaimana cara kita mengungkapkan kasih sayang, memahami perubahan – perubahan yang terjadi pada tubuh, memahami bagaimana siklus hidup manusia dari hanya setetes mani sampai berbentuk sempurna, dan banyak lagi hal yang bisa diangkat dari pokok bahasan ini. Bukankah kita bisa mengaitkan semua itu dengan Keagungan dan Kebesaran Tuhan.&lt;br /&gt;     Masa pra pubertas juga ditandai dengan munculnya privasi anak. Anak sudah tidak mau terlalu dicampuri urusannya oleh orang tua. Ia ingin membuktikan bahwa dirinya sanggup menyelesaikan masalahnya sendiri. Tidak usah heran jika ada anak yang begitu kesal kalau orang tua mulai melancarkan “ interogasi” layaknya seorang polisi. Maksudnya memang bener sih……, untuk mengontrol kegiatan anak. Tapi kalau caranya salah, anak bukannya dekat dengan orang tua tapi malah menjauhi. Mereka lebih senang main rahasia dibelakang kita. Main rahasia saat naksir lawan jenis, rahasia waktu pertama kali nyoba ngerokok, rahasia punya pacar sampai harus backstreet, tapi jangan sampai rahasia nyoba narkoba atau pergaulan bebas  ya….. naudzubillahi min dzalik!!!&lt;br /&gt;     Kehadiran sosok idola makin mewarnai kehidupan anak diusia pra pubertas.  Anak mulai mencari figure lain yang dianggap mampu mengisi kekurangan yang tidak ia dapatkan dan miliki. Ingat…… anak sudah merasa orang tua bukan sosok sempurna melainkan manusia biasa yang penuh kekurangan sama dengan dirinya. Sosok idola ini mungkin belum sampai pada aktor/aktris, penyanyi atau pahlawan nasional, tetapi sosok ini biasanya yang paling dekat dan sering berinteraksi dengan anak selain orang tuanya. Beberapa anak yang kami survey menyebutkan sosok itu bisa saja om,tante,guru sekolah,guru privat, guru music, pelatih olah raganya, dsb. Alasannya juga masih sangat sederhana, figure ini dianggap “penuh perhatian dan baik hati.”  Lho…….bukannya ayah ibu malah lebih perhatian?  Dengan lugunya mereka menjawab, “ abis aku sering dimarahin sih, mama bawaannya curiga melulu, nanya melulu, aku kan bukan anak kecil lagi, aku udah gede……..” &lt;br /&gt;     Disinilah peran orang tua sebagai sahabat dibutuhkan untuk memberikan penjelasan kepada anak dan mengarahkan anak kepada hal – hal yang positif. Sahabat itu bukan orang yang kerjanya men-justice dan ngomel sepanjang hari mengomentari kekurangan anak lho..! tetapi  sosok yang bisa menjadi pelabuhan bagi anak saat ia lelah mengarungi samudera kehidupan yang luas ini, bisa memberikan ketenangan disaat ia bingung dengan goncangan – goncangan kehidupan dan bisa memuaskan dahaganya atas keingin tahuan yang besar atas kehidupan ini.&lt;br /&gt;     Kebanyakan problem mendasar bagi orang tua dalam menghadapi anak pra pubertas adalah kurangnya waktu untuk berkomunikasi dan bagaimana cara berkomunikasi yang paling efektif. Yang harus diigat bahwa komunikasi tersebut harus bisa menghargai posisi anak sebagai subyek bukan hanya sekedar obyek. Komunikasi yang sehat harus berjalan dua arah, artinya anak pun punya kesempatan yang sama untuk mengungkapkan pendapatnya. Bagi yang pernah punya pengalaman masa kecil dengan orang tua otoriter sangat tidak menyenangkan bukan? Kalau kita mengeluarkan pendapat sedikit saja, sudah dianggap ngelawan orang tua, dianggap anak durhaka, waduh…gawat. Tapi itu dulu…….!  Kalau saat ini kita nekat menerapkan  pola asuh warisan leluhur, wah……..bisa- bisa kita jadi musuh nomor 1 anak. Oleh karena itu tidak salah kata – kata bijak yang mengatakan  “Didiklah anakmu sesuai dengan jamannya”. Nah sekarang jamannya komunikasi tanpa batas, jadi… ya orang tua harus bisa bersaing dengan tv,internet, dan media komunikasi lainnya. Kalau dulu hiburan cuma TVRI sekarang beratus – ratus chanel bisa dijelajahi anak. Kalau dulu kita harus keluar rumah untuk mendapat teman, sekarang anak tinggal duduk manis dikamar dan asyik dengan FaceBooknya. &lt;br /&gt;     Bagaimana ayah…ibu….apakah anda siap menjalin komunikasi dengan anak anda sebelum segalanya menjadi terlambat?&lt;br /&gt;Beberapa tips yang bisa diterapkan orang tua dalam menghadapi anak di masa pra pubertas:&lt;br /&gt;     1. Terima anak apa adanya dan bersyukur atas kelebihan dan kekurangan anak kita. Jangan sekali – kali menginginkan anak kita seperti kita dahulu atau seperti anak lain. Misalnya mentang – mentang sang Bunda dulunya suka gaul lantas memaksakan anaknya yang orang rumahan harus bisa seperti sang Bunda. Atau melihat tetangga yang anaknya berprestasi bidang akademis, kita memaksakan anak untuk bisa rangking satu di kelas. Dengan menerima anak apa adanya maka anak akan merasa dihargai sebagai sosok individu, merasa dihormati dan merasa istimewa. Bantu anak menghadapi kelemahannya dan mendorong potensi/kelebihan yang dimilikinya.&lt;br /&gt;     2. Jalin komunikasi yang sehat secara terus menerus. Ingat…! Jangan bersikap seperti polisi yang sedang menginterogasi dan memposisikan anak seperti obyek pesakitan tetapi posisikan anak sebagai subyek yang bisa juga mengemukakan pendapat. Hilangkan anggapan anak suka melawan ortu dsb. Anak tidak bermaksud merendahkan orang tuanya kok, tetapi hanya ingin menyuarakan pendapatnya saja. Hal ini tentu tidak akan menghilangkan wibawa orang tua dimata anak.&lt;br /&gt;     3. Hormati privasi anak. Biar bagaimanapun anak sudah merasa sebagai individu yang mandiri.  Jika orang tua terus menerus ingin turut campur dalam privasi anak bukan tidak mungkin hal ini malah akan mengikis jiwa mandirinya. Dalam hal ini orang tua hanya bisa memberi pendapat tanpa intervensi terlalu jauh. Jangan buru – buru menganggap anak telah menolak kehadiran anda atau menghiraukan anda, mereka hanya butuh sedikit ruang untuk menemukan jati dirinya.&lt;br /&gt;     4. Bantu anak untuk memahami suatu kondisi. Berikan pandangan positif atau negatif tentang suatu hal sehingga anak melatih diri untuk bisa melihat masalah dari dua sisi yang berbeda dan mampu mengambil keputusan yang terbaik terhadap suatu masalah.&lt;br /&gt;     5. Hormati segala keputusan dan tindakan yang diambil anak apapun hasilnya. Hal ini akan melatih tanggung jawab atas resiko yang muncul dari tindakannya. Jika ia melakukan kesalahan jangan buru - buru ber”negative thinking” dan menghukumnya. Bukankah pengalaman adalah guru yang terbaik.&lt;br /&gt;     6. Penuhi rasa ingin tahunya seputar pendidikan seks semenjak dini. Pengetahuan seks yang diberikan secara benar dan ilmiah akan jauh dari kesan vulgar kok. Jadi jangan ragu memberi informasi seputar seks kepada anak anda sesuai dengan tingkat usia dan perkembangan daya nalarnya.&lt;br /&gt;     Ayah……Ibu…… dalam menjalankan peran kita sebagai orang tua mungkin kita tidak akan menjadi orang tua yang sempurna, tapi kita bisa menjadi orang tua yang baik dan bahkan menjadi orang tua hebat yang suatu saat nanti bisa dibanggakan anak. Untuk itu setiap orang tua perlu menerapkan hal mendasar dan utama yaitu mendidik dengan kasih sayang, menyediakan cukup waktu untuk berkomunikasi, jadilah sahabat terbaik bagi anak dan rasa percaya diri yang kuat untuk bisa mendampingi anak di setiap fase perkembangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bina Kreatif , Januari 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4214269774589169133-2045899235096692978?l=binakreatif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://binakreatif.blogspot.com/feeds/2045899235096692978/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4214269774589169133&amp;postID=2045899235096692978' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4214269774589169133/posts/default/2045899235096692978'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4214269774589169133/posts/default/2045899235096692978'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://binakreatif.blogspot.com/2011/01/bina-kreatif-talk-about.html' title='Bina Kreatif Talk About........'/><author><name>Kak Wien</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_IjcvEQdax7w/SVmhO3r18gI/AAAAAAAAAEE/mGgzTLHEGB8/S220/Poster+Kakwin.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_IjcvEQdax7w/TSKErFKXb7I/AAAAAAAAAXM/VozfE3cgHhM/s72-c/YK21.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4214269774589169133.post-7055241043335127303</id><published>2010-11-11T05:29:00.002+07:00</published><updated>2010-11-11T05:33:40.942+07:00</updated><title type='text'>Bina Kreatif Talk About........</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_IjcvEQdax7w/TNsdtDhoBLI/AAAAAAAAAW4/J0Yfewb42vw/s1600/jujur%2B5.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 277px; height: 315px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_IjcvEQdax7w/TNsdtDhoBLI/AAAAAAAAAW4/J0Yfewb42vw/s320/jujur%2B5.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5538052826659816626" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;LIMA  PERINGKAT PERMASALAHAN SEPUTAR ANAK&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dari data survey ada lima permasalahan yang masih selalu mendominasi  dan banyak terjadi pada sebagian anak Indonesia , hal ini yang mengakibatkan emosi kita sebagai orang tua meningkat. Apasaja problematika itu :&lt;br /&gt;1. Anak suka membantah “Ngeyel”&lt;br /&gt;Apa yang menyebabkan anak suka membantah , slah satu penyebabnya adalah anak kita memmiliki  kecerdasan mengungkapkan “ IQ verbal”  lebih tinggi dan anak – anak sekarang memang kategorinya lebih cerdas pendukungnya antara lain :&lt;br /&gt;• Orang tua cenderung memberikan nutrisi untuk anak lebih baik sehingga perkembangan otak anak jadi lebih optimal&lt;br /&gt;• Taraf pendidikan orang tua yang makin meningkat , sehingga akan memberikan pendidikan yang terbaik pila untuk anak – anak nya.&lt;br /&gt;• Fasilitas yang makin lengkap sehingga kebutuhan peralatan yang menunjang kecerdasan anak makin beragam, mulai dari tool untuk kecerdasan , computer edukasi , dan program program belajar denga multi media yang membuat anak makin cepat berkembang.&lt;br /&gt;• Informasi yang makin banyak diperoleh anak – anak, sehingga anak – anak jaman sekarang cenderung mendapatkan informasi yang lebih banyak. Seperti informasi dari media TV , media elektronik seperti Internet , media cetak dan sebagainya. Termasuk buku buku penunjang perkembangan kecerdasan semakin mudah didapat anak.&lt;br /&gt;2. Kakak dan Adik sering ribut.&lt;br /&gt;Banyak hal yang mendasari kenapa kakak dan adik semakin sering ribut.  Salah satu penyebabnya adalah  cara penanganan terhadap anak sering tidak optimal, hal ini juga sangat terkait pemahaman perkembanagan psikologis  terhadap anak mulai menurun , salah satu contoh hal yang paling sering kita lakukan yaitu dengan membanding – bandingkan antara kakak dan adaik, padahal antara kakak dan adik memiliki karakter dan kecerdasan yang berbeda , atau kita menganggap bawa anak yang besar harus lebih mengerti dan memahami yang pada akhirnya kita sering memaksa anak yabng besar untuk serimng mengalah dengan adiknya. Hal inilah yang memicu kakak dan adik sering bertengkar , rebut . belum lagi masalah berbagi perhatian sering yang besar mulai kurang perhatian, ya..sudah barang tentu hal itu juga memicu pertengkaran kakak dan adik.&lt;br /&gt;3. Mudah marah kalau keinginannya tak terpenuhi.&lt;br /&gt;Fase anak – anak  memang paling banyak mengalami fase egosentris, fase dimana anak lebih mengedepankan egoism. Hal ini tentunya sangat terkai dengan pola asuh yang diterapkan dalam keluarga. Bisa jadi dalam pola asuh yang diterapkan terhadap anak ada “DUalisme” yang membingungkan anak .  Kadang – kadang orang tua cenderung menuruti / mengikuti keinginan anak. Semakin dituruti semakin egois, nah..kalau sudah begini pasti lebih sulit anak diarahkan. Akhirnya sebagian besar para orang tua menghadapi permasalahan seperti ini dengan emosi  atau mengambil langkah pintas dengan memarahi anak…Padahal itu cenderung memunculkan konflik yang lebih panjang. Dan kita sebagai orang tua sering terpancing mengikuti emosi anak. &lt;br /&gt;4. Sulit Berkonsentrasi dalam belajar.&lt;br /&gt;Coba anda perhatikan berapa jam anak kuat dudsuk didepan televise dengan film – film anak, berapa jam anak mampu duduk didepan computer untuk bermain gemes atau  berapa jam anak duduk bermain play station?????? Selanjutnya kita perhatikan belajarnya, Berapa jam anak kita sanggup belajar ????. Hal inilah yang akhirnya membuat pola piker anak tidak seimbang , Inilah yang disebut dengan konsentrasi imajinasi yang cenderung lebih dominan dari pada konsentrasi belajar yang semakin minim.&lt;br /&gt;5. Merengek kalau meminta sesuatu.&lt;br /&gt;Sebagian besar aanak merengek karena  meliahat teman lain , anak sering memperhatikan anak lain ketika meminta sesuatu ke orang tuanya sambil merengek kadang menari – narik rok /baju mamanya atau dengan menagis sambil terus memberontak supaya keinginannya terpenuhi. Dari melihat kebiasaan anak lain itu si anak ingin mempraktekkan. Ia akan mencoba apa yang dilihatnya. Dan ternyata denga menagis , merengek anak dapat perhatian, dan keinginannya terpenuhi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana Solusinya????&lt;br /&gt;Ada orang tua murid di salah satu Sekolah taman kanak – kanak , pernah mengeluhkan perilaku anak  bungsunya yang susah diatur, kalau marah sampai membanting atau melempar barang – barang didekatnya , bahkan tak jarang sampai memukul ibunya sendiri. Sampai suatu hari bertemu dengan saya di acara “Smart Parenting”  dengan tema  tiga jurus mendisiplinkan anak. Setelah  selang waktu dua muinggu dari acara tersebut, ada SMS masuk ke nomor saya  bertuliskan : “Pak Win Saya bersyukur mengikuti seminar kemarin dan setelah saya terapkan , Alhamdulillah anak saya mulai banyak perubahan perilakunya. Terimakasih atas ilmu dan pencerahannya, dari orang tua ARK.” Apa sih tips – tipsnya :&lt;br /&gt;1. “Focus Perhatian”&lt;br /&gt;Kalau kita menyuruh  atau memerintahkan sesuatu terhadap anak kita ( menyuruh mandi , belajar, tidur , danlain lainnya )  Jangan meninggalkan  anak sampai anak melakukan apa yang kita suruh. Kalau  banyak alas an bisa dilakukan dengan menghitung nya : “ satu….., dua……, tiga!!!. Selanjutnya lakukan apa yang anda perintahkan pada anak. Ingat jangan terpengaruh emosi anak.&lt;br /&gt;2. “Call Me”&lt;br /&gt;Biasanya kita kalau memanggil anak – anak sebagian besar untuk kita perintah. Nak… pulang sudah sore , cepat mandi.  Nak … belajar , kerjakan PR nya!!! Dan lain – lain. Nah cobalah mulai sekarang lebih sering memanggil anak tetapi  bukan untuk diperintah … Melainkan untuk  dipeluk, disayang dan dicium. Katakana pada anak anda misalnya : “ Mas…. Mama sayang…banget ( sambil memeluk dan mencium  anak anda ).” Coba perhatikan … pasti banyak perubahan pada anak – anak kita.&lt;br /&gt;3. Teori  Hand Phone&lt;br /&gt;Kalau kita menerima panggilan telepon pertama kita lihat siapa yang menghubungi kita, selanjutnya anda berbicara sesuai intonasi dengan siapa anda berbicara sambil anda tempelkan di telinga. Nah terhadap anak – anak kita kalau kita ingin menasihati atau memberikan penegasan terhadap anak – anak kita, pertama Tatap wajah anak kita ( dengan kontak mata) selanjutnya intonasikan perintah anda, misal : “ Kakak….Mama tidak suka yang seperti itu!!!”   langkah selanjutnya memeluk anak. Disinilah peran kita sebagai orang tua..kalau marah atau menegaskan itu artinya sayang.&lt;br /&gt;Tiga tips diatas efektif anda lakukan sampai usia anak – anak anda memasuki usia 10 Tahun. Kalau lebih dari sepuluh tahan metodenya dirubah dengan  pendekatan personal.&lt;br /&gt;Bagai mana kalau Kakak dan Adik sering bertengkar ????&lt;br /&gt;• Langkah  pertama : Kalau anda tahu yang alah kakaknya… silahkan anda privasikan dia dikamar misalnya , lalu anda nasihati. Ingat usahakan jangan didepan adiknya.&lt;br /&gt;• Langkah kedua : Kalau yang salah adiknya. Maka anda dudukkan anak bersama anda , diamkan dan dekap erat sampai emosinya mereda. Selanjutnya anda nasehati anak dengan intonasi yang tegas tetapi bukan intonasi marah.&lt;br /&gt;• Langkah ketiga : Kalau anda tidak tahu mana yang salah, siapa yang memulai terlebih dahulu…. Maka yang lebih aman , mengulang seperti langkah kesatu. Berikan perhatian penuh pada kakak , sehingga si Kakak tetap nyaman.&lt;br /&gt;Lakukan tips dan langkah – langkah tersebut diatas selanjutnya amati perubahannya. Sekali lagi dalam proses perubahan itu memerlukan waktu, tidak ada yang instant.&lt;br /&gt;Semoga bermanfaat.&lt;br /&gt;Bina Kreatif Nov 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4214269774589169133-7055241043335127303?l=binakreatif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://binakreatif.blogspot.com/feeds/7055241043335127303/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4214269774589169133&amp;postID=7055241043335127303' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4214269774589169133/posts/default/7055241043335127303'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4214269774589169133/posts/default/7055241043335127303'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://binakreatif.blogspot.com/2010/11/bina-kreatif-talk-about.html' title='Bina Kreatif Talk About........'/><author><name>Kak Wien</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_IjcvEQdax7w/SVmhO3r18gI/AAAAAAAAAEE/mGgzTLHEGB8/S220/Poster+Kakwin.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_IjcvEQdax7w/TNsdtDhoBLI/AAAAAAAAAW4/J0Yfewb42vw/s72-c/jujur%2B5.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4214269774589169133.post-171986339647887231</id><published>2010-10-25T17:00:00.003+07:00</published><updated>2010-10-25T17:10:45.302+07:00</updated><title type='text'>BINA KREATIF TALK  ABOUT............</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_IjcvEQdax7w/TMVWOpS2ejI/AAAAAAAAAWw/V5t-Zns5qxY/s1600/jujur+2.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 140px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_IjcvEQdax7w/TMVWOpS2ejI/AAAAAAAAAWw/V5t-Zns5qxY/s320/jujur+2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5531922526897601074" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;MAMA … AKU NGGAK MAU BELAJAR ,  AKU CAPEK…&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(85 % anak di Indonesia memiliki short term Memory)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;     Para orang tua dan guru yang berbahagia, suatu hari saya pernah diminta menjadi pembicara oleh salah satu pengelola TK yang ingin menyelenggarakan program parenting  kepada para orangtua muridnya. Tema yang diambilnya waktu itu ada CALISTUNG kependekan dari Baca, Tulis dan Hitung. Saya bertnya pada penyelenggara, apa yang diharapkan dari saya melalui tema ini?&lt;br /&gt;     Begini, kami ingin memberikan pemahaman pada para orang tua bahwa di sekolah ini, kami belum mengajarkan Baca, Tulis dan hitung kepada anak di usia yang sangat dini. Namun masalahnya, para orangtua tetap saja ngotot dan terus meminta anaknya agar diajari Baca, Tulis dan Hitung.&lt;br /&gt;     Kemudian saya bertanya lagi, “apa alasan para orang tua meminta anaknya diajari Baca, Tulis dan hitung?”&lt;br /&gt;     Karena hampir semua sekolah dasar mewajibkan anak kelas 1 yang baru mendaftar harus sudah bias Baca, Tulis dan hitung.&lt;br /&gt;     Para orangtua dan guru yang berbahagia, saya tidak pernah lupa kejadian ini. Saya juga heran dari mana asal-usulnya, mengapa setiap sekolah dasar mewajibkan siswa baru kelas satunya bisa CALISTUNG. Padahal jika kita bandingkan dengan pendidikan - pendidikan anak usia dini yang ada di Negara - negara maju, sama sekali tidak ada kewajiban semacam ini. Program untuk anak usia dini mayoritas adalah bermain. Karena bermain, bagi anak-anak, sama dengan belajar. Mereka baru diperkenalkan Baca, Tulis dan Hitung pada kelas tiga sekolah dasar (Elementary).&lt;br /&gt;     Secara ilmiah, baru-baru ini saya membaca bahwa anak usia dini baru bisa memfokuskan organ visualnya pada objek tiga dimensi, oleh karenanya, alat-alat pembelajaran anak usia dini  yang baik adalah berbentuk tiga dimensi. Apabila anak usia dini dipaksa untuk belajar CALISTUNG yang pada umumnya menggunakan objek dua dimensi atau tulisan di papan tulis, maka si anak akan mengalami gangguan organ visual pada usia yang lebih muda.&lt;br /&gt;     Para orang tua dan guru yang berbahagia , tahukah anda mengapa sekolah-sekolah yang ada di Negara maju tidak menekankan pada aspek Baca, Tulis dan Hitung, melainkan lebih menekankan pada aspek pengembangan kreativitas dan kemampuan berpikir / nalar anak?&lt;br /&gt;     Menurut penelitian ilmiah, secara global kemampuan otak manusia  yang berkaitan dengan pembelajaran terbagi menjadi tiga hal besar. Pertama adalah kemampuan kreatif,  kedua adalah kemampuan berfikir / nalar, dan ketiga adalah kemampuan mengingat.&lt;br /&gt;     Dari ketiga kemampuan ini, kemampuan mengingat merupakan kemampuan alami yang berifat pelengkap, sementara kemampuan kreatif dan berfikir mrupakan kemampuan utama dan vital yang akan membantu anak untuk mencapai sukses di kehidupannya kelak.&lt;br /&gt;Keberhasilan hidup seseorang lebih banyak ditentukan oleh kemampuan kreatif dan berfikirnya ketimbang kemampuan mengingatnya, atau dengan kata lain kemampuan mengingat (short term memory) hanya sebagai pelengkap saja.&lt;br /&gt;     Namun sayangnya, yang terjadi pada system pendidikan kita malah sebaliknya. Sejak usia dini anak-anak sudah dipaksa untuk bisa CALISTUNG, yang sesungguhnya hanyalah sebuah proses untuk mngembangkan kemampuan mengingat jangka pendek anak (Short Term Memory Learning).&lt;br /&gt;     Ternyata proses ini tidak hanya berhenti di suia dini saja, namun hingga dewasa mereka terus diajar dan diuji berdasarkan kemampuan mengingatnya dan bukan kemampuan kreatif atau nalarnya.&lt;br /&gt;     Para orangtua dan guru yang berbahagia, berikut ini adalah salah satu contoh pertanyaan yang dulu pernah diujikan pada saat kita masih bersekolah. &lt;br /&gt;Apa yang terjadi antara 1825 s.d. 1830 ? Masih ingat pelajaran sejarah ? ya, pasti jawabannya adalah perang diponegoro. Para orangtua dan guru yang berbahagia, sementara saya pernah tanyakan pertanyaan yang sama pada anak-anak TK.&lt;br /&gt;“Nak,  siapa yang tahu apa yang terjadi antara 18.25 s.d. 18.30 ? Tiba-tiba seorang anak berteriak,” saya tahu!  Saya tahu! Itu waktunya Film Ipindan Upin. “ Bagaimana menurut anda,  salahkan jawaban anak ini? Tentu saja jika ini menjawab untuk soal ujian nasional pasti akan disalahkan.&lt;br /&gt;     Para Orang tua dan guru yang berbahagia, sejak kecil kita tidak pernah dinilai berdasarkan nalar kita dalam menjawab soal-soal. Sejak kecil kita juga tidak pernah diberi pertanyaan yang menggunakan nalar / berfikir seperti :&lt;br /&gt;Apa yang terjadi jika minyak bumi Indonesia habis ? Apa akibatnya ? ya, saat hal itu terjadi maka masyarakat kita menjadi panic. Karena sejak dulu tidak pernah dipertanyakan, apa lagi sempat dipikirkan.&lt;br /&gt;     Para orang tua dan guru yang berbahagia, begitulah anak-anak kita telah dibesarkan dengan system pendidikan yang tidak melatih untuk berfikir kreatif. Jadi, wajar saja jika saat ini jumlah pengangguran baru dari lulusan akademi dan universitas terus membengkak. Sementara para pelajar lulusan SMA dan ederajat terus berebut menyerbu perguruan tinggi yang pada akhirnya juga akan menjadikan mereka hanya sebagai calon-calon pengangguran baru. Sayangnya ternyata mereka juga tidak menyadari hal ini, karena memang tidak pernah dilatih untuk memikirkannya.&lt;br /&gt;Para orangtua dan guru yang berbahagia, mari bersama-sama kita ciptakan sitem pembelajaran yang mengasah kemampuan berfikir anak! Bukan sekedar hafalan. Agar kelak mereka bisa melihat dan menciptakan peluang-peluang baru, bukannya melihat dan menciptakannya masalah baru bagi bangsa ini!&lt;br /&gt;     Ingat, pasar bebas tenaga  kerja  sudah di depan mata. Zaman ketika persaingan  kualitas manusia akan semakin ketat! Apakah kelak anak-anak kita akan menjadi budak atau tuan rumah di negrinya sendiri, kitalah yang paling bertanggung jawab.&lt;br /&gt;Sebuah catatan artikel menarik tentang membaca dan menulis menjelaskan sebagai berikut :&lt;br /&gt;     Anak yang diajari menulis dan membaca lebih awal ternyata membaca buku dan membuat tulisan jauh lebih sedikit daripada anak yang diajarkan baca dan menulis kemudian. Jauh lebih penting untuk menjaga rasa ingin tahu anak dengan mengembangkan kreativitas individunya daripada mengajarinya untuk membaca dan menulis diusia dini.&lt;br /&gt;Dan mungkin itulah sebabnya, kita semua, para orangtua yang dulu sejak kecil sudah di paksa untuk bisa membaca agar dianggap anak pintar dan mendahului anak lain, tetapi ironisnya kini malah menjadi orangtua yang jarang atau malas membaca. Apalagi untuk membuat tulisan.&lt;br /&gt;     Begini  penjelasan alamiahnya. Apabila yang pertama kali dirangsang adalah otak kreatif dan rasa ingin tahu anak, maka anak-anak akan menyimpan segudang pertanyaan yang membutuhkan jawaban. Semakin banyak yang ingin diketahui anak maka semakin besar pula usaha untuk mencari jawabannya. Oleh karena itu, keinginan anak yang terpendam tersebut akan meledak apabila kemudian dia baru diajari bagaimana cara membaca dan menulis. Maka anak ini akan menjadi keranjingan untuk membaca dan menulis karena begitu banyak pertanyaan yang harus segera dijawab dan begitu banyak pengetahuan baru yang harus dia tulis.&lt;br /&gt;     Namun sebaliknya, jika yang dirangsang pertama adalah membaca dan menulis, maka otak kreatif anak ini tergantung dari rangsangan awalnya dan memiliki periode kritis hingga usia 12 tahun. Anak yang waktunya lebih  terfokus untuk belajar membaca dan menulis sama sekali tidak memiliki ketertarikan, tidak punya pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab, oleh karenanya dia tidak banyak menggunakan kemampuan baca tulisnya.&lt;br /&gt;     Mungkin itulah alasan mengapa system pembelajaran di kebanyakan Negara maju lebih mementingkan kreativitas daripada kemampuan membaca dan menulis pada anak-anak di usia dini.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Mari kita renungkan kembali, seperti apakah anak-anak kita dirumah dan disekolah telah dididik?&lt;br /&gt;Bina Kreatif  Oktober  2010&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4214269774589169133-171986339647887231?l=binakreatif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://binakreatif.blogspot.com/feeds/171986339647887231/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4214269774589169133&amp;postID=171986339647887231' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4214269774589169133/posts/default/171986339647887231'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4214269774589169133/posts/default/171986339647887231'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://binakreatif.blogspot.com/2010/10/bina-kreatif-talk-about.html' title='BINA KREATIF TALK  ABOUT............'/><author><name>Kak Wien</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_IjcvEQdax7w/SVmhO3r18gI/AAAAAAAAAEE/mGgzTLHEGB8/S220/Poster+Kakwin.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_IjcvEQdax7w/TMVWOpS2ejI/AAAAAAAAAWw/V5t-Zns5qxY/s72-c/jujur+2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4214269774589169133.post-1915630711786576677</id><published>2010-09-07T17:47:00.002+07:00</published><updated>2010-09-07T17:52:53.349+07:00</updated><title type='text'>Selayang Pandang  BKKC .........</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_IjcvEQdax7w/TIYZbFGLIGI/AAAAAAAAAVw/2Jaq7rtKuYc/s1600/smart.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 239px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_IjcvEQdax7w/TIYZbFGLIGI/AAAAAAAAAVw/2Jaq7rtKuYc/s320/smart.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5514122746776985698" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;BINA KREATIF  KIDS  CARE&lt;br /&gt;Aksi Peduli dan Berbagi  bersama Psikolog&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanan kami mengenalkan dunia psikologi kepada masyarakat awam, banyak sekali kami temukan kendala. Selama ini masyarakat awam hanya tahu kalau tugas psikolog hanya menangani orang stress, mengadakan tes – tes kecerdasan/IQ atau sebatas HRD di perusahaan – perusahaan. Hal ini memang bisa dimaklumi karena kurangnya sosialisasi peran psikolog di masyarakat. Padahal melihat perkembangan perilaku masyarakat saat ini yang penuh dengan tekanan hidup dan berbagai masalah sosial banyak hal yang bisa dilakukan.  Sekali lagi, tekanan apapun yang dialami orang tua pasti akan berdampak pada perkembangan emosional anak. Untuk itulah Bina Kreatif mencoba mendampingi orang tua dalam mendidik dan mengasuh anak.&lt;br /&gt;Suatu hari kami mengadakan dialog di salah satu sekolah yang letaknya terpencil  didesa Ciseeng Parung Bogor. Kami menemui seorang ibu muda yang sudah memiliki 3  anak yang masih kecil – kecil. Jangankan bertemu psikolog atau mencari ilmu tentang fase perkembangan anak, untuk biaya hidup sehari – hari dan kesehatan pun sangat sulit. Si Ibu menikah diusia 15 tahun dan diusianya yang hampir berkepala dua ini ia harus mengasuh anak – anak yang menurut kami sangat berat. Karena sisi  emosional ibu belum matang dalam mendidik anak maka solusi yang sering dilakukan untuk putra - putrinya adalah dengan memarahi dan memakai kekerasan fisik. Bahkan anak sulungnya yang belum genap 4 tahun harus menerima hukuman setiap hari, mulai cubitan, jeweran maupun pukulan di pantat. Ketika kami ajak dialog, banyak sekali  keluhan    menghadapi perilaku anak yang menurutnya sulit untuk dikendalikan. Ketika kami menglakukan observasi anak lebih lanjut, ternyata ditemui kondisi anak tergolong           “ Hiperaktive”.&lt;br /&gt;Kami mencoba lebih mengarahkan pada tindakan langsung mengatasi masalah si Sulung yang Hiperaktif. Kami melakukan kerja sama dengan pihak sekolah. Alhamdulillah pihak sekolah menyambut baik keinginan kami dan kebetulan ada salah satu guru yang bersedia mendampingi anak di sekolah. Kami sering melakukan kontak dengan guru yang menangani si anak. Penanganan  di bulan 1 sampai dengan  6 belum banyak terlihat  perkembangannya. Namun penanganan terus menerus diberikan Sampai akhirnya mulai terlihat perubahan menjelang tahun pertama. Anak  sudah terlihat  jauh lebih bisa mengontrol gerak dan emosionalnya.  Semua ini bisa berkesinambungan dengan baik karena ada kerjasama orang tua , sekolah ( guru ) dan psikolog yang mendampingi. Orang tuanya sangat bersyukur walaupun harus menyisihkan biaya 3 ribu rupiah untuk menelpon lewat wartel setiap konsultasi ke kami. Saat ini beliau jauh lebih bisa memahami perkembangan psikologis putra – putrinya, lebih sabar , lebih pengertian dan lebih bersyukur.&lt;br /&gt;Bapak ibu yang budiman itu tadi sekilas berbagi pengalaman menghadapi permasalahan putra – putri di rumah. Masih banyak pengalaman – pengalaman kami dalam mensosialisasikan Psikolog masuk ke sekolah. &lt;br /&gt;Dalam perjalanan kami menelusuri sekolah – sekolah , banyak kami jumpai permasalahan anak mulai dari masalah yang ringan sampai yang rumit. Hampir disetiap sekolah dijumpai anak yang bermasalah mulai dari emosional yang labil sampai  kesulitan berkonsentrasi. Bahkan dua tahun terakhir ternyata semakin banyak permasalahan disekolah yang kami temui.  Untuk memfasilitasi sekolah, kami luncurkan Program Pendampingan Guru, Program Pendampingan Sekolah dan Program Pendampingan Anak dan Orang tua ( atau biasa kami singkat dengan PPG , PPS , PPA ) &lt;br /&gt;Setelah kami luncurkan program PPG , PPS , PPA respon dari orang tua sangat baik. Mereka sangat antusias menanggapi program kami. Kami memberikan layanan konsultasi sore hari jam 4 sore sampai jam 6 sore melalui telepon. Setiap hari rata – rata 10 penelpon menanyakan problem yang dialami putra putrinya. Kami juga memberikan layanan dalam bentuk “Konsultasi via SMS” dan ternyata dalam sehari kami mendapatkan pertanyaan dari SMS sangat banyak. Awalnya kami sempat berfikir bagaimana menanggulangi biaya pulsa telpon yang membengkak. Tetapi Alhamdulillah, bantuan datangnya langsung dari Allah. Insyaallah rezeki datangnya dari mana saja. Sampai saat ini layanan paling banyak peminatnya adalah sharing via SMS. Para orang tua merasakan banyak manfaat dalam memperoleh penanganan praktis masalah putra – putrinya. Bahkan sekarang ini orang tua bisa memiliki Psikolog Keluarga tanpa harus mengeluarkan biaya besar. Memang Program  Berbagi  yang kami luncurkan belum banyak dirasakan banyak orang,. baru sebatas orang tua yang menjadi member Bina Kreatif.&lt;br /&gt;  Melalui program konsultasi lewat telepon, orang tua bisa berdiskusi atau menanyakan langsung penanganan masalah anak kepada psikolog. Ada satu peristiwa yang sampai sekarang masih sangat hangat di ingatan kami yaitu ada seorang ibu yang berkonsultasi dan curhat tentang anak semata wayangnya yang kini mengalami Kekurangan fisik dan mental. Hampir dua jam si ibu cerita  mulai dari kelahiran putranya Dodi yang lahir premature, sampai usia  2 tahun belum bisa berjalan, bahkan untuk mengucapkan kata “mama”  saja baru terdengar jelas  ketika usianya sudah 4 tahun. Dodi juga sering sakit – sakitan hampir setiap bulan berobat ke dokter atau Rumah sakit Dodi anak yang tidak bisa diam, aktif bergerak, dan diusianya yang hampir 7 tahun kondisi mentalnya masih seperti anak 4 tahun. Belum lagi menghadapi keluhan dan cibiran tetangga yang menganggap Dodi anak aneh dan nakal, Bahkan yang lebih menyakitkan ketika Dodi harus dikucilkan  dengan teman – teman seusianya karena orang tua yang lain khawatir kalau anaknya akan “disakiti” oleh Dodi. Dalam waktu yang cukup lama kami pun ikut merasakan kesedihan yang dihadapi si ibu. Kami hanya bisa memberikan motivasi dan mempersilahkan sang ibu untuk datang langsung ke Bina Kreatif untuk sharing dengan konsultan dan terapis kami.&lt;br /&gt;Kami bisa memahami betapa beratnya memiliki anak yang punya “keterbatasan”, karena kamipun pernah mengalami hal yang sama. Ini sedikit cerita tentang anak pertama kami Fian. Diusia  4 bulan Fian  sering mengalami kejang/ Step. Ketika demam dengan suhu badan 38 derajat Celcius saja anak kami sudah mengalami kejang. Hal ini memicu kecemasan yang sangat berlebihan pada diri kami.  Kami juga menyadari bahwa anak yang sering mengalami  kejang pasti akan mengalami keterlambatan berfikir  dan  emosionalnya cenderung kurang stabil. Ketika Fian masuk TK terlihat konsentrasinya tidak maksimal, bahkan menurut guru kelas, cenderung banyak melamun. Kami mencoba mencari literature kemana – mana mulai dari dokter syaraf, dokter spesialis anak bahkan sampai tak terhitung buku perkembangan anak yang kami baca. Peristiwa anak kami dikucilkan teman, dipandang sebelah mata oleh tetangga, tidak dipahami oleh guru kelasnya adalah perjalanan hidup yang telah kami lewati. Beban kami bertambah berat karena kami dikenal sebagai Psikolog yang sering memberikan solusi kepada banyak orang. Bagi orang yang tidak tahu kronologis  kejadiannya pasti akan berpikir masa sih anak seorang Psikolog kok kayak gini ???? perkembangan anaknya jauh sekali dari ideal. Rasa tidak bisa menerima ketetapan Allah juga pernah kami alami, astaghfirullah’aladzim……..Namun kami tetap mencoba bersabar dan terus berusaha. Alhamdulillah jerih payah kami ada hasilnya, kesabaran kami membuahkan hasil. Saat ini putra kami sudah kelas 5 SDN Cipayung Jaya Depok, dan hasil belajarnya lumayan menggembirakan. Akhirnya kami menyadari, ternyata hikmah yang ada dibalik peristiwa ini jauh lebih berharga dibandingkan dengan kesulitan yang telah kami lewati dan yang akan terus kami perjuangkan. Kami jadi lebih bisa memahami orang tua yang mengalami hal yang sama dengan yang kami rasakan. Dan Insyaallah kami ingin berbuat lebih banyak lagi untuk menolong orang tua yang memiliki anak bermasalah dan “special need”&lt;br /&gt;Mulai tahun 2002 - 2003 kami melakukan kegiatan pendampingan anak berkebutuhan khusus. Program pendampingan kami tidak hanya fokus pada penanganan anak melalui terapi saja, tetapi kami juga berusaha mendampingi orang tua. Kami sadar bahwa beban mental orang tua yang memiliki “anak berkebutuhan khusus” sangat tinggi. Karena bagaimanapun juga siapa sih yang mau punya anak special need? Dan kami pun yakin para orang tua ini tidak punya bekal untuk mendampingi anaknya. Padahal orang tua adalah bagian terpenting untuk kemajuan perkembangan anak yang memiliki keterbatasan. Dengan sering mengajak sharing orang tua, kami berharap beban psikologis orang tua bisa turun sehingga lebih bisa menerima kondisi anak, memiliki motivasi positif terhadap anak, yang tentu saja berdampak besar terhadap kondisi psikologis anak. Kami sadar bahwa program pendampingan ini belum berjalan maksimal, sehingga pada tahun 2006/2007 kami mulai mensosialisasikan sedikit demi sedikit problem anak berkebutuhan khusus di sekolah – sekolah yang telah menjadi member kami. Kami berharap semakin banyak orang tua dan pihak sekolah yang paham tentang wacana ini maka semakin banyak juga orang tua yang tertolong.&lt;br /&gt;Walaupun kami fokus pada anak berkebutuhan khusus tetapi kami membuka akses juga untuk sharing seputar problema anak. Sharing kami lakukan di acara Parenting Course hasil kerjasama Bina Kreatif dengan sekolah – sekolah binaan maupun di kantor Bina Kreatif Jl. Akar Wangi 2 no. 24 Komplek Departemen Pertanian “Atsiri Permai” Citayam phone 021 87987089  setiap hari  Senin – Sabtu dari jam  8 – 11 siang , dengan dibantu 3 terapis dan 1 konsultan. &lt;br /&gt;Seiring waktu semakin banyak orang tua yang merasakan manfaat sharing yang kami lakukan. Bahkan kami memberikan layanan sharing gratis bagi orang tua yang mempunyai “Member Card Bina Kreatif Kids Care” dengan terlebih dahulu konfirmasi kedatangan.&lt;br /&gt;Kami turut bahagia ketika orang lain bisa mendapatkan manfaat dari apa yang kami berikan . Semoga bermanfaat dan Tetap Semangat !!!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bina kreatif ,  September 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4214269774589169133-1915630711786576677?l=binakreatif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://binakreatif.blogspot.com/feeds/1915630711786576677/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4214269774589169133&amp;postID=1915630711786576677' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4214269774589169133/posts/default/1915630711786576677'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4214269774589169133/posts/default/1915630711786576677'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://binakreatif.blogspot.com/2010/09/selayang-pandang-bkkc.html' title='Selayang Pandang  BKKC .........'/><author><name>Kak Wien</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_IjcvEQdax7w/SVmhO3r18gI/AAAAAAAAAEE/mGgzTLHEGB8/S220/Poster+Kakwin.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_IjcvEQdax7w/TIYZbFGLIGI/AAAAAAAAAVw/2Jaq7rtKuYc/s72-c/smart.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4214269774589169133.post-7015164281547014439</id><published>2010-08-10T06:17:00.003+07:00</published><updated>2010-08-11T08:03:27.441+07:00</updated><title type='text'>Halo  Indonesia</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_IjcvEQdax7w/TGCM7Ka0UDI/AAAAAAAAATM/IhYXITAj4iw/s1600/KONSULTASI+1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_IjcvEQdax7w/TGCM7Ka0UDI/AAAAAAAAATM/IhYXITAj4iw/s200/KONSULTASI+1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5503553692683751474" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Smart  Dialog :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Baru baru ini kami menerima surat dari member kami yang  berisi  seputar problematika orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus. Kami sengaja menampilkan surat ini            (tentu saja dengan menyembunyikan nama dan identitas asli) untuk sekedar memberi gambaran bagi para orang tua yang juga memiliki masalah yang sama. Semoga saja bisa menjadi sumber inspirasi dan pencerahan bagi  para ortu  yang memiliki “special need children”                          Petikan isi suratnya sbb:&lt;br /&gt; &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;"Ass..ka wien sy punya anak ADS hiperaktif bernama Aca.Dia anak yang sangat aktif Saat ini Aca sekolah disebuah TK. Sejauh ini sudah mulai agak bisa diarahkan dan mulai nyaman tp usaha saya ini tidak didukung olh suami &amp; keluarga suami saya. Mereka terkadang suka memukul walau tidak kencang tapi saya sebagai ibu saya sakit hati saya mau marah ga enak karena menghargai orang tua dan ujung-ujungnya saya malah emosi sendiri sama Aca, terkadang saya sedih dan menangis kenapa sikap mereka begitu apa meraka ga bisa nerima anak saya karena malu...saya ga mau usaha saya sia-sia. Aca sudah sedikit mandiri dan disekolah sedikit sudah bisa diarahkan tapi kalo terus begini saya takut dampak disekolah dia jadi kasar...tolong ka wien saya minta solusinya dan  untuk  saya gimana saya harus menahan agar saya juga tidak ikut emosi kasihan juga anak saya ka’...terima kasih  Wassalamu alaikum"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban Kak Wien :&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Waalaikum salam , Trimakasih mama Aca  telah berbagi , memiliki anak berkebutuhan khusus memang berat bagi orang tua. Kita tidak pernah mengharapkan punya anak "special need". Tapi bagaimanapun anak adalah anugerah yang diberikan Allah SWT kepada kita dan tugas kita hanya menjaga amanah yang diberikan  Allah. Saat ini mungkin masih ada sikap penolakan terhadap anak. Tetap jaga kesabaran ya bu..........Insyaallah ada hikmah dibalik semua ini. Siapa tau justru anak inilah yang akan mengangkat derajat ibu kelak dikemudian hari. Saya menyarankan ibu untuk masuk dalam komunitas/ kelompok orang tua yang punya anak berkebutuhan khusus atau paling tidak orang tua yang punya problem sama dengan ibu. Ibu bisa sharing seputar anak dengan mereka. Kebetulan di Bina Kreatif juga ada program terapi untuk anak berkebutuhan khusus, jadi setiap hari  Insyaallah ada terapis yang standby ditempat. Ibu bisa ke Bina Kreatif untuk sekedar sharing dengan terapis kami. Tapi sebelumnya hub via telpon dulu ya bu, untuk mencari waktu yang agak longgar.Yang terpenting  beban psikologis ibu sedikit berkurang. Dengan demikian akan mengurangi emosi dan menstabilkan kondisi emosional ibu. Memang sih...dukungan suami dan orang sekitar kita akan membantu, tapi kalau kondisi saat ini tidak memungkinkan ya....tetap sabar dan terus berdoa ya bu. jangan putus asa dan tetap semangat!!!  Wassalamualaikum.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hendaknya ini menjadi bahan renungan bagi kita semua. Betapa sebenarnya sungguh berat beban orang tua yang harus menerima kenyataan memiliki anak “tidak sama” dengan anak lain. Untuk itu kami menghimbau bagi anda yang melihat anak – anak berkebutuhan khusus ( ADHD, Autisme, Down Syndrome, Sindroma Asperger’s, Celebral Palsy, dll)  entah itu tetangga, sanak saudara, keponakan, murid dikelas, dsb , mohon jangan kucilkan mereka.  Sedikit perhatian yang anda berikan sangat bermakna bagi mereka. Karena bagaimanapun juga mereka tetap anak – anak Indonesia yang butuh kasih sayang, perhatian dan pendidikan yang layak.&lt;br /&gt;Dan bagi anda para orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus, tetap sabar dan tetap berjuang untuk anak kita. Bagaimanapun mereka adalah amanah  dari yang maha kuasa yang harus tetap kita jaga. Yakinlah…….. pasti banyak HIKMAH tersembunyi dibalik ini semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Info :  Ikuti Program On Line Consulting bersama Kak Wien Setiap hari selama Bulan Ramadhan Hub : 87987089 / 08151853874&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4214269774589169133-7015164281547014439?l=binakreatif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://binakreatif.blogspot.com/feeds/7015164281547014439/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4214269774589169133&amp;postID=7015164281547014439' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4214269774589169133/posts/default/7015164281547014439'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4214269774589169133/posts/default/7015164281547014439'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://binakreatif.blogspot.com/2010/08/halo-indonesia.html' title='Halo  Indonesia'/><author><name>Kak Wien</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_IjcvEQdax7w/SVmhO3r18gI/AAAAAAAAAEE/mGgzTLHEGB8/S220/Poster+Kakwin.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_IjcvEQdax7w/TGCM7Ka0UDI/AAAAAAAAATM/IhYXITAj4iw/s72-c/KONSULTASI+1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4214269774589169133.post-8396688056425837465</id><published>2010-07-31T02:57:00.003+07:00</published><updated>2010-07-31T03:13:25.799+07:00</updated><title type='text'>Bina Kreatif  2010</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_IjcvEQdax7w/TFMw_nD9jKI/AAAAAAAAAS0/TUhNLSlDF3Q/s1600/parenting.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 148px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_IjcvEQdax7w/TFMw_nD9jKI/AAAAAAAAAS0/TUhNLSlDF3Q/s200/parenting.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5499793439324998818" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Membentuk anak Indonesia yang Berakhlak mulia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; Setiap  orang tua pasti menyayangi anaknya dan berusaha sedapat mungkin untuk memberikan yang terbaik bagi anak- anaknya. Kita menginginkan anak – anak kita bersikap manis, baik, tidak menimbulkan masalah, dan mau menuruti  perilaku disiplin yang kita terapkan dalam keluarga.  Namun adakalanya anak – anak yang kita cintai ini bertindak tidak sesuai dengan harapan kita. Kondisi ini memicu  konflik antara orang tua dan anak. Sebenarnya perilaku anak- anak ini wajar, karena mereka masih mengembangkan  kecerdasan emosionalnya. Tugas orang tualah yang membimbing anak untuk mengetahui perbuatan mana yang benar dan mana yang salah. Para  orang tua diwajibkan menjalankan aturan yang sama dalam proses pendisiplinan anak  yaitu  jangan sampai merusak suasana emosional anak.&lt;br /&gt;Pada dasarnya disiplin  adalah menemukan alternative yang efektif untuk menghukum. &lt;br /&gt;Dalam upaya menegakkan disiplin, segala hal  yang menimbulkan kemarahan harus dihindari. Sebaliknya segala sesuatu yang dapat meningkatkan rasa percaya diri dan rasa hormat terhadap diri sendiri dan diri orang lain harus terus dibina&lt;br /&gt; Menegakkan disiplin pada anak membutuhkan keterampilan khusus yang tentu saja dapat dipelajari oleh semua orang tua khususnya kemampuan untuk memahami perasaan dan keinginan anak dan kemampuan untuk mengekspresikan  suasana emosional. Ketika orang tua tidak terampil mengekspresikan perasaannya maka yang terjadi adalah orang tua cenderung menghukum dan mengecam anak. Orang tua  seperti ini tidak memahami  bahwa ucapan mereka bersifat merusak dan menyakiti hati anak. Akibatnya apa?  Anak mulai membenci diri mereka sendiri dan orang tua mereka Anak menjadi suka melawan. Kalau ini dibiarkan berlarut – larut ada anak yang dikuasai hasrat untuk membalas dendam kepada orang tuanya.&lt;br /&gt;Apa yang membuat anak – anak sekarang ini cenderung emosional dan melawan ?&lt;br /&gt;Beberapa  tanda – tanda  DEKADENSI  MORAL :&lt;br /&gt;1. Kekerasan dikalangan anak – anak  , remaja  dan dewasa meningkat.&lt;br /&gt;2. Bahasa anak – anak sekarang cenderung  kasar &lt;br /&gt;3. Kriminalitas terus meningkat , makin banyaknya  anak – anak jalanan yang kurang tertangani.&lt;br /&gt;4. Pedoman moral anak – anak cenderung menurun sehingga sering muncul kebohongan – kebohongan anak.&lt;br /&gt;5. Banyaknya perilaku yang menyimpang , anak  - anak mulai merokok , anak membunuh orang tuanya dll.&lt;br /&gt;6. Rasa hormat terhadap guru menurun.&lt;br /&gt;7. Tanggung jawab individu  dilingkungan mulai menurun. ( Fasilitas umum kotor )&lt;br /&gt;8. Ketidak jujuran membudaya&lt;br /&gt;9. Pedoman moral  makin menurun , matinya suara hati&lt;br /&gt;10. Etos kerja menurun , munculnya korupsi di berbagai kalangan.&lt;br /&gt;Penyebab :&lt;br /&gt; Modernisasi pola asuh orang tua yang cenderung salah kaprah.&lt;br /&gt; Tekhnologi dan informasi yang cenderung bebas diakses anak&lt;br /&gt; Film – film yang lebih mengarah pada perkelahian  , sex  dan kekerasan.&lt;br /&gt; Berkurangnya intensitas komunikasi dalam keluarga.&lt;br /&gt; Lingkungan yang makin tidak kondusif&lt;br /&gt;Ilustrasi :&lt;br /&gt;Apa yang kita lakukan terhadap putra – putri kita di usia 0 thn  sampai 8 tahun akan jadi sesuatu yang sangat berpengaruh di usia  remajanya nanti  ( 12 thn – 15 tahun ).&lt;br /&gt;Apabila kecemasan , teriakan , bentakan yang sering kita lakukan terhadap anak – anak kita tentunya akan berimbas pada  perkembangan emosional anak nantinya.  Sebaliknya apabila kita didik anak – anak kita dengan kesabaran , ketekunan dan pengetahuan yang cukup tentunya akan sangat baik pengaruhnya pada perkembangan emosionalnya anak.&lt;br /&gt;Contoh kasus yang mulai membuat hati kita gundah :&lt;br /&gt; Di  Malang jawa timur , Di  tegal , Kudus  , di Magelang  jawa tengah dan di lampung  ada anak usia balita sudah menghabiskan puluhan rokok batangan setiap harinya layaknya seorang dewasa. &lt;br /&gt; Di Bantul Yogyakarta ,  anak  balita  memiliki kebiasaan memakan kapur tulis , di jawa timur ada anak yang memiliki kebiasaan makan obat nyamuk bakar , ada anak yang memiliki kebiasaan makan sabun mandi.&lt;br /&gt; Perkosaan terhadap anak , pelecehan sex pada anak – anak dan remaja , penculikan anak , perdagangan anak , Exploitasi anak – anak yang akhir – akhir ini semakin marak terjadi.&lt;br /&gt; Di Indramayu jawa barat , ada anak yang bunuh diri karena belam membayar sekolah , Di Yogya anak bunuh diri karena tidak memiliki seragam pramuka , dan yang terakhir ini  anak remaja bunuh diri karena tidak lulus ujian nasional.&lt;br /&gt; Di Cilacap Jawa tengah , Ada anak yang tega menganiaya orang tuanya sendiri, Di Lombok NTB  ada anak remaja menyetubuhi ibunya sendiri , Di Kendal Jawa tengah Seorang anak remaja tega membunuh ayah kandungnya  karena tidak dibelikan sepeda motor.&lt;br /&gt; Di Bumi ayu Jawa tengan ada sekelompok anak remaja  laki  ( Klas 2 – 3  SMP ) dengan sadisnya memperkosa anak perempuan klas 3 Sekolah dasar  dan membunuhnya, lalu jasadnya di buang di semak belukar.&lt;br /&gt; Di Depok Jawa barat  , Razia Warnet  Puluhan remaja dan anak – anak terjaring  di jam – jam sekolah , sebagian besar mereka membolos sekolah . Apa yang mereka lakukan di warnet : data menunjukkan 30 % bermain games on line , 40 % nonton BF , 20 %  FB dan 10 %  Cari pengetahuan .&lt;br /&gt; Kasus – Kasus perkelahian mahasiswa , perkelahian pelajar  bahkan perkelahian antar kelompok tertentu  saat ini makin sering terjadi.&lt;br /&gt; Kasus Narkoba masih marak dan terjadi dimana – mana.&lt;br /&gt;Yang jadi pertanyaan :  “ &lt;br /&gt;1.  Dimana Moral , Budi pekerti dan Akhlaq mereka letakkan ? &lt;br /&gt;2. Dimana Tanggung jawab mereka sebagai Individu yang harus bisa bermasyarakat ?&lt;br /&gt;3. Apa yang melandasi mereka melakukan semua ini ?&lt;br /&gt;Coba kita lihat apa yang terjadi saat ini :&lt;br /&gt;• Tuntutan kebutuhan hidup sebagai anak muda dan aktualisasi dirinya se makin tinggi.&lt;br /&gt;• Tuntutan pendidikan yang berorientasi pada nilai - nilai akademik.&lt;br /&gt;• Dunia pendidikan mulai lebih cenderung kearah  “Bisnis Oriented” &lt;br /&gt;• Penilaian keberhasilan masih didasari pada Material&lt;br /&gt;• Pudarnya norma – norma  natural dan mulai masuk budaya – budaya modern  yang sering tidak sesuai.&lt;br /&gt;• Minimnya  pendidikan akhlak , pembelajaran budi pekerti di level – level dasar.&lt;br /&gt;• Anggapan bahwa keberhasilan seseorang  karena memiliki kecerdasan akademik yang tinggi. Sehingga hampir sebagian besar orang tua bangga memiliki anak yang juara  satu atau menjadi bintang kelas , dan merasa gagal kalau putra – putrinya tidak dapat nilai yang memuaskan. Hal inilah yang bisa menyebabkan anak depresi atau mungkin bisa menghalalkan segala cara untuk jadi juara atau mendapat nilai yang memuaskan. Atau bisa jadi sampai akhirnya setiap hari anak harus mengikuti kegiatan kursus , sehingga hari – harinya padat dengan aktivitas akademik  yang sudah diatur sedemikian rupa dan akhirnya ank – ankpun menjadi kehilangan jam – jam bermain mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah – langkah Pendekatan untuk anak adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;“ Luangkan waktumu untuk mendidik anak – anakmu niscaya akan kau dapati kasih sayang dan perhatian yang lebih hakiki dari anak – anakmu  di kemudian hari nanti , tetapi apabila kau biarkan semua berlalu maka akan kau sesali keadaanmu suatu hari nanti”&lt;br /&gt;Setiap hari ada saja permasalahan yang muncul karena ulah dan perilaku anak – anak kita , terkadang membuat kita jadi  kehabisan cara bagaimana lagi supaya emosional dan perilakunya  bisa diarahkan. Kita berteriak , sementara anak kita lebih kencang teriaknya, dan pada akhirnya langkah kta adalah dengan marah dan emosi. Bagaimana Tips  mengarahkan emosional anak – anak kita sehingga perilakunya lebih teratur :&lt;br /&gt;1. Sentuhan Lembut tangan Orang tua lebih bisa menyelesaikan.&lt;br /&gt;Bapak , ibu dan para orang tua yang berbahagia, dahulu orang tua kita memiliki anak empat , lima bahkan sampai dua belas, tetapi mereka terlihat tetap asyik asyik saja. Kita saat ini baru punya satu atau dua ank saja sudah merasa kelelahan menghadapi anak – anak kita. “Saat ini yang diperlukan oleh anak anak kita bukan suara keras , nada yang tinggi , teriakan saat memanggil anak – anak, Tetapi yang lebih mereka butuhkan adalah Sentuhan lembut tangan orang tua. Jadi jelasnya “ Fisik” kita lebih bisa dirasakan oleh anak dari pada suara keras kita sebagai orang tua.&lt;br /&gt;2. Pahami saat – saat sensitive anak&lt;br /&gt;Bapak ibu yang berbahagia, bersyukurlah kalau anak – anak masih mudah diarahkan , tapi ingat “bukan karena takut dengan papa dan mamanya yang galak lho?” jadi berusahalah menghindari dan meminimalkan konflik pada saat anak sensitive yaitu :&lt;br /&gt;• Saat mandi dan berganti baju&lt;br /&gt;• Saat makan makan dan minum&lt;br /&gt;• Saat anak akan tidur&lt;br /&gt;Dengan bisa meminimalkan konflik di tiga waktu tersebut maka anak – anak akan merasakan kenyamanan emosional.&lt;br /&gt;3. Efektifkan cara “Marah” terhadap anak.&lt;br /&gt;Biasanya langkah terakhir yang kita lakukan untuk meneraturkan emosional anak adalah dengan marah, kita beranggapan bahwa setelah dimarahi akan selesai masalahnya, tapi……. Kenapa justru anak tambah membangkang. Why ? lalu bagaimana efektifnya. Lakukan langkah – langkah berikut :&lt;br /&gt;• Anak sulung , karena bebannya tinggi dan anak lebih cemas maka penekanannya pada kontak mata , tatap mata anak , lalu tekankan dan jelaskan kesalahan atau permasalahannya dengan intonasi agak tinggi , lalu langkah berikutnya anak dipeluk erat. Disinilah rahasianya “Transfer Naluri” dan anak akan lebih memahami kenapa orang tuanya jadi marah.&lt;br /&gt;• Anak bungsu , karena karakternya agak egoism aka penekanannya bukan dengan omelan , tetapi lebih pada “Personal touch”. Jadi ketika si bungsu berulah kita bisa langsung menarik anak , dudukkan dan terakhir didekap erat , jangan dilepas sebelum emosinya reda. Ingat, tidak perlu dengan kata – kata …. Apalagi dengan nada tinggi…PERCUMA!!!!&lt;br /&gt;• Kalau dengan anak tengah ini sudah sangat beda konsepnya , sebaiknya melibatkan peran ayah, karena posisi  Ibu sudah Low Power. Olehkarenanya tidak mungkin ketiganya di hendel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Meng-efektifkan waktu belajar&lt;br /&gt;  Terakhir bagaimana langkah - langkah efektif meneraturkan belajarnya anak. Bapak ibu yang berbahagia , paling tidak kita tahu dan memahami konsep belajarnya anak :&lt;br /&gt;• Moody , jadi saat emosionalnya baik anak akan lebih mudah belajar, tetapi yang perlu diingat saat sensasi anak yang muncul , nah itu yang harus kita hentikan. Missal ketika ada tamu, atau minta belajar ketika mau tidur, “Stop” jangan diikuti.&lt;br /&gt;• Perlu teman dalam belajar, tapi jangan sampai emosi pada saat belajar atau menemani belajar anak bisa merusak “SENSORIK INTEGRASI” ANAK , Sehingga menulis angka 3 terbalik, 2 terbalik , b keliru dengan d. &lt;br /&gt;• Jangan dibanding – bandingkan , karena pada dasarnya anak ingin bisa mengapresiasikan ke,mampuan dan potensinya. &lt;br /&gt;Mudah mudahan bisa berhasil, lakukan dengan Tegas bukan emosi, Tega ,jangan setengah setengah , dan teratur dikontrol dan diarahkan.   Oke, tetap sabar … tetap semangat …. Tetap kreatif  …..dan………. SUKSES !!!!!!!&lt;br /&gt;Bina Kreatif , Oktober   2009&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;INFO SELANJUTNYA :  “ BINA KREATIF  KIDS CARE “  08151853874  ( HOTLINE / SMS ) / 87987089&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4214269774589169133-8396688056425837465?l=binakreatif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://binakreatif.blogspot.com/feeds/8396688056425837465/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4214269774589169133&amp;postID=8396688056425837465' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4214269774589169133/posts/default/8396688056425837465'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4214269774589169133/posts/default/8396688056425837465'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://binakreatif.blogspot.com/2010/07/bina-kreatif-2010.html' title='Bina Kreatif  2010'/><author><name>Kak Wien</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_IjcvEQdax7w/SVmhO3r18gI/AAAAAAAAAEE/mGgzTLHEGB8/S220/Poster+Kakwin.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_IjcvEQdax7w/TFMw_nD9jKI/AAAAAAAAAS0/TUhNLSlDF3Q/s72-c/parenting.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4214269774589169133.post-1144629985451071975</id><published>2010-07-31T02:34:00.003+07:00</published><updated>2010-07-31T02:55:32.324+07:00</updated><title type='text'>Obrolan Pagi......</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;STRESS DALAM MENGAJAR&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Rutinitas sehari - hari sudah barang tentu membuat seseorang mengalami kejenuhan. Berawal dari kejenuhan yang ringan sampai akhirnya mencul kejenuhan yang berat , hal ini juga bisa berdampak negative pada emosional seseorang . &lt;br /&gt;Misal satu contoh kasus :  Ada seorang guru yang awalnya sangat rajin , semangat penuh ditahun - tahun pertama , dan begitu memasuki tahun kedua , ketiga mulai menurun semangatnya.  Mulai muncul permasalahan dalam kesehariannya mengajar. Apa yang membuat perubahan ini…. tentu saja ada perubahan. Seandainya tiap hari terus menerus mengajarkan pada anak - anak didik sementara ilmunya sendiri tidak ditambah ya.. tentunya makin defisit  bekal materi ilmunya. Tidak kalah pentingnya menurunkan tingkat stressnya…. yaitu salah satunya dengan refreshing yang kreatif. &lt;br /&gt;Satu ilustrasinya seperti cerita berikut ini : Suatu hari ada seorang yang pekerjaannya menebang pohon di hutan, setiap hari orang ini bisa menebang 15 sampai 20 batang pohon. Dengan tenaga dan semangatnya ia sangat rajin dan bekerja keras.  Suatu hari Si Penebang pohon ini di ajak untuk bekarja di sebuah perusahaan kayu terbesar di kota itu. Singkatnya si penebang pohon ini hanya bertugas  menebang pohon dengan jumlah tertentu saja yaitu antara 10 - 12 batang pohon saja setiap harinya. Waktupun  berlalu, sampai pada suatu hari si Penebang pohon hanya mampu menebang 5 batang pohon saja. Beberapa waktu kemudian ia memutuskan untuk keluar dari pekerjaanya .  Pada waktu menghadap pada Sang Manager Perusahaan , ia menyampaikan keluhannya bahwa ia sudah tidak sanggup lagi  berkerja karena tenaganya sudah menurun , semangatnya menurun sehingga hasil kerjanya tidak sesuai dengan target perusahaan. Lalu Sang manager pun  memberi nasihat : “Bukan tenaga anda yang menurun tetapi anda lupa bahwa Kampak yang anda gunakan untuk menebang pohon juga perlu diasah. Barapa kali anda mengasah kampak  dalam sebulan ini?” lalu ditegaskan lagi bahwa anda terlalu fokus  dengan target - target dari perusahaan , sehingga anda menjaadi terbebani , yang pada akhirnya anda pun lupa untuk mengasah kampak yang anda gunakan . Sudah barang tentu kampak setiap saat anda gunakan jadi tumpul. Cobalah untuk lebih  jernih berfikir” tegas sang manager.&lt;br /&gt;Dari kisah diatas tentunya mencari  dan menambah ilmu jadi sangat penting bagi seorang pengajar yang setiap hari harus mengajar anak didik. Disamping itu menurunkan beban psikologis juga sangat penting sehingga motivasi mengajar jadi meningkat.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Touring / Wisata yang Bermanfaat……..&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sekedar berbagi cerita.    CREW   “BINA KREATIF”  GOES  TO  JOGJA&lt;br /&gt;Asyik  , seru , meriah and tambah semangat….. Asyiknya di Pegunungan  “Bebeng Merapi” , dan Udara pantai  yang sangat  menyejukkan otak yang penuh dan penat dengan kejenuhan. “ 5 Hari DiJogja” Serasa indahnya. Setelah kembali keJakarta  semangatpun jadi meningkat. &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Sukses Bina Kreatif dan Tetap Semangat”&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4214269774589169133-1144629985451071975?l=binakreatif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://binakreatif.blogspot.com/feeds/1144629985451071975/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4214269774589169133&amp;postID=1144629985451071975' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4214269774589169133/posts/default/1144629985451071975'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4214269774589169133/posts/default/1144629985451071975'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://binakreatif.blogspot.com/2010/07/obrolan-pagi.html' title='Obrolan Pagi......'/><author><name>Kak Wien</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_IjcvEQdax7w/SVmhO3r18gI/AAAAAAAAAEE/mGgzTLHEGB8/S220/Poster+Kakwin.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4214269774589169133.post-643119723488224697</id><published>2010-03-26T00:36:00.002+07:00</published><updated>2010-03-26T00:45:34.334+07:00</updated><title type='text'>OBROLAN  PAGI  ala Kak Win</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Rahasia  si  “ Enam ” tahun&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kenapa  Usia  6 Tahun anak baru siap masuk Sekolah Formal ( Sekolah Dasar ). Berdasarkan teori kematangan  ternyata diusia 6 tahun itu perkembangan daya nalar , daya pikir dan kematangan emosional anak mulai berkembang selaras dan saling berkaitan , sehingga bisa ditarik benang merah sedikit  bahwa  diusia itulah mulai menampakkan kematangan berfikir dan kematangan emosional ( Pengendalian diri terhadap permasalahan yang dihadapi anak dan perlahan – lahan tanggung jawab anak mulai muncul ).&lt;br /&gt;‘N Than……  bahwa  Kurikulum Sekolah Dasar memang dirancang untuk daya pikir , daya nalar dan kematangan  emosional  usia diatas  “enam” tahun, Jadi sangat mungkin ketika anak usianya belum matang alias kurang dari 6 tahun bisa dipastikan mengalami banyak hambatan : bisa hambatan konsentrasinya , akademisnya maupun emosionalnya.&lt;br /&gt;Nah , Untuk para Orang tua yang memiliki anak kurang dari 6 tahun….  Hati – hati saja deh.. kalau bisa dimatangkan dulu , alias  masuk Es De - nya ditunda dulu……&lt;br /&gt;Untuk sekedar gambaran saja , dari pengalaman saya menghadapi dan mengamati perkembangan emosional  anak yang mungkin baru  13 “Thirdteen” berkecimpung didunia anak – anak  ternyata memang banyak hal – hal yang bisa dijadikan pedoman memasukkan sekolah.&lt;br /&gt;Pertama :  Menyekolahkan  putra – putri anda tidak usah terburu – buru apalagi sampai – sampai anak belum memasuki usia pra sekolah atau taman bermain … eh..ternyata si Ortu terburu – buru  memilihkan tempat beraktivitas yang baik ( alias sekolah PeGe atau TeKa  yang mungkin tidak memadai untuk aktivitas explorasi anak) ..… akibatnya ?????  bisa ditebak berandai – andai bahkan menganggap anaknya sudah kelamaan sekolah ‘n dianggap sudah bosan  , trus akhirnya 50% alias setengah  memaksakan anak. Katanya, ”Anak kami sudah bosan di TeKa dan katanya diajak ke EsDe anaknya mau sekolah disitu..he..he..…..” yaaa Okelah..kalau begitu.&lt;br /&gt;Kedua :  Kalau belum enam tahun  tidak perlu terburu – buru memasukkan putra – putrinya ke EsDe.  Kata si Ortu sih  : “Lho….  Kan bangga mas …kalau  masuk sekolah lebih muda…….!!!!!” ( Apanya yang di banggakan kalau pada akhirnya anak menemukan banyak masalah di sekolahnya… Mulai kesulitan belajar… tambah emosional… nggak konsen…. ‘n basih berjubel masalah mengantri di kepala anak…) Kalau sudah begitu siapa yang disalahkan “ So Pasti bakal terjadi KETEGANGAN saat belajar , terdengar lengkingan suara yang tinggi kalau anak menjawab salah berulang – ulang……atau mungkin anak jadi malas atau takut kalau mau belajar… “habisnya kalau belajar Ortu mesti marah – marah melulu..” kata sianak.  He…heeee…….. Capek dech…..&lt;br /&gt;Ketiga :  Ternyata kematangan anak laki – laki dan perempuan berbeda  lho.…….. Dari  penelitian , pengamatan ‘n  pengalaman ternyata anak laki – laki matang ke EsDe  rata – rata diatas 6.5 tahun, kalau anak perempuan ternyata  6.2 tahun…… Nah kalau putra – putri kita usianya sudah lebih dari itu…. Pasti dech… lebih asyik  disekolahnya.&lt;br /&gt;Coba ikuti Ilustrasi ini……… kedepan tantangan jaman untuk anak – anak kita jauh lebih berat , apalagi tantangan globalisasi tekhnologi…Internet , tayangan TV kabel , Games On line , Ef Be , deelel. Kan anak – anak kite jadi mudah terhasut dan terpengaruh dengan hal – hal seperti itu… yanggaak…….. Coba sekarang dijawab.  “Pilaih mana , Punya suami yang matang atau yang setengah matang?...hehe…. pasti pingin punya suami yang matang donk….  Emang mau dirujak setengah matang….”  &lt;br /&gt;Nah sekarang anak laki – laki kita kan kedepanya bakal jadi anak dewasa ,…… ‘n gimana kalau anak – anak kita dewasanya nanti kurang matang……. Lalu gimana nantinya kalau dia harus jadi kepala rumah tangga …. Kan harus matang juga…… MAKANYA…..  biarkan nanak laki-laki matang dulu biar gedenya juga matang…kan enak……&lt;br /&gt;Contoh Kasus :  &lt;br /&gt;Baru – baru ini   mulai banyak keluhan diri guru – guru  EsDe kelas  enam , terutama pada pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam alias IPA , nah… pada bab “Alat – alat Reproduksi”  anak – anak mulai muncul tuh , pemikiran – pemikiran negative…… ( pernah  ada seorang siswa yang bertanya “Gimana membuat anak”) Spontan guru terperangah ( Apalagi  bu Guru / Pak Gurunya masih lanjang ) ,  lalu para guru pun mencoba menjelaskan , tetapi apa katanya anak …… “Dari pada susah – susah belajar dan menerangkan lebih asyik nonton VCD nya saja ..kan lebih jelas”.&lt;br /&gt;Karena dirasa janggal anak – anak akhirnya di interogasi alias dipanggil satu persatu…… dan ternyata dengan jujur anak menjawab “ Saya Pernah Noton  Film Blue”.  &lt;br /&gt;Menurut psikolog ini sangat menarik dipelajari ……………….. dan ternyata…. ( Lagi – lagi orang tua kita tanyai tentang putra – putrinya ). Ada dua pertanyaan yang diajukan :&lt;br /&gt;1. “ Bagaimana perilaku – putra – putri anda dirumah? Jawaban ortu “ Putra – putri kami semua baik – baik dan masih dalam keadaan aman – aman saja”.&lt;br /&gt;2. “ Tahukah Bapak / Ibu kalau putra – putri anda sampai kelolosan Nonton Film Blue?”  Jawaban Ortu…  “ Ah… mana mungkin anak kami berbuat seperti itu … padahal kami sudah mengawasinya setiap saat…!!!!!!!...pokoknya tidak mungkin terjadi pada anak – anak kami.”&lt;br /&gt;Bapak – Ibu , Papa-mama , Ayah –Bunda ,……  sadarlah bahwa kita ini tidak mungkin mengawasi  putra – putri kita 24 JAM  , “kayak Dokter Jaga saja.”  Buktinya begitu kita lengah mereka terseret ARUS  SUNAMI  negative. Begitu patuhnya putra – putri kita di rumah  , eh… ternyata diluar anak kita tidak bisa memfilter Informasi negative.  Kalau sudah begini SIAPA YANG SALAH  ???????&lt;br /&gt;Dan yang lebih mencemaskan lagi ternyata  anak – anak kelas 5 EsDe saja juga sebagian pernah melakukan hal yang sama……… Duh…duuuuuhhhhhhh….mau jadi apa anak – anak kita ini ……. &lt;br /&gt;Bapak – Ibu , Papa-mama , Ayah –Bunda ,……  ternyata setelah di evaluasi , diteliti dan dicermati anak – anak yang mudah terseret ARUS  GLOBALISASI  negative  90 %  mereka – mereka ini masuk sekolah / disekolahkan Ortunya  dengan usia yang “ BELUM MATANG”.  Kata Si Anak… “ Ah… bosen belajar terus …capek… mendingan cari hiburan yang lebih asyik.”  Ya….ada yang facebook – kan , games online –nan, atau sekedar iseng nonton BeEf.&lt;br /&gt;Belum lagi kejadian Sweeping Internet yang baru – baru ini dilakukan para aparat,….e..e… ternyata yang terjaring  juga anak - anak remaja yang memang dari awalnya kurang matang bersekolah , yang akhirnya…. Jadi muncul sensasi – sensasi negative .&lt;br /&gt;“ Coba kau renungkan….. coba kau pikirkan ….bagaimana kalau…… anak – anak jadi berantakan………”  “ Coba kau renungkan….. coba kau pikirkan ….bagaimana kalau…… anak – anak bebas  internatan………”  “ Coba kau renungkan….. coba kau pikirkan ….bagaimana kalau…… anak – anak nonton Begituan………”  “ Coba kau renungkan….. coba kau pikirkan ….siapa sekarang  yangharus disalahkan………”&lt;br /&gt;He…he… kok jadi nyanyi sih……. Tapi tolong donk  DIRENUNGI  !!!!!!!  Kalau nasi sudah jadi bubur , harus diolah jadi bubur ayam yang tetap enak rasanya…..&lt;br /&gt;( Ternyata kejadian ini banyak ditemui juga oleh temen – temen yang menekuni dan berkecimpung didunia anak – anak )&lt;br /&gt;NB  :  Mengapa  Usia  “Enam”  tahun  Menjadi  Penting …….&lt;br /&gt;Sebuah Ilustrasi sederhana.&lt;br /&gt;Anto Seorang anak Kelas 2  disebuah sekolah Full day school  di Jakarta saat ini mulai sering marah – marah tanpa sebab , yang jelas disamping itu ia seringkali malas – malasan belajar , banyak alasan dilontarkan  , mulai dari capek , mau nonton dulu  atau mau beraktivitas yang lain dulu  dan masih banyak lagi alasannya. Satu permasalahan seperti berikut ini :&lt;br /&gt;Suatu sore Anto sedang asyik bermain mobil – mobilan yang minggu lalu baru dibelikan ayahnya dari Malaysia,  tiba – tiba ia dipanggil ibunya :&lt;br /&gt;“ Anto !!! “  seru sang ibu dari ruang  keluarga sambil membawa lembaran kertas berisi jadwal  ulangan semester ganjil SD  kelas 2 anaknya.&lt;br /&gt;“ Iya  Bu….. sebentar.”  Jawab  Anto masih sambil asyik bermain mobil – mobilan.&lt;br /&gt;“ Anto….. cepat kesini …..  Ibu juga penting !!!” tegas sang ibu sambil membaca urutan jadwal materi pelajaran yang diujikan.&lt;br /&gt;“ Sebentar …. Kenapa sih Bu….. kan Anto lagi main mobil – mobilan.” Jawab Anto sambil menghampiri ibunya .&lt;br /&gt;“ Lihat ini.  Besuk pagi kamu mau ujian semester… Sekarang kamu harus belajar!!!”. Tegas ibu. &lt;br /&gt;“ Sudah sekarang belajar dulu …. Besuk bermainnya dilanjutkan lagi.” Tambah ibu sambil memberikan buku – buku untuk dipelajari anaknya.&lt;br /&gt;Akhirnya dengan berat hati Anto  belajar ditemani ibunya…………………&lt;br /&gt;Kejadian semacam ini seringkali terjadi , bahkan anak belum sempat mengemukakan alasan – alasannya. Apalagi kalau didapati nilai anaknya kurang , pasti akan lebih serius lagi control terhadap anaknya.&lt;br /&gt;Apa sebenarnya yang sedang terjadi pada anak , dan apa yang sedang dialami orang tuanya.&lt;br /&gt;“ BIJAKSANA”  Itulah kata yang semestinya ada pada semua orang tua. Mari kta coba telusuri satu persatu.&lt;br /&gt;1. SUDUT PANDANG  KONSENTRASI.&lt;br /&gt;Dari hasil penelitian , survey dan literature  ternyata anak usia 6 tahun  rata- rata memiliki kemampuan berkonsentrasi kurang lebih 10 menit setiap jamnya. Jadi dalam  24 jam seorang anak mampu berkonsentrasi selama kurang lebih  240 menit atau  4 jam.&lt;br /&gt;Sekarang kita lihat kenyataannya.&lt;br /&gt;• Anak sekolah yang biasa , rata – rata memerlukan waktu belajar  dari jam 07.00  sampai jam 10.00.  Berarti anak melakukan aktivitas formal  kurang lebih 3 jam , artinya anak masih memiliki waktu kurang lebihnya 1  jam untuk belajar dirumah ( mengerjakan PR , atau  Kursus – kursus yang dijalani anak ). &lt;br /&gt;• Anak sekolah Full day , rata – rata memerlukan waktu belajar dari jam  07.00 sampai dengan jam 14.00. Berarti anak melakukan aktivitas formal kurang lebih 7 jam , artinya dalam setiap hari anak mengalami devisit waktu formal  3 jam setiap harinya. kalau demikian apa yang harus dilakuan oleh anak dan orang tua dirumah , haruskah anak masih belajar dirumah ???? atau masih sempatkah anak mengikuti les tambahan pelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. SUDUT PANDANG WAKTU BERMAIN&lt;br /&gt;Seorang anak memang sangat memerlukan banyak waktu untuk bermain , bahkan dalam sebuah teori Emosional anak , ternyata sampai umur 7 tahun  70 – 80 % dunianya bermain, ini artinya sebagian besar waktu anak adalah bermain. Lalu bagaimana kalau waktu bermain anak menjadi berkurang ??????  ( tentu jawabannya sederhana “anak menjadi tidak setabil emosionalnya” ) &lt;br /&gt;Atau bagaimana sih mestinya anak bermain itu ??? &lt;br /&gt;Kata “BERMAIN” identik dengan sepontanitas anak melakukan aktivitas yang menyenangkan sesuai dengan tingkatan usianya.&lt;br /&gt;Lalu apakah Anak disekolah jam istirahat itu juga bermain ????&lt;br /&gt;Jawabnya bermain disekolah kategori masih dalam batasan waktu formal , sehingga bermain jam istirahat sekolah  belum termasuk kategori bermain, Kenapa??? karena tidak spontanitas anak.&lt;br /&gt;Sebuah ilustrasi :&lt;br /&gt;“ Anda ditempat kerja ingin beristirahat di sofa ruangan kerja anda pada waktu jam istirahat , semisal anda tidur – tiduran . Yang jadi pertanyaan  seandainya anda tidur – tiduran dirumah anda sendiri , Mana yang lebih enak anda rasakan , Apakah tidur – tiduran di sofa kantor atau tidur – tiduran dirumah  ???”&lt;br /&gt;Seorang ahli psikologi anak mengatakan “ Sekarang silahkan bermain….  atau  Yuk….bermain yuk….atau  sekarang sudah waktu istirahat silahkan bermain !!!”   Ungkapan diatas menurutnya bukan kategori  bermain untuk anak , karena tidak “SPONTANITAS” &lt;br /&gt;Nah sekarang kembali lagi pada permasalahan bermain . Sudah cukupkah waktu bermain anak – anak kita ??????&lt;br /&gt;Memilihkan sekolah yang tepat untuk anak bukanlah pekerjaan yang mudah , salah menentukan bisa berdampak negatif untuk perkembangan anak – anak kita. Untuk itu perlu di fahami Kesiapan EMOSIONAL  dan kesiapan AKADEMIK – nya. Kalau hanya salah satunya saja tentu kurang seimbang., Bisa jadi anak sangat labil dan sensitive diusia remaja atau dewasanya nanti.&lt;br /&gt;A. Kesiapan Emosional. Artinya anak mampu menghadapi permasalahan – permasalahan emosional yang dihadapi , sehingga anak mampu mengendalikan diri secara optimal. Dua hal  persyaratan misalnya :&lt;br /&gt;• Usia anak lebih dari  6 tahun&lt;br /&gt;• Mampu berkomunikasi aktif , terutama hal-hal yang menyangkut dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Kesiapan  Akademik. Artinya anak mampu menyelesaikan permasalahan – permasalahan yang terkait dengan akademik ( Sesuai tahapan Usia anak ), terutama kesiapan daya pikir dan penalaran anak. &lt;br /&gt;• Verbal : &lt;br /&gt;Mempu mengenal , membedakan dan mengucapkan huruf&lt;br /&gt;Mampu merangkai beberapa huruf menjadi beberapa suku kata&lt;br /&gt;mampu mambaca  dua suku kata  sederhana.&lt;br /&gt;• Logika :&lt;br /&gt;Mampu mengenal , membedakan dan mengucapkan  anka – angka&lt;br /&gt;Mampu mengerjakan penjumlahan dan pengurangan  sederhana , &lt;br /&gt;Dua hal tersebut tentunya belum sepenuhnya menjamin anak siap , masih banyak hal – hal yang perlu difahami oleh orang tua dalam memilihkan sekolah untuk anak. &lt;br /&gt;PERMASALAHAN :&lt;br /&gt;1. Bagaimana kalau usia anak kurang dari  6  tahun.&lt;br /&gt;2. Bagaimana Kalau terlanjur ,  sedangkan usia anak masih kurang.&lt;br /&gt;3. Bagaimana memilih sekolah yang tepat untuk anak – anak kita Sekolah biasa atau Sekolah Full day.&lt;br /&gt;4. Apa yang harus dilakukan orang tua ?????&lt;br /&gt;5. Dan masih banyak lagi permasalahan – permasalahan yang belum terjawab.&lt;br /&gt;Untuk tahu jawabannya ikuti program “ Exclusive Bina Kreatif ”&lt;br /&gt;1. Parenting  Course &lt;br /&gt;2. Children Psychology  Test&lt;br /&gt;3. Basic Personality test  ( Parents  Psychology  test )&lt;br /&gt;4. Family Consulting&lt;br /&gt;INFORMASI :  TELP  :   021  87987089      HP :  08151853874  (  WIWIN  ,  DEVI  ,  NURUL )&lt;br /&gt;Note : Nara Sumber  Akhir Winardi , Master Psi.   &lt;br /&gt;Bina kreatif  , April  2010&lt;br /&gt;Sebuah renungan dari  Kak Wien  yang mencintai dunia anak – anak.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4214269774589169133-643119723488224697?l=binakreatif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://binakreatif.blogspot.com/feeds/643119723488224697/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4214269774589169133&amp;postID=643119723488224697' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4214269774589169133/posts/default/643119723488224697'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4214269774589169133/posts/default/643119723488224697'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://binakreatif.blogspot.com/2010/03/obrolan-pagi-ala-kak-win.html' title='OBROLAN  PAGI  ala Kak Win'/><author><name>Kak Wien</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_IjcvEQdax7w/SVmhO3r18gI/AAAAAAAAAEE/mGgzTLHEGB8/S220/Poster+Kakwin.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4214269774589169133.post-3321654128740098884</id><published>2010-02-08T05:26:00.002+07:00</published><updated>2010-02-08T05:36:52.583+07:00</updated><title type='text'>REHAT  PAGI  LEBIH  SEGAR</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_IjcvEQdax7w/S29AZL9_6dI/AAAAAAAAASI/6THHWe0vEF8/s1600-h/icha+%26+fian.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 178px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_IjcvEQdax7w/S29AZL9_6dI/AAAAAAAAASI/6THHWe0vEF8/s200/icha+%26+fian.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5435634076713216466" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;BINA KREATIF  talk about…………………..&lt;br /&gt;“ PRE TEEN”&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;AYAH….IBU….&lt;br /&gt;AKU UDAH GEDE……..!!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dalam  hampir di setiap pertemuan Parenting Course yang kami adakan dengan pihak sekolah yang menjadi member  kami, banyak dijumpai orang tua yang mengeluhkan tentang anaknya yang  berusia 10 tahun keatas. Dalam satu kasus pernah seorang ibu merasa bingung dengan perubahan sikap anaknya yang berbalik 180 derajat. “ Anak saya dulunya sangat penurut, tidak banyak tingkah, dan tidak punya masalah disekolah. Awalnya saya pikir ia stress menghadapi pelajaran sekolah, tetapi prestasinya baik – baik saja tuh…..guru disekolah juga tidak mengeluh tentang  sikapnya disekolah. Tapi kenapa ya akhir – akhir ini ia terlihat agak pendiam dirumah, dan kalau adik atau kakaknya menggoda sedikit saja ia sudah menunjukkan marah yang luar biasa.emosinya meledak- ledak….ada apa ya?”&lt;br /&gt;Ayah……Ibu……. menjadi orang tua adalah sebuah kehormatan yang luar biasa yang telah diberikan Tuhan pada kita. Sebuah tugas mengemban amanah yang penuh dengan tantangan yang ternyata bisa menakutkan bagi kita.  Bagaimana tidak? “ Tugas” ini memberikan banyak sekali kejutan yang mungkin tidak pernah kita alami atau tidak pernah kita bayangkan sebelumnya dan mungkin saja tidak akan kita jumpai lagi dimasa yang akan datang. Dulu kita pernah berpikir akan menjadi orang tua yang sempurna bagi anak kita. Namun apa yang terjadi…? Ketika anak – anak bertambah usia dan memasuki fase yang berbeda, banyak orang tua yang kalang kabut bak orang kebakaran jenggot menghadapi segala tingkah polah anaknya yang sungguh diluar dugaan. &lt;br /&gt;Ayah…Ibu…. Dalam rentang usia 9 - 11 tahun adalah awal dimulainya masa pra pubertas. Batasan usia ini bervariasi pada setiap tempat dan kondisi. Ada yang mengalami lebih cepat atau bahkan lebih lambat. Pada masa ini dalam diri anak mulai terjadi transisi dari masa kanak- kanak ke masa remaja.&lt;br /&gt; Setiap orang tua pasti menginginkan segala sesuatunya berjalan stabil, oleh karena itulah perubahan yang terjadi pada anak prapubertas terkadang menimbulkan goncangan yang membuat segalanya kacau balau. Jika diibaratkan masa kanak- kanak adalah sebuah pelabuhan maka anak kita bagai kapal yang tertambat dengan aman didalamnya. Ia terawat dengan baik, segala keinginannya terpenuhi, berlabuh di air yang tenang. Selama masa tenang itulah ia mendapat berbagai macam “ilmu berlayar” seperti bagaimana mengendalikan kemudi, membentangkan layar, menghadapi badai, dll.  Namun ketika jangkar diangkat, sang kapal harus siap berhadapan dengan samudera luas yang penuh dengan tantangan. Demikian halnya dengan anak – anak kita, dengan bertambahnya usia semakin banyak ilmu yang diperoleh baik itu dari sekolah, teman, televisi atau bahkan internet. Dan yang harus dicatat dan diperhatikan oleh para orang tua adalah kenyataan bahwa anak mulai sadar bahwa orang tuanya bukanlah sosok  sempurna dimata mereka. Jadi jangan heran jika anak kita jadi lebih sering membantah kata – kata kita. “ Enggak gitu pa………., kata ayahnya Andi kan gini….gini…gini……..” dengan semangat menjelaskan argumentasinya tanpa menghiraukan kita sebagai orang tua yang merasa sudah kalah saing dengan orang lain. Lantas bagaimana ya menghadapi anak di usia – usia ini?&lt;br /&gt;Masa prapubertas sebenarnya bukanlah masa paling penting dalam siklus perkembangan anak  namun  bisa jadi masa – masa yang menyulitkan bagi orang tua dan anak. Yang paling bertanggung jawab terhadap perubahan tersebut adalah hadirnya HORMON PERKEMBANGAN. Kehadiran hormon ini menyebabkan perkembangan diberbagai aspek kehidupan anak. Mulai dari fisik, seksual, psikis, intelektual maupun moral. Kehadiran hormon Estrogen contohnya, membuat payudara anak perempuan membesar dan kadang merasa sakit, pinggul juga mengembang, dan muncul rambut di ketiak. Hal ini tentunya membuat anak merasa tidak nyaman dan seringkali merasa malu. Belum lagi tidak lama setelah ini anak perempuan mulai mengalami menstruasi dan  muka mulai jerawatan.  Atau mulai bekerjanya hormone Testoteron yang membuat perubahan pada anak laki-laki, suaranya mulai berubah begitu pula alat kelaminnya. Muka mulai ditumbuhi kumis tipis diwajahnya atau seperti pada perempuan mulai timbul jerawat, mulai ditumbuhi rambut di beberapa bagian tubuh. Hal yang paling membingungkan bagi anak apalagi jika orang tua tidak cukup membekali  anak dengan pengetahuan seks sejak dini.  &lt;br /&gt;Bekerjanya hormone perkembangan ini pula yang harus bertanggung jawab terhadap perubahan mood pada anak. Emosi bisa naik dan turun tidak menentu. Kondisi  inilah yang menyebabkan anak – anak menjadi gelisah, bingung, cemas, gundah,takut, dan berbagai perasaan lainnya. Anak mungkin menjaga jarak dengan orang tuanya dan lebih banyak menghabiskan waktu dengan teman sebaya. Mungkin saja ini disebabkan karena teman sebaya juga mengalami hal yang sama sehingga ia merasa memiliki teman senasib sepenanggungan yang bisa diajak bicara. &lt;br /&gt;Ayah… Ibu…. saingan kita sebagai orang tua disekitar anak sangat banyak lho…. Mulai dari teman – teman sebaya anak, televisi, game/PS, Internet, majalah,dan masih banyak lagi. Apakah kita rela membiarkan anak lebih asyik chatting dengan teman dari dunia maya dan malah cuek dengan kehadiran kita didekatnya?   Akses pertemanan mulai merajalela melalui FaceBook sementara orang tua malah buta sama sekali dengan internet. Anak yang haus dengan keingin tahuan yang dalam mengenai seks  pada akhirnya lebih memilih mencari informasi melalui orang lain atau situs – situs porno daripada melalui orang tuanya sendiri karena belum apa – apa orang tua sudah menutup rapat akses tersebut.  Banyak orang tua yang apabila anaknya bertanya tentang masalah seks malah menghindar dengan alasan tabu atau risih membicarakannya. Kalau anak bertanya “Ma….kenapa ya burungku ( maaf, maksudnya penis) jadi membesar kalau dipegang?” bukannya menjawab secara ilmiah malah mengalihkan   “Hus….kecil – kecil ngomong jorok, udah ntar juga kamu tahu.” Akibatnya anak jadi malas bertanya pada kita. ”Toh ntar aku dianggap masih anak kecil dan malu – maluin.” Maka hilanglah kesempatan emas  kita untuk  berkomunikasi dengan anak. Dampak lainnya , anak jadi punya pandangan negatif mengenai seks. Padahal informasi tentang seks yang diterima anak melalui orang lain atau  media informatika belum tentu dapat dipertanggung jawabkan secara moral. Apalagi dunia hiburan cenderung mengidentifikasikan seks secara vulgar dan dekat dengan hal- hal yang diharamkan agama. Seandainya saja orang tua bisa mengkomunikasikan pengetahuan tentang seks secara ilmiah, banyak sekali keuntungan yang didapatkan anak antara lain anak punya pandangan positif mengenai seks, anak lebih menghargai dirinya, bisa menjaga diri dan kehormatannya dan menganggap cinta dan kasih sayang adalah mukjizat dan keagungan Tuhan yang patut disyukuri. Toh berbicara seks tidak hanya sebatas urusan pemuasan nafsu biologis semata, tapi bagaimana cara kita menghargai diri sendiri dan orang lain, bagaimana memperlakukan lawan jenis, bagaimana cara kita mengungkapkan kasih sayang, memahami perubahan – perubahan yang terjadi pada tubuh, memahami bagaimana siklus hidup manusia dari hanya setetes mani sampai berbentuk sempurna, dan banyak lagi hal yang bisa diangkat dari pokok bahasan ini. Bukankah kita bisa mengaitkan semua itu dengan Keagungan dan Kebesaran Tuhan.&lt;br /&gt;Masa pra pubertas juga ditandai dengan munculnya privasi anak. Anak sudah tidak mau terlalu dicampuri urusannya oleh orang tua. Ia ingin membuktikan bahwa dirinya sanggup menyelesaikan masalahnya sendiri. Tidak usah heran jika ada anak yang begitu kesal kalau orang tua mulai melancarkan “ interogasi” layaknya seorang polisi. Maksudnya memang bener sih……, untuk mengontrol kegiatan anak. Tapi kalau caranya salah, anak bukannya dekat dengan orang tua tapi malah menjauhi. Mereka lebih senang main rahasia dibelakang kita. Main rahasia saat naksir lawan jenis, rahasia waktu pertama kali nyoba ngerokok, rahasia punya pacar sampai harus backstreet, tapi jangan sampai rahasia nyoba narkoba atau pergaulan bebas  ya….. naudzubillahi min dzalik!!!&lt;br /&gt;Kehadiran sosok idola makin mewarnai kehidupan anak diusia pra pubertas.  Anak mulai mencari figure lain yang dianggap mampu mengisi kekurangan yang tidak ia dapatkan dan miliki. Ingat…… anak sudah merasa orang tua bukan sosok sempurna melainkan manusia biasa yang penuh kekurangan sama dengan dirinya. Sosok idola ini mungkin belum sampai pada aktor/aktris, penyanyi atau pahlawan nasional, tetapi sosok ini biasanya yang paling dekat dan sering berinteraksi dengan anak selain orang tuanya. Beberapa anak yang kami survey menyebutkan sosok itu bisa saja om,tante,guru sekolah,guru privat, guru music, pelatih olah raganya, dsb. Alasannya juga masih sangat sederhana, figure ini dianggap “penuh perhatian dan baik hati.”  Lho…….bukannya ayah ibu malah lebih perhatian?  Dengan lugunya mereka menjawab, “ abis aku sering dimarahin sih, mama bawaannya curiga melulu, nanya melulu, aku kan bukan anak kecil lagi, aku udah gede……..” &lt;br /&gt;Disinilah peran orang tua sebagai sahabat dibutuhkan untuk memberikan penjelasan kepada anak dan mengarahkan anak kepada hal – hal yang positif. Sahabat itu bukan orang yang kerjanya men-justice dan ngomel sepanjang hari mengomentari kekurangan anak lho..! tetapi  sosok yang bisa menjadi pelabuhan bagi anak saat ia lelah mengarungi samudera kehidupan yang luas ini, bisa memberikan ketenangan disaat ia bingung dengan goncangan – goncangan kehidupan dan bisa memuaskan dahaganya atas keingin tahuan yang besar atas kehidupan ini.&lt;br /&gt;Kebanyakan problem mendasar bagi orang tua dalam menghadapi anak pra pubertas adalah kurangnya waktu untuk berkomunikasi dan bagaimana cara berkomunikasi yang paling efektif. Yang harus diigat bahwa komunikasi tersebut harus bisa menghargai posisi anak sebagai subyek bukan hanya sekedar obyek. Komunikasi yang sehat harus berjalan dua arah, artinya anak pun punya kesempatan yang sama untuk mengungkapkan pendapatnya. Bagi yang pernah punya pengalaman masa kecil dengan orang tua otoriter sangat tidak menyenangkan bukan? Kalau kita mengeluarkan pendapat sedikit saja, sudah dianggap ngelawan orang tua, dianggap anak durhaka, waduh…gawat. Tapi itu dulu…….!  Kalau saat ini kita nekat menerapkan  pola asuh warisan leluhur, wah……..bisa- bisa kita jadi musuh nomor 1 anak. Oleh karena itu tidak salah kata – kata bijak yang mengatakan  “Didiklah anakmu sesuai dengan jamannya”. Nah sekarang jamannya komunikasi tanpa batas, jadi… ya orang tua harus bisa bersaing dengan tv,internet, dan media komunikasi lainnya. Kalau dulu hiburan cuma TVRI sekarang beratus – ratus chanel bisa dijelajahi anak. Kalau dulu kita harus keluar rumah untuk mendapat teman, sekarang anak tinggal duduk manis dikamar dan asyik dengan FaceBooknya. &lt;br /&gt;Bagaimana ayah…ibu….apakah anda siap menjalin komunikasi dengan anak anda sebelum segalanya menjadi terlambat?&lt;br /&gt;Beberapa tips yang bisa diterapkan orang tua dalam menghadapi anak di masa pra pubertas:&lt;br /&gt;1. Terima anak apa adanya dan bersyukur atas kelebihan dan kekurangan anak kita. Jangan sekali – kali menginginkan anak kita seperti kita dahulu atau seperti anak lain. Misalnya mentang – mentang sang Bunda dulunya suka gaul lantas memaksakan anaknya yang orang rumahan harus bisa seperti sang Bunda. Atau melihat tetangga yang anaknya berprestasi bidang akademis, kita memaksakan anak untuk bisa rangking satu di kelas. Dengan menerima anak apa adanya maka anak akan merasa dihargai sebagai sosok individu, merasa dihormati dan merasa istimewa. Bantu anak menghadapi kelemahannya dan mendorong potensi/kelebihan yang dimilikinya.&lt;br /&gt;2. Jalin komunikasi yang sehat secara terus menerus. Ingat…! Jangan bersikap seperti polisi yang sedang menginterogasi dan memposisikan anak seperti obyek pesakitan tetapi posisikan anak sebagai subyek yang bisa juga mengemukakan pendapat. Hilangkan anggapan anak suka melawan ortu dsb. Anak tidak bermaksud merendahkan orang tuanya kok, tetapi hanya ingin menyuarakan pendapatnya saja. Hal ini tentu tidak akan menghilangkan wibawa orang tua dimata anak.&lt;br /&gt;3. Hormati privasi anak. Biar bagaimanapun anak sudah merasa sebagai individu yang mandiri.  Jika orang tua terus menerus ingin turut campur dalam privasi anak bukan tidak mungkin hal ini malah akan mengikis jiwa mandirinya. Dalam hal ini orang tua hanya bisa memberi pendapat tanpa intervensi terlalu jauh. Jangan buru – buru menganggap anak telah menolak kehadiran anda atau menghiraukan anda, mereka hanya butuh sedikit ruang untuk menemukan jati dirinya.&lt;br /&gt;4. Bantu anak untuk memahami suatu kondisi. Berikan pandangan positif atau negatif tentang suatu hal sehingga anak melatih diri untuk bisa melihat masalah dari dua sisi yang berbeda dan mampu mengambil keputusan yang terbaik terhadap suatu masalah.&lt;br /&gt;5. Hormati segala keputusan dan tindakan yang diambil anak apapun hasilnya. Hal ini akan melatih tanggung jawab atas resiko yang muncul dari tindakannya. Jika ia melakukan kesalahan jangan buru - buru ber”negative thinking” dan menghukumnya. Bukankah pengalaman adalah guru yang terbaik.&lt;br /&gt;6. Penuhi rasa ingin tahunya seputar pendidikan seks semenjak dini. Pengetahuan seks yang diberikan secara benar dan ilmiah akan jauh dari kesan vulgar kok. Jadi jangan ragu memberi informasi seputar seks kepada anak anda sesuai dengan tingkat usia dan perkembangan daya nalarnya.&lt;br /&gt;Ayah……Ibu…… dalam menjalankan peran kita sebagai orang tua mungkin kita tidak akan menjadi orang tua yang sempurna, tapi kita bisa menjadi orang tua yang baik dan bahkan menjadi orang tua hebat yang suatu saat nanti bisa dibanggakan anak. Untuk itu setiap orang tua perlu menerapkan hal mendasar dan utama yaitu mendidik dengan kasih sayang, menyediakan cukup waktu untuk berkomunikasi, jadilah sahabat terbaik bagi anak dan rasa percaya diri yang kuat untuk bisa mendampingi anak di setiap fase perkembangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Depok, Pebruari  2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4214269774589169133-3321654128740098884?l=binakreatif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://binakreatif.blogspot.com/feeds/3321654128740098884/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4214269774589169133&amp;postID=3321654128740098884' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4214269774589169133/posts/default/3321654128740098884'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4214269774589169133/posts/default/3321654128740098884'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://binakreatif.blogspot.com/2010/02/rehat-pagi-lebih-segar.html' title='REHAT  PAGI  LEBIH  SEGAR'/><author><name>Kak Wien</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_IjcvEQdax7w/SVmhO3r18gI/AAAAAAAAAEE/mGgzTLHEGB8/S220/Poster+Kakwin.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_IjcvEQdax7w/S29AZL9_6dI/AAAAAAAAASI/6THHWe0vEF8/s72-c/icha+%26+fian.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4214269774589169133.post-4026148638112927094</id><published>2009-12-29T12:13:00.002+07:00</published><updated>2009-12-29T12:23:21.683+07:00</updated><title type='text'>SMART  PARENTING  SD IT  ASSA'ADAH JKT</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_IjcvEQdax7w/SzmSIOIWDkI/AAAAAAAAASA/TX2xQyJO31A/s1600-h/ASSAADAH+2.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_IjcvEQdax7w/SzmSIOIWDkI/AAAAAAAAASA/TX2xQyJO31A/s200/ASSAADAH+2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5420524296446807618" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bina Kreatif Talk about… &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;PERAN ORANG TUA DAN GURU DALAM&lt;br /&gt;MENYIKAPI PROBLEM ANAK DI SEKOLAH&lt;br /&gt;Disusun oleh: Tim BINA KREATIF&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Disuatu kesempatan konsultasi, kami pernah menjumpai seorang ibu yang merasa kebingungan dengan tingkah anaknya yang sekarang duduk di kelas 2 SD. Masalahnya si buah hati, sebut saja namanya Ari sudah hampir sebulan ini mogok sekolah dan terkesan malas – malasan belajar. Padahal menurut sang ibu, Ari dulunya termasuk anak yang pandai. Ia mulai bisa membaca dan berhitung pada usia 3 tahun. Ketika Ari mengikuti psikotes kecerdasan, nilai IQnya tergolong tinggi dan masuk dalam kategori Very Superior. Di TK dulu, Ari meraih predikat anak berprestasi dan termasuk anak yang paling menonjol dibandingkan teman – teman lainnya. Suatu kondisi yang menurut orang tuanya, Ari akan sanggup melewati masa- masa pendidikan di SD dengan mudah. Wajar saja orang tua Ari menjadi bingung dengan kenyataan yang ada saat ini. Ketika kami adakan observasi lebih lanjut, terungkap kalau Ari sudah masuk ke SD ketika masih berusia 5 tahun. “ Habis gimana ya Pak Win…….. kan sayang kalau anak sepandai Ari harus nganggur setahun untuk masuk SD. Apalagi saat itu Ari sangat semangat sekali ingin sekolah.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tugas pengasuhan anak dan pendidikan anak yang paling utama  sebenarnya adalah di rumah. Keluarga adalah teladan bagi anak untuk mempelajari segala sesuatu baik yang bersifat akademis maupun non akademis, yang bersifat verbal maupun non verbal. Orang tualah yang bisa bertindak sebagai observer,guru,pengasuh,dan pendidik yang baik bagi anak anaknya. Orang tua paling tahu sifat dan karakter anak,kelebihan dan kekurangan anak sehingga sebagai orang yang pertama paham bagaimana cara memperlakukan anak. Pola asuh yang diterapkan orang tua di rumah secara tidak langsung akan berimbas ke lingkungan sekolah.&lt;br /&gt; Lalu bagaimana agar terjadi keselarasan antara pendidikan anak di sekolah dan dirumah? Yang paling penting adalah adanya komunikasi yang baik antara pihak sekolah terutama guru kelas dengan orang tua.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tugas pendidikan anak tidak bisa dibebankan sepenuhnya ke sekolah.  Memasukkan anak kesebuah sekolah tidak seperti menitipkan bahan kain ke penjahit yang setelah menjadi sebuah baju bisa langsung dipakai. Begitu orang tua memutuskan akan memasukkan anaknya ke sebuah sekolah, saat itu pula sudah ada komunikasi antara sekolah dan orang tua. Pihak sekolah sudah harus terbuka mengenai materi pelajaran, sistem pengajaran dan fasilitas apa saja yang akan diberikan selama kegiatan sekolah berlangsung. Pihak sekolah bertanggung jawab untuk memberikan cara- cara belajar kepada anak- anak dan orang tua bertanggung jawab membantu belajar anak dan memberi motivasi kepada anak.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibutuhkan kerjasama yang baik antara orang tua dan sekolah. Mungkin kerjasama yang diharapkan tidak mudah untuk dilaksanakan. Hal ini bisa saja karena keterbatasan waktu pertemuan guru dengan orang tua bisa karena kedua orang tua bekerja ataupun karena faktor orang tua tunggal. &lt;br /&gt;Orang tua perlu mengetahui target pencapaian pendidikan disekolah, untuk kemudian berkolaborasi dengan guru mendorong anak mencapai target yang diinginkan. Contoh sederhana seperti yang dialami Fira (nama samaran) berumur 6,7 tahun seorang murid kelas 1 Sekolah Dasar. Waktu di TK dulu, Fira termasuk anak yang mandiri. Namun entah mengapa diawal masuk Sekolah Dasar Fira tidak mau ditinggal ibunya. Ibu harus tetap berada di sekolah dan berdiri di balik jendela supaya terlihat olehnya. Kondisi ini sempat berjalan 3 bulan. Setelah ditelusuri ternyata Fira termasuk anak yang agak lambat beradaptasi dengan lingkungan baru dan akibat pengaruh pola asuh orang tua yang sedikit otoriter. Fira mengalami krisis percaya diri. Kondisi ini diperparah karena guru kurang tanggap menyikapi permasalahan anak. Guru menganggap ini adalah hal yang wajar mengingat secara akademis Fira tidak mengecewakan dan dari sisi usiapun sudah cukup matang. Akhirnya kami berusaha mempertemukan kedua pihak untuk saling berkomunikasi. Menghadapi kondisi seperti ini guru sebaiknya memulai insiatif untuk berkomunikasi dengan orang tua dan bersama sama mencari jalan keluar permasalahan tersebut. Akhirnya sedikit demi sedikit orang tua Fira berusaha mengubah pola asuh dan cara berkomunikasi dengan anaknya. Bu Guru pun lebih intensif melakukan pendekatan personal ke Fira. Sesekali Bu Guru berkunjung ke rumah Fira atau sekedar menyapa lewat telepon. Akhirnya sedikit demi sedikit rasa percaya diri Fira mulai muncul. Proses ini memang membutuhkan waktu dan tidak bisa instan. sebulan kemudian Fira menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Fira sudah mau ditinggal disekolah sendiri bahkan Bu Guru senang karena Fira sudah berani mengungkapkan keinginan dan perasaan kepada Bu Guru. Suatu pencapaian yang tentu saja melebihi target yang diinginkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk masuk ke tingkat Sekolah Dasar setiap anak harus memiliki tingkat kematangan yang cukup. Bagi anak- anak yang baru saja meninggalkan bangku TK, masuk ke SD rasanya sama saja seperti maju ke medan perang. Bayangkan saja, mereka harus beradaptasi dengan lingkungan sekolah yang baru, teman- teman yang baru, dan Bu Guru baru yang mungkin saja tidak seramah Bu Guru yang ada di TK. Di SD anak sudah tidak boleh ditunggui oleh orang tua, dan dalam mengerjakan tugas dikelas sudah tidak boleh dituntun oleh Bu Guru,kalau ada PR tidak boleh dikerjakan oleh orang tua, dan banyak hal lagi yang dialami anak. Tidak heran bahwa bulan- bulan pertama masuk kelas satu sebenarnya merupakan bulan depresi bagi anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kemampuan dalam hal kognitif, sosial, skolastik dan fisik pada dasarnya bisa dilatih dengan cepat, namun lain halnya dengan kemampuan emosi. Kematangan emosi tidak bisa di “karbit” karena perkembangannya sejalan dengan pertambahan usia anak. Oleh karena itu bagi orang tua yang ingin memaksakan anaknya masuk SD padahal usianya belum cukup dan kondisi emosionanya belum matang,akan menemukan dampak- dampak yang cukup menyulitkan bagi anak maupun orang tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa dampak yang sering muncul adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Anak tidak mau ditinggal orang tua.&lt;br /&gt;2. Anak tidak mandiri dan bergantung pada bantuan guru dalam menyelesaikan tugas-tugas disekolah. Padahal perhatian guru dikelas terbagi untuk anak- anak yang lain. Akibatnya anak tidak pernah sanggup menyelesaikan tugas tugas di sekolah.&lt;br /&gt;3. Kesulitan dalam hal belajar. Kemungkinan anak mampu menyelesaikan tugas, namun karena anak sudah mengalami masa sulit di awal menyebabkan anak merasa terbebani dan kesulitan menyerap materi pelajaran.&lt;br /&gt;4. Sulit menyesuaikan diri dengan teman- teman di kelas.&lt;br /&gt;5. Mogok sekolah dan membolos. pada waktu tertentu anak merasa jenuh dengan kegiatan belajarnya karena beban berat dalam menyelesaikan tugas- tugas sekolah, maupun tuntutan dari orang tua yang selalu menginginkan anaknya meraih prestasi disekolah, atau ketidak mampuannya dalam membina hubungan dengan teman-temannya. Kondisi ini sering muncul ketika anak memasuki kelas tiga.&lt;br /&gt;6. Muncul kenakalan yang bersifat dekstruktif. Ketidak mampuan anak disekolah menjadikan anak mencari pelampiasan yang bisa menarik perhatian. Sayangnya bentuk cari perhatian ini kearah yang negative. Ini terjadi karena anak ingin menunjukkan bahwa ia bisa berkuasa terhadap teman- temannya.Muncullah perilaku suka mengganggu teman, memalak, menindas teman, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita semua tidak mau ini terjadi pada anak- anak kita bukan? mulai sekarang mungkin kita harus lebih jeli dan obyektif melihat kemampuan dan kebutuhan anak kita. Jika kita melihat anak kita belum memenuhi persyaratan emosional, tidak ada salahnya menunda usia masuk SD. Tidak perlu malu atau khawatir anak kita tertinggal dari teman- temannya yang lain. Karena langkah ini merupakan langkah terbaik yang bisa diambil. Dengan menunda waktu masuk SD, maka anak jadi punya waktu lebih untuk mengembangkan potensi dirinya dan lebih siap mengikuti pelajaran di SD. Bukankah awal yang baik akan membuka peluang bagi anak untuk lebih berprestasi disekolahnya kelak. &lt;br /&gt;Untuk orang tua yang sudah terlanjur memasukkan anak kejenjang SD dalam kondisi emosional yang belum matang, ada beberapa solusi yang bisa dicoba:&lt;br /&gt;1. Tidak memberi tuntutan yang terlalu tinggi kepada anak. Banyak orang tua yang secara tidak sadar menetapkan standar tinggi untuk prestasi anaknya. Contohnya, nanti kalau kamu dapat rangking 5 besar, mama/papa akan membelikan mainan kesukaanmu. Tapi apa yang terjadi ketika anak tidak bisa mencapai target tersebut? Tidak ada hadiah maupun penghargaan atas jerih payahnya selama ini. Apa yang seharusnya ibu/bapak lakukan?  Segera beri reward tanpa harus menunggu hasil “rangking 5 besar”, tetapi langsung saat anak sudah menunjukkan usaha maksimal untuk belajar. Jangan ragu memberikan pujian sekecil apapun usaha positif yang telah ia tunjukkan.&lt;br /&gt;2. Beri motivasi terus menerus, yakinkan anak bahwa ia bisa. Kalaupun ia tidak mampu masih ada ayah dan ibu yang siap membantu.&lt;br /&gt;3. Jadilah sahabat untuk anak. Kita dikatakan berhasil menjadi sahabat bagi anak kalau anak dengan leluasa menceritakan segala hal kepada kita tapa takut dimarahi ataupun dipojokkan. Kalau masih ada yang disembunyikan berarti kita hanya sebatas teman bagi anak.Memang susah menjadi sahabat bagi anak kita ya….. tapi tidak ada salahnya kan kalau mulai detik ini kita coba.Karena  bagaimanapun anak butuh orang yang bisa memahami perasaannya disaat ia merasa sedih, cemas ataupun takut.&lt;br /&gt;4. Lakukan pendekatan personal oleh ayah. Kedekatan anak dengan ayah biasanya mampu mestabilkan kondisi emosional anak yang sedang “down”.&lt;br /&gt;5. Pahami gaya belajar anak. Apakah anak kita Style Studynya Visual Style, Auditori Style atau Kinestetik Style.Begtu juga dengan gaya pemrosesan otak anak, apakah Analitik atau Holistic. Dengan memahami cara belajar anak kita, diharapkan kita dapat membantu dan lebih memahami kondisi anak saat belajar.&lt;br /&gt;6. Jangan ragu untuk membina hubungan dengan guru disekolah. Sering berdialog dengan guru tentang kondisi anak akan sangat membantu mengatasi kesulitan anak dikelas. Orang tua tidak bisa menyerahkan tugas mendidik anak 100% kepada guru. Ingat bahwa orang tualah pendidik anak yang utama.&lt;br /&gt;7. Ketika semua usaha sudah dilakukan, jangan pernah berpikir hasilnya akan muncul dengan tiba- tiba. Semua mengalami proses yang cukup memakan waktu. Keberhasilan program tidak lepas dari seberapa intensifnya orang tua, guru dan orang- orang disekitar anak berusaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ayah ibu………,harus diakui  Guru di sekolah tidak mempuyai cukup waktu untuk mengoptimalkan setiap aspek kecerdasan anak. Dengan waktu belajar yang singkat dan jumlah murid yang harus ditangani. Untuk itulah kerjasama yang sinergis  antara orang tua dan guru harus ditingkatkan.&lt;br /&gt;Sekolah yang baik perlu menerima secara terbuka saran dan kritikan dari orang tua. Karena dengan adanya saran maupun kritikan dari para orang tua menandakan para orang tua peduli terhadap proses pendidikan disekolah tersebut.&lt;br /&gt;Tetap semangat , kreatif dan sabar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bina Kreatif  2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4214269774589169133-4026148638112927094?l=binakreatif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://binakreatif.blogspot.com/feeds/4026148638112927094/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4214269774589169133&amp;postID=4026148638112927094' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4214269774589169133/posts/default/4026148638112927094'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4214269774589169133/posts/default/4026148638112927094'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://binakreatif.blogspot.com/2009/12/smart-parenting-sd-it-assaadah-jkt.html' title='SMART  PARENTING  SD IT  ASSA&apos;ADAH JKT'/><author><name>Kak Wien</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_IjcvEQdax7w/SVmhO3r18gI/AAAAAAAAAEE/mGgzTLHEGB8/S220/Poster+Kakwin.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_IjcvEQdax7w/SzmSIOIWDkI/AAAAAAAAASA/TX2xQyJO31A/s72-c/ASSAADAH+2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4214269774589169133.post-3334018971897663357</id><published>2009-12-29T05:51:00.001+07:00</published><updated>2009-12-29T06:04:03.821+07:00</updated><title type='text'>SEPUTAR PROBLEMATIKA ANAK</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_IjcvEQdax7w/Szk5QbvosAI/AAAAAAAAARc/ScuoejlUF_E/s1600-h/DSC00048.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_IjcvEQdax7w/Szk5QbvosAI/AAAAAAAAARc/ScuoejlUF_E/s200/DSC00048.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5420426581005348866" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Mama … aku nggak  mau  belajar ,  aku capek…&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Para orang tua dan guru yang berbahagia, suatu hari saya pernah diminta menjadi pembicara oleh salah satu pengelola TK yang ingin menyelenggarakan program parenting  kepada para orangtua muridnya. Tema yang diambilnya waktu itu ada CALISTUNG kependekan dari Baca, Tulis dan Hitung. Saya bertnya pada penyelenggara, apa yang diharapkan dari saya melalui tema ini?&lt;br /&gt;Begini, kami ingin memberikan pemahaman pada para orang tua bahwa di sekolah ini, kami belum mengajarkan Baca, Tulis dan hitung kepada anak di usia yang sangat dini. Namun masalahnya, para orangtua tetap saja ngotot dan terus meminta anaknya agar diajari Baca, Tulis dan Hitung.&lt;br /&gt;Kemudian saya bertanya lagi, “apa alasan para orang tua meminta anaknya diajari Baca, Tulis dan hitung?”&lt;br /&gt;Karena hampir semua sekolah dasar mewajibkan anak kelas 1 yang baru mendaftar harus sudah bias Baca, Tulis dan hitung.&lt;br /&gt;Para orangtua dan guru yang berbahagia, saya tidak pernah lupa kejadian ini. Saya juga heran dari mana asal-usulnya, mengapa setiap sekolah dasar mewajibkan siswa baru kelas satunya bisa CALISTUNG. Padahal jika kita bandingkan dengan pendidikan - pendidikan anak usia dini yang ada di Negara - negara maju, sama sekali tidak ada kewajiban semacam ini. Program untuk anak usia dini mayoritas adalah bermain. Karena bermain, bagi anak-anak, sama dengan belajar. Mereka baru diperkenalkan Baca, Tulis dan Hitung pada kelas tiga sekolah dasar (Elementary).&lt;br /&gt;Secara ilmiah, baru-baru ini saya membaca bahwa anak usia dini baru bisa memfokuskan organ visualnya pada objek tiga dimensi, oleh karenanya, alat-alat pembelajaran anak usia dini  yang baik adalah berbentuk tiga dimensi. Apabila anak usia dini dipaksa untuk belajar CALISTUNG yang pada umumnya menggunakan objek dua dimensi atau tulisan di papan tulis, maka si anak akan mengalami gangguan organ visual pada usia yang lebih muda.&lt;br /&gt;Para orang tua dan guru yang berbahagia , tahukah anda mengapa sekolah-sekolah yang ada di Negara maju tidak menekankan pada aspek Baca, Tulis dan Hitung, melainkan lebih menekankan pada aspek pengembangan kreativitas dan kemampuan berpikir / nalar anak?&lt;br /&gt;Menurut penelitian ilmiah, secara global kemampuan otak manusia  yang berkaitan dengan pembelajaran terbagi menjadi tiga hal besar. Pertama adalah kemampuan kreatif,  kedua adalah kemampuan berfikir / nalar, dan ketiga adalah kemampuan mengingat.&lt;br /&gt;Dari ketiga kemampuan ini, kemampuan mengingat merupakan kemampuan alami yang berifat pelengkap, sementara kemampuan kreatif dan berfikir mrupakan kemampuan utama dan vital yang akan membantu anak untuk mencapai sukses di kehidupannya kelak.&lt;br /&gt;Keberhasilan hidup seseorang lebih banyak ditentukan oleh kemampuan kreatif dan berfikirnya ketimbang kemampuan mengingatnya, atau dengan kata lain kemampuan mengingat (short term memory) hanya sebagai pelengkap saja.&lt;br /&gt;Namun sayangnya, yang terjadi pada system pendidikan kita malah sebaliknya. Sejak usia dini anak-anak sudah dipaksa untuk bisa CALISTUNG, yang sesungguhnya hanyalah sebuah proses untuk mngembangkan kemampuan mengingat jangka pendek anak (Short Term Memory Learning).&lt;br /&gt;Ternyata proses ini tidak hanya berhenti di suia dini saja, namun hingga dewasa mereka terus diajar dan diuji berdasarkan kemampuan mengingatnya dan bukan kemampuan kreatif atau nalarnya.&lt;br /&gt;Para orangtua dan guru yang berbahagia, berikut ini adalah salah satu contoh pertanyaan yang dulu pernah diujikan pada saat kita masih bersekolah. &lt;br /&gt;Apa yang terjadi antara 1825 s.d. 1830 ? Masih ingat pelajaran sejarah ? ya, pasti jawabannya adalah perang diponegoro. Para orangtua dan guru yang berbahagia, sementara saya pernah tanyakan pertanyaan yang sama pada anak-anak TK.&lt;br /&gt;“Nak,  siapa yang tahu apa yang terjadi antara 18.25 s.d. 18.30 ? Tiba-tiba seorang anak berteriak,” saya tahu!  Saya tahu! Itu waktunya adzan maghrib. “ Bagaimana menurut anda,  salahkan jawaban anak ini? Tentu saja jika ini menjawab untuk soal ujian nasional pasti akan disalahkan.&lt;br /&gt;Para Orang tua dan guru yang berbahagia, sejak kecil kita tidak pernah dinilai berdasarkan nalar kita dalam menjawab soal-soal. Sejak kecil kita juga tidak pernah diberi pertanyaan yang menggunakan nalar / berfikir seperti :&lt;br /&gt;Apa yang terjadi jika minyak bumi Indonesia habis ? Apa akibatnya ? ya, saat hal itu terjadi maka masyarakat kita menjadi panic. Karena sejak dulu tidak pernah dipertanyakan, apa lagi sempat dipikirkan.&lt;br /&gt;Para orang tua dan guru yang berbahagia, begitulah anak-anak kita telah dibesarkan dengan system pendidikan yang tidak melatih untuk berfikir kreatif. Jadi, wajar saja jika saat ini jumlah pengangguran baru dari lulusan akademi dan universitas terus membengkak. Sementara para pelajar lulusan SMA dan ederajat terus berebut menyerbu perguruan tinggi yang pada akhirnya juga akan menjadikan mereka hanya sebagai calon-calon pengangguran baru. Sayangnya ternyata mereka juga tidak menyadari hal ini, karena memang tidak pernah dilatih untuk memikirkannya.&lt;br /&gt;Para orangtua dan guru yang berbahagia, mari bersama-sama kita ciptakan sitem pembelajaran yang mengasah kemampuan berfikir anak! Bukan sekedar hafalan. Agar kelak mereka bisa melihat dan menciptakan peluang-peluang baru, bukannya melihat dan menciptakannya masalah baru bagi bangsa ini!&lt;br /&gt;Ingat, pasar bebas tenaga  kerja  sudah di depan mata. Zaman ketika persaingan  kualitas manusia akan semakin ketat! Apakah kelak anak-anak kita akan menjadi budak atau tuan rumah di negrinya sendiri, kitalah yang paling bertanggung jawab.&lt;br /&gt;Sebuah catatan artikel menarik tentang membaca dan menulis menjelaskan sebagai berikut :&lt;br /&gt;Anak yang diajari menulis dan membaca lebih awal ternyata membaca buku dan membuat tulisan jauh lebih sedikit daripada anak yang diajarkan baca dan menulis kemudian. Jauh lebih penting untuk menjaga rasa ingin tahu anak dengan mengembangkan kreativitas individunya daripada mengajarinya untuk membaca dan menulis diusia dini.&lt;br /&gt;Dan mungkin itulah sebabnya, kita semua, para orangtua yang dulu sejak kecil sudah di paksa untuk bisa membaca agar dianggap anak pintar dan mendahului anak lain, tetapi ironisnya kini malah menjadi orangtua yang jarang atau malas membaca. Apalagi untuk membuat tulisan.&lt;br /&gt;Begini  penjelasan alamiahnya. Apabila yang pertama kali dirangsang adalah otak kreatif dan rasa ingin tahu anak, maka anak-anak akan menyimpan segudang pertanyaan yang membutuhkan jawaban. Semakin banyak yang ingin diketahui anak maka semakin besar pula usaha untuk mencari jawabannya. Oleh karena itu, keinginan anak yang terpendam tersebut akan meledak apabila kemudian dia baru diajari bagaimana cara membaca dan menulis. Maka anak ini akan menjadi keranjingan untuk membaca dan menulis karena begitu banyak pertanyaan yang harus segera dijawab dan begitu banyak pengetahuan baru yang harus dia tulis.&lt;br /&gt;Namun sebaliknya, jika yang dirangsang pertama adalah membaca dan menulis, maka otak kreatif anak ini tergantung dari rangsangan awalnya dan memiliki periode kritis hingga usia 12 tahun. Anak yang waktunya lebih  terfokus untuk belajar membaca dan menulis sama sekali tidak memiliki ketertarikan, tidak punya pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab, oleh karenanya dia tidak banyak menggunakan kemampuan baca tulisnya.&lt;br /&gt;Mungkin itulah alas an mengapa system pembelajaran di kebanyakan Negara maju lebih mementingkan kreativitas daripada kemampuan membaca dan menulis pada anak-anak di usia dini.&lt;br /&gt;Mari kita renungkan kembali, seperti apakah anak-anak kita dirumah dan disekolah telah dididik?&lt;br /&gt;Bina Kreatif  Desember 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4214269774589169133-3334018971897663357?l=binakreatif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://binakreatif.blogspot.com/feeds/3334018971897663357/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4214269774589169133&amp;postID=3334018971897663357' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4214269774589169133/posts/default/3334018971897663357'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4214269774589169133/posts/default/3334018971897663357'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://binakreatif.blogspot.com/2009/12/seputar-problematika-anak.html' title='SEPUTAR PROBLEMATIKA ANAK'/><author><name>Kak Wien</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_IjcvEQdax7w/SVmhO3r18gI/AAAAAAAAAEE/mGgzTLHEGB8/S220/Poster+Kakwin.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_IjcvEQdax7w/Szk5QbvosAI/AAAAAAAAARc/ScuoejlUF_E/s72-c/DSC00048.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4214269774589169133.post-1856614579053527660</id><published>2009-10-25T05:18:00.001+07:00</published><updated>2009-10-25T05:27:03.675+07:00</updated><title type='text'>CALISTUNG UNTUK TK , SEJAUH MANA SIH?....</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_IjcvEQdax7w/SuN_H4RA-xI/AAAAAAAAARM/Vrm83y5TRq0/s1600-h/O33.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 112px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_IjcvEQdax7w/SuN_H4RA-xI/AAAAAAAAARM/Vrm83y5TRq0/s200/O33.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5396296551859550994" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bina Kreatif Talk about …….&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Artikel ini kami angkat kembali karena permintaan beberapa  orang tua , bagaimana cara mengarahkan belajarnya anak….&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Anak TK koq jadi tambah bingung…&lt;br /&gt;Hafalan “Short Term Memory - CaLisTung” &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Para orang tua dan guru yang berbahagia, suatu hari saya pernah diminta menjadi pembicara oleh salah satu pengelola TK yang ingin menyelenggarakan program parenting  kepada para orangtua muridnya. Tema yang diambilnya waktu itu ada CALISTUNG kependekan dari Baca, Tulis dan Hitung. Saya bertnya pada penyelenggara, apa yang diharapkan dari saya melalui tema ini?&lt;br /&gt;Begini, kami ingin memberikan pemahaman pada para orang tua bahwa di sekolah ini, kami belum mengajarkan Baca, Tulis dan hitung kepada anak di usia yang sangat dini. Namun masalahnya, para orangtua tetap saja ngotot dan terus meminta anaknya agar diajari Baca, Tulis dan Hitung.&lt;br /&gt;Kemudian saya bertanya lagi, “apa alasan para orang tua meminta anaknya diajari Baca, Tulis dan hitung?”&lt;br /&gt;Karena hampir semua sekolah dasar mewajibkan anak kelas 1 yang baru mendaftar harus sudah bias Baca, Tulis dan hitung.&lt;br /&gt;Para orangtua dan guru yang berbahagia, saya tidak pernah lupa kejadian ini. Saya juga heran dari mana asal-usulnya, mengapa setiap sekolah dasar mewajibkan siswa baru kelas satunya bisa CALISTUNG. Padahal jika kita bandingkan dengan pendidikan - pendidikan anak usia dini yang ada di Negara - negara maju, sama sekali tidak ada kewajiban semacam ini. Program untuk anak usia dini mayoritas adalah bermain. Karena bermain, bagi anak-anak, sama dengan belajar. Mereka baru diperkenalkan Baca, Tulis dan Hitung pada kelas tiga sekolah dasar (Elementary).&lt;br /&gt;Secara ilmiah, baru-baru ini saya membaca bahwa anak usia dini baru bisa memfokuskan organ visualnya pada objek tiga dimensi, oleh karenanya, alat-alat pembelajaran anak usia dini  yang baik adalah berbentuk tiga dimensi. Apabila anak usia dini dipaksa untuk belajar CALISTUNG yang pada umumnya menggunakan objek dua dimensi atau tulisan di papan tulis, maka si anak akan mengalami gangguan organ visual pada usia yang lebih muda.&lt;br /&gt;Para orang tua dan guru yang berbahagia , tahukah anda mengapa sekolah-sekolah yang ada di Negara maju tidak menekankan pada aspek Baca, Tulis dan Hitung, melainkan lebih menekankan pada aspek pengembangan kreativitas dan kemampuan berpikir / nalar anak?&lt;br /&gt;Menurut penelitian ilmiah, secara global kemampuan otak manusia  yang berkaitan dengan pembelajaran terbagi menjadi tiga hal besar. Pertama adalah kemampuan kreatif,  kedua adalah kemampuan berfikir / nalar, dan ketiga adalah kemampuan mengingat.&lt;br /&gt;Dari ketiga kemampuan ini, kemampuan mengingat merupakan kemampuan alami yang berifat pelengkap, sementara kemampuan kreatif dan berfikir mrupakan kemampuan utama dan vital yang akan membantu anak untuk mencapai sukses di kehidupannya kelak.&lt;br /&gt;Keberhasilan hidup seseorang lebih banyak ditentukan oleh kemampuan kreatif dan berfikirnya ketimbang kemampuan mengingatnya, atau dengan kata lain kemampuan mengingat (short term memory) hanya sebagai pelengkap saja.&lt;br /&gt;Namun sayangnya, yang terjadi pada system pendidikan kita malah sebaliknya. Sejak usia dini anak-anak sudah dipaksa untuk bisa CALISTUNG, yang sesungguhnya hanyalah sebuah proses untuk mngembangkan kemampuan mengingat jangka pendek anak (Short Term Memory Learning).&lt;br /&gt;Ternyata proses ini tidak hanya berhenti di suia dini saja, namun hingga dewasa mereka terus diajar dan diuji berdasarkan kemampuan mengingatnya dan bukan kemampuan kreatif atau nalarnya.&lt;br /&gt;Para orangtua dan guru yang berbahagia, berikut ini adalah salah satu contoh pertanyaan yang dulu pernah diujikan pada saat kita masih bersekolah. &lt;br /&gt;Apa yang terjadi antara 1825 s.d. 1830 ? Masih ingat pelajaran sejarah ? ya, pasti jawabannya adalah perang diponegoro. Para orangtua dan guru yang berbahagia, sementara saya pernah tanyakan pertanyaan yang sama pada anak-anak TK.&lt;br /&gt;“Nak,  siapa yang tahu apa yang terjadi antara 18.25 s.d. 18.30 ? Tiba-tiba seorang anak berteriak,” saya tahu!  Saya tahu! Itu waktunya adzan maghrib. “ Bagaimana menurut anda,  salahkan jawaban anak ini? Tentu saja jika ini menjawab untuk soal ujian nasional pasti akan disalahkan.&lt;br /&gt;Para Orang tua dan guru yang berbahagia, sejak kecil kita tidak pernah dinilai berdasarkan nalar kita dalam menjawab soal-soal. Sejak kecil kita juga tidak pernah diberi pertanyaan yang menggunakan nalar / berfikir seperti :&lt;br /&gt;Apa yang terjadi jika minyak bumi Indonesia habis ? Apa akibatnya ? ya, saat hal itu terjadi maka masyarakat kita menjadi panic. Karena sejak dulu tidak pernah dipertanyakan, apa lagi sempat dipikirkan.&lt;br /&gt;Para orang tua dan guru yang berbahagia, begitulah anak-anak kita telah dibesarkan dengan system pendidikan yang tidak melatih untuk berfikir kreatif. Jadi, wajar saja jika saat ini jumlah pengangguran baru dari lulusan akademi dan universitas terus membengkak. Sementara para pelajar lulusan SMA dan ederajat terus berebut menyerbu perguruan tinggi yang pada akhirnya juga akan menjadikan mereka hanya sebagai calon-calon pengangguran baru. Sayangnya ternyata mereka juga tidak menyadari hal ini, karena memang tidak pernah dilatih untuk memikirkannya.&lt;br /&gt;Para orangtua dan guru yang berbahagia, mari bersama-sama kita ciptakan sitem pembelajaran yang mengasah kemampuan berfikir anak! Bukan sekedar hafalan. Agar kelak mereka bisa melihat dan menciptakan peluang-peluang baru, bukannya melihat dan menciptakannya masalah baru bagi bangsa ini!&lt;br /&gt;Ingat, pasar bebas tenaga  kerja  sudah di depan mata. Zaman ketika persaingan  kualitas manusia akan semakin ketat! Apakah kelak anak-anak kita akan menjadi budak atau tuan rumah di negrinya sendiri, kitalah yang paling bertanggung jawab.&lt;br /&gt;Sebuah catatan artikel menarik tentang membaca dan menulis menjelaskan sebagai berikut :&lt;br /&gt;Anak yang diajari menulis dan membaca lebih awal ternyata membaca buku dan membuat tulisan jauh lebih sedikit daripada anak yang diajarkan baca dan menulis kemudian. Jauh lebih penting untuk menjaga rasa ingin tahu anak dengan mengembangkan kreativitas individunya daripada mengajarinya untuk membaca dan menulis diusia dini.&lt;br /&gt;Dan mungkin itulah sebabnya, kita semua, para orangtua yang dulu sejak kecil sudah di paksa untuk bisa membaca agar dianggap anak pintar dan mendahului anak lain, tetapi ironisnya kini malah menjadi orangtua yang jarang atau malas membaca. Apalagi untuk membuat tulisan.&lt;br /&gt;Begini  penjelasan alamiahnya. Apabila yang pertama kali dirangsang adalah otak kreatif dan rasa ingin tahu anak, maka anak-anak akan menyimpan segudang pertanyaan yang membutuhkan jawaban. Semakin banyak yang ingin diketahui anak maka semakin besar pula usaha untuk mencari jawabannya. Oleh karena itu, keinginan anak yang terpendam tersebut akan meledak apabila kemudian dia baru diajari bagaimana cara membaca dan menulis. Maka anak ini akan menjadi keranjingan untuk membaca dan menulis karena begitu banyak pertanyaan yang harus segera dijawab dan begitu banyak pengetahuan baru yang harus dia tulis.&lt;br /&gt;Namun sebaliknya, jika yang dirangsang pertama adalah membaca dan menulis, maka otak kreatif anak ini tergantung dari rangsangan awalnya dan memiliki periode kritis hingga usia 12 tahun. Anak yang waktunya lebih  terfokus untuk belajar membaca dan menulis sama sekali tidak memiliki ketertarikan, tidak punya pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab, oleh karenanya dia tidak banyak menggunakan kemampuan baca tulisnya.&lt;br /&gt;Mungkin itulah alas an mengapa system pembelajaran di kebanyakan Negara maju lebih mementingkan kreativitas daripada kemampuan membaca dan menulis pada anak-anak di usia dini.&lt;br /&gt;Mari kita renungkan kembali, seperti apakah anak-anak kita dirumah dan disekolah telah dididik?&lt;br /&gt;Bina Kreatif  Oktober   2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4214269774589169133-1856614579053527660?l=binakreatif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://binakreatif.blogspot.com/feeds/1856614579053527660/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4214269774589169133&amp;postID=1856614579053527660' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4214269774589169133/posts/default/1856614579053527660'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4214269774589169133/posts/default/1856614579053527660'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://binakreatif.blogspot.com/2009/10/calistung-untuk-tk-sejauh-mana-sih.html' title='CALISTUNG UNTUK TK , SEJAUH MANA SIH?....'/><author><name>Kak Wien</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_IjcvEQdax7w/SVmhO3r18gI/AAAAAAAAAEE/mGgzTLHEGB8/S220/Poster+Kakwin.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_IjcvEQdax7w/SuN_H4RA-xI/AAAAAAAAARM/Vrm83y5TRq0/s72-c/O33.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4214269774589169133.post-4281715075886578051</id><published>2009-10-13T06:01:00.001+07:00</published><updated>2009-10-13T06:13:07.887+07:00</updated><title type='text'>NGOBROL ASYIK  BARENG KAK WIEN</title><content type='html'>Bina Kreatif Talk Abaut ….&lt;br /&gt;Bagian  Pertama&lt;br /&gt;Semua Anak Itu Cerdas&lt;br /&gt;Mengawali dialog di sebuah acara , saya lontarkan pertanyaan yang mungkin sangat sederhana dan tidak memerlukan jawaban. “Siapa yang senang mempunyai anak pendiam dan pasif ?” pasti jawabannya tidak senang. Selanjutnya saya tanyakan “Siapa yang senang mempunyai anak tidak bisa diam ( Selalu bikin emosi orang tua ) ?” pasti jawabannya juga tidak mau. &lt;br /&gt;Orang Tua yang budiman , kedua pertanyaan diatas menunjukkan betapa kita sangat mengharapkan dan mendambakan anak – anak yang menyenangkan dan Smart ( Cerdas ) , akan tetapi berapa banyak diantara kita tidak memahami permasalahannya, bagaimana mungkin anak anak kita akan memahami kalau kita sendiri sebagai orang tua juga kurang memahami perkembangan anak , bagaimana mungkin anak – anak kita akan mendengarkan kata – kata kita , sementara kita sendiri jarang mendengarkan keluhan mereka. Akibatnya akan sering muncul konflik yang berkepanjangan, saling menyalahkan , orang tua semakin otoriter sementara anak semakin memberontak.&lt;br /&gt;Kondisi tersebut sering terjadi dan mungkin juga kita alami sampai saat ini  dalam mendidik anak. Perhatikan  gambaran dibawah ini :&lt;br /&gt;Karakter Positif  anak :&lt;br /&gt;SMART  ,  CERIA,  SANTUN , SEMANGAT , MANDIRI , KREATIF, DINAMIS… &lt;br /&gt;Persepse negative terhadap anak :&lt;br /&gt;Bodoh , Nakal , bandel , suka membantah , usil , cengeng , kolokan  , ……&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dari Gambar versus diatas yang bisa dijelaskan bahwa semua anak itu “Smart”/ Cerdas , ada  anak yang cerdasnya di angka – angka atau logis matematik sehingga anak tersebut memiliki kesenangan belajar yang berkaitan dengan angka – angka , terkadang dialihkan sangat sulit apalagi dengan cara – cara yang tidak menyenangkan (kasar) pasti anak menjadi enggan untuk belajar.  Ada juga yang memiliki kecerdasan  bahasa atau sering diistilahkan memiliki kecerdasan linguistic yang lebih dominan, hal inilah yang memungkinkan anak jadi lebih cepat mengenal huruf , membaca ataupun menulis. Ada juga anak yang memiliki kecerdasan Spasial / gambar , kecerdasan  Kinestetik ( Gerak tubuh ) , kecerdasan music , kecerdasan emosional , kecerdasan inter personal , kecerdasan intra personal , kecerdasan Natural, dan masih banyak lagi kecerdasan yang dimiliki anak – anak. Dengan demikian orang tua tidak perlu lagi cemas dengan kondisi anak – anaknya, gara – gara hanya belum bisa membaca dianggap anak kita bodoh, lalu disbanding – bandingkan dengan teman – teman seusianya yang sudah bisa membaca. “Tuh, lihat temanmu sudah bisa membaca kamu koq sulit banget sih diajari membaca!!” sampai – sampai tidak sedikit orang tua yang pada akhirnya memaksa anak – anak nya untuk mengikuti kursus-kursus yang mestinya belum perlu. ( Usia berpapa sih  anak boleh Kursus? Bisa dilihat di bagian selanjutnya ). Ada yang akhirnya ikut les membaca , les bahasa inggris , les Kumon , Jari Matika , Sempoa , Jari cerdas , dan lain – lainnya, Akhirnya anak – anak pun terpaksa mengikuti kemauan orang tua, sedangkan hal itu jelas mengurangi kesempatan anak untuk bermain dan beraktivitas sebagai anak yang tumbuh dan berkembang. Apa akibatnya kalau beban otak anak menjadi berlebihan , tentu saja bisa berakibat pada kerusakan otak anak, dan saat ini sudah banyak yang mengalami seperti yang paling ringan anak jadi stress ringan yang berimbas pada konsentrasi yang menurun , daya piker , daya ingat  dan daya nalar yang semakin menurun, juga mengakibatkan menurunnya semangat dalam belajar. &lt;br /&gt;Coba kita ambil beberapa contoh orang orang sukses dan berhasil dengan kecerdasannya masing – masing. Ada Rudi Choirudin yang ahli memasak , Rudi Hadi Suwarno yang memang ahli di bidang tatarias rambut, Rudi Hartono yang ahli Olah raga bulu tangkis sampai memenangkan beberapakali Thomas cup, Rudi Salam jagonya beracting bahkan sebagai actor senior di perfilm-an tanah air. B.J.Habibie yang ahli tekhnologi. Mereka semua memiliki karakteristik dan kecerdasan yang berbeda beda dan tidak mungkin mereka dikompetisikan dalam satu bidang , jelasa yang menang yang paling menguasai bidang nya. Misalnya Rudi Choirudin dikompetisikan dengan Rudi hadi suwarno dalam kompetisi menata rambut, jelas yang akan menang Rudi Hadi Swuwarno, sementara Rudi Choirudin bisa jadi riasan rambutnya seperti “Sup Brokoli” Nah disinalah pentingnya orang tua memahami dan menyikapi bagaimana kecerdasan anak – anak kita.&lt;br /&gt;Jangan sampai salah memahami anak – anak , sebab anak - anak itu investasi kita , investasi dunia akhirat. Saya pernah berdialog dengan senior pemerhati anak. “Apa yang kita berikan pada anak – anak baik itu perhatian , kasih sayang , kesempatan meluangkan waktu yang cukup , tentu saja akan kita rasakan ketika nanti anak – ank kita memasuki kedewasaan.” Ada suatu pemaparan pengalaman dari Seorang ayah yang menyesali tindakannya dahula ketika anak – anaknya masih kecil remaja bahkan sampai dewasanya.&lt;br /&gt;“Beliau saat ini ada di salah satu panti jompo mewah dikawasan Jakarta Utara, dalam keadaan seperti ini beliau sangat tersiksa batinnya, tidak ingin hal ini terjadi, tetapi semuanya sudah terlanjur “Nasi telah menjadi bubur” yang beliau sangat dambakan adalah bisa berkumpul dengan anak – anak dan Cucu – cucunya yang saat ini sudah berada dalam kemawahan dan kesuksesannya.”&lt;br /&gt;“Saya berada di Panti jompo ini, juga karena ulah saya sendiri !!” katanya. “Dulu ketika anak – anak saya masih kecil –kecil , mereka saya abaikan , saya lebih asyik dengan profesi dan karir yang makin menanjak, bahkan saya lebih banyak diluar daerah , luar negri ketimbang bersama anak – anak dan keluarga, saya terpedaya dengan kemewahan , lebih saya pentingkan materi dan kemewahan ketimbang bermain bersama anak.” Keluh beliau sambil meneteskan air mata. &lt;br /&gt;“Saya menyesal dan sangat menyesal , tidak memahami dan tidak bisa menghantarkan anak – anak saya sampai remaja bahkan sampai dewasanya, bahkan sampai waktu pernikahan anak – anak saja saya lebih sibuk dengan pekerjaan diluar negri.” Tambahnya sambil mengusap air mata yang masih keluar.&lt;br /&gt;Bapak ibu yang budiman, contoh kisah nyata diatas jelas memberikan gambaran kepada kita beta pentingnya perannan kita sebagai  orang tua dalam mendidik anak – anak.&lt;br /&gt;Salah mendidik anak , Ups …jangan sampai dech !!!!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4214269774589169133-4281715075886578051?l=binakreatif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://binakreatif.blogspot.com/feeds/4281715075886578051/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4214269774589169133&amp;postID=4281715075886578051' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4214269774589169133/posts/default/4281715075886578051'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4214269774589169133/posts/default/4281715075886578051'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://binakreatif.blogspot.com/2009/10/ngobrol-asyik-bareng-kak-wien.html' title='NGOBROL ASYIK  BARENG KAK WIEN'/><author><name>Kak Wien</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_IjcvEQdax7w/SVmhO3r18gI/AAAAAAAAAEE/mGgzTLHEGB8/S220/Poster+Kakwin.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4214269774589169133.post-3711399194428655939</id><published>2009-08-02T07:11:00.002+07:00</published><updated>2009-08-02T07:16:49.259+07:00</updated><title type='text'>Sayang Kalau Terlewatkan......</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_IjcvEQdax7w/SnTa0Y-k4lI/AAAAAAAAAQ8/-ngUlu4wjJQ/s1600-h/PLTH+AMQ+2009.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 112px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_IjcvEQdax7w/SnTa0Y-k4lI/AAAAAAAAAQ8/-ngUlu4wjJQ/s200/PLTH+AMQ+2009.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5365153649698071122" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Salah Mendidik Anak …Ups…. Jangan sampai dech.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Anak adalah “investasi” bagi orang tua, Investasi yang tidak boleh salah , Investasi Dunia dan Akhirat… maka berikan yang terbaik untuk anak – anak kita : Perhatiannya……  Komunikasinya ….. Pengasuhannya……. Dan jangan lupa…PENDIDIKAN  AKADEMIK dan PENDIDIKAN  AKHLAK – nya… ( Cuplikan Smart Parenting “Satu Jam Bersama Kak Wien” )&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;Mendiang Presiden Kennedy pernah mengatakan. “ Apa yang kita sekarang adalah hasil dari pemikiran kita terdahulu dan apa yang kita capai sekarang adalah hasil dari rencana hidup kita terdahulu”. Saya  ingin mengapainya dengan pernyatan berikut ; cara kita mendidik anak saat ini adalah hasil dari bagaimana dulu pernah dipikirkan oleh orang tua kita. Jadi, jika kita ingin masa depan anak sukses, mulailah meletakkan cara berpikir dan mendidik yang tepat hari ini juga.&lt;br /&gt; “Tidak usah cemas Yang penting berusaha keras , belajar keras dan terus – menerus memperbaiki kesalahan dalam mendidik anak”. &lt;br /&gt;Jangan Khawatir Apabila gambaran kita buruk di mata anak , karena kita adalah produk kesalahan pendidikan masa lalu. &lt;br /&gt;       Apa pun hasilnya, sebaliknya kita terima dengan lapang hati. Justru dari sinilah kita bisa membuka dialog. Mengapa anak kita bisa memberi kesimpulan seperti itu ? Kapan kejadianya? Apa kejadian persisnya? Lalu jelaskan apa maksud anda sesungguhnya Coba temukan dan rundingkan bersama, mengapa anak anda bisa salah mengungkap maksud anda? Minta pendapat anak cara yang tepat yang bisa dilakukan pada masa mendatang.&lt;br /&gt;Kita harus bisa menerima masukan anak kita apa pun hasilnya. Ya…, begitulah ternyata kita di mata orang lain. Upaya penting yang perlu dilakukan adalah memaafkan diri sendiri bila hasilnya terlalu buruk karena pemikiran kita saat ini sesungguhnya hasil pendidikan masa lalu dari orang tua kita . Dan, orang tua kita dulu juga hasil dari orang tuanya, begitulah seterusnya. Sebagian besar cara mendidik yang kita lakukan adalah warisan alias turun-temurun.&lt;br /&gt;“ Masalahnya adalah akankah kita pertahankan dan warisi pada anak kita…?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Jika ternyata orang tua kita dulu mendidik dengan cara yang tidak baik, segera  maafkanlah karena bisa bisa jadi orang tua kita dulu di didik oleh orang tuanya jauh lebih buruk lagi. Bisa jadi orang tua anda tidak tahu bagaimana caranya harus mendidk anak-anak dengan baik masalahnya, saat itu jarang atau bahkan tidak ada sekolah, referensi, atau sumber informasi yang di butuhkan agar menjadi orang tua  yang baik. Belum lagi factor ekonomi yang cukup sulit untuk menyekolahkan anak-anaknya kita itu.&lt;br /&gt;Bersyukurlah jika kita saat ini sedang membaca artikel  ini. Ini pasti bukan suatu kebetulan karena memang tidak ada kejadian yang kebetulan di dunia ini. Semuanya sudah di desain oleh Yang Maha Pengatur. Mungkin Tuhan telah menunjuk anda untuk memutus mata rantai cara mendidik yang keliru itu. Terimalah amanah ini karena kalau bukan kita siapa lagi, akankah tradisi mendidik yang buruk ini di turunkan pada anak dan generasi seterusnya…? Jika Anda berani menerima amanah yang sesungguh besar ini, sesungguhnya anda adalah pahlawan bagi silsilah keluarga anda, termasuk bagi bangsa ini. Sesungguhnya Yang Maha Kuasa begitu mencintai orang-orang yang hidupnya dipenuhi dengan rasa rendah hati Dan Penuh Maaf, Serta Penerimaan Yang Tinggi.&lt;br /&gt;Mari kita bersama-sama orang-orang yang dicintai Alloh dan selalu berusaha menjadi orang yang sabar dan bermanfaat bagi anak- anak kita, … Naaah… jangan lupa :&lt;br /&gt;“ Orang yang terbaik diantaramu adalah yang mau belajar (Al-Qur’an) dan  mengajarkannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa Kesimpulan Kita Tentang Mendidik Anak…?&lt;br /&gt;Mari kita kembali pada pertanyaan awal, yakni sesungguhnya…anak yang tidak bisa dididik atau kita yang tidak bisa mendidik? Jika kesimpulan kita ternyata masih merasa memang anak kita  yang tidak bisa dididik, ada beberapa alternative yang bisa kita lakukan bersama dengan pasangan kita.&lt;br /&gt;1. Lakukan Muhasabah ( Evaluasi ). Bayangkan hal-hal apa saja yang dulu pernah kita harapkan akan dilakukan oleh orang tua kita, tetapi tidak pernah kita dapatkan…?&lt;br /&gt;2. Lakukan Muhasabah ( Evaluasi ).  Bayangkan kembali kekecewaan-kekecewaan yang dulu pernah dialami lalu, berusahalah untuk memaafkan berbagi kesalahan mereka satu persatu sampai rasa kecewa itu perlahan-lahan mulai hilang.&lt;br /&gt;3. Pahamilah, mengapa orang tua kita dulu telah salah memperlakukan kita…? Carilah informasi mengenai kehidupan masa kecil orang tua kita dulu. Apakah mereka juga pernah mengalami kekerasan dari orang tuanya ( kakek- nenek Anda) ? Ataukah malah mereka mengalami hal-hal yang lebih berat dibandingkan yang pernah anda alami ?&lt;br /&gt;4. Lakukan langkah kedua berulang-ulang jika kita masih belum bisa memaafkan mereka.&lt;br /&gt;5. Lakukan Muhasabah ( Evaluasi ). Bayangkan perasan anak kita mendapatkan perlakuan yang sama seperti yang dulu pernah kita dapatkan dari orang tua kita.&lt;br /&gt;6. Lakukan Muhasabah ( Evaluasi ).  Bayangkan perasaan anda seandainya kita menjadi orang tua yang dicintai anak kita. Bayangkan perasan anda, seandainya kita menjadi orang tua yang di cintai anak kita. Bayangkan saat kita sudah tua nanti, apa yang kita harapkan dari anak kita…? Apakah sebuah perhatian ? Kasih sayang ? jadi, lakukan hal yang sama pada anak kita sekarang juga.&lt;br /&gt;7. Bayangkan setiap kali Anda pulang kerumah, dari satu aktifitas tertentu atau bekerja, apakah anda ingin disambut hangat oleh anak-anak ataukah malah anak-anak yang menyesali kepulangan kita.&lt;br /&gt;8. Jalankan langkah demi langkah dengan “ikhlas dan tulus” &lt;br /&gt;9. Berdoalah untuk mendapatkan Hidayah dari Alloh Yang Maha Kuasa. Dengan begitu, Anda akan segera dimudahkan dalam melangkah.&lt;br /&gt;10. Jika kita berubah menjadi baik, dengan izin Alloh SWT anak kita juga pasti akan berubah menjadi lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Himbauan dan Ajakan : &lt;br /&gt;“ Saling menasihati dalam Kebenaran dan dengan cara yang Sabar ”&lt;br /&gt;• Teruslah berjuang untuk melakukan dan menerapkan apa yang saya tulis pada keluarga dan anak-anak saya setiap hari, meskipun dengan berbagai macam kesulitan baru yang akan selalu muncul.&lt;br /&gt;• Jangan khawatir, jika kita masih merasa sulit dan sering kali gagal, saya pun harus terus berusaha untuk melaklukannya agar tidak lagi gagal. Saya pun masih sering membaca ulang-ulang tulisan saya sendiri agar menjadi pengigat. Mari bersama-sama kita melakukannya. Dan mari kita bangun Komunikasi yang baik dalam Keluarga ( Ayah , Ibu dan Anak )&lt;br /&gt;Tetap Semangat………&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;INFO :&lt;br /&gt;Kalau anda Ingin mengadakan “Smart Parenting” dengan tema : Membangun Komunikasi Efektif dalam keluarga ( Termasuk didalamnya Peran Ayah , Peran Ibu dan bagaimana menerapkan “Reward and Punishment” pada anak )&lt;br /&gt;Hubungi  :  Kak Wien Centre  08151853874&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4214269774589169133-3711399194428655939?l=binakreatif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://binakreatif.blogspot.com/feeds/3711399194428655939/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4214269774589169133&amp;postID=3711399194428655939' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4214269774589169133/posts/default/3711399194428655939'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4214269774589169133/posts/default/3711399194428655939'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://binakreatif.blogspot.com/2009/08/sayang-kalau-terlewatkan.html' title='Sayang Kalau Terlewatkan......'/><author><name>Kak Wien</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_IjcvEQdax7w/SVmhO3r18gI/AAAAAAAAAEE/mGgzTLHEGB8/S220/Poster+Kakwin.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_IjcvEQdax7w/SnTa0Y-k4lI/AAAAAAAAAQ8/-ngUlu4wjJQ/s72-c/PLTH+AMQ+2009.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4214269774589169133.post-1683558928658084044</id><published>2009-07-29T05:39:00.002+07:00</published><updated>2009-07-29T05:46:42.917+07:00</updated><title type='text'>Ngobrol Pagi Bareng Kak Wien .......</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_IjcvEQdax7w/Sm9_t5tuGwI/AAAAAAAAAQs/G2RSSgI5_PI/s1600-h/poster.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 189px; height: 214px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_IjcvEQdax7w/Sm9_t5tuGwI/AAAAAAAAAQs/G2RSSgI5_PI/s320/poster.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5363646107784977154" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;TIPS  MINGGU – MINGGU PERTAMA  ANAK MASUK SEKOLAH  ( Edisi Prasekolah dan SD )&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bapak ibu yang berbahagia… banyak surat masuk ke e- mail kami terutama  bagaimana peran orang tua menghadapi permasalahan anak di awal sekolah :&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;1. Dari Mama Della, mama Ira , Mama Syahdan , mama Hani , Mama Yoga , Papanya arief, ayah Nisa dan bundanya Icha, menanyakan alternative sekolah yang ada lokasinya jauh dari rumah bagaimana kiat – kiatnya supaya anak tetap nyaman bersekolah yang jauh ?&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab :&lt;br /&gt;Dunia anak masih kental dengan bermain… dan ternyata bermain yang paling asyik adalah di rumah , meski disekolah juga ada bermain tetapi konsepnya sudah berbeda  , karena kalau bermain disekolah itu di lingkungan formal jadi masih dalam kategori tugas bermain…….&lt;br /&gt;Bapak dan ibu yang berbahagia….. memang idealnya jarak sekolah dengan rumah itu maksimal ditempuh dalam 15 - 20 menit, sehingga waktu anak tidak habis di perjalanan. Coba bayangkan kalau perjalanan anak sekolah 40 menit – 1 jam….. jam berapa anak harus bersiap – siap kadang – kadang orang tua merasa itu adalah satu proses pembelajaran kedisiplinan, keteraturan dan pembelajaran kemandirian. Kalau harus sampai sekolah jam 7 pagi berarti jam 6 sudah siap ( sudah mandi , sudah makan dll )  berapa kali orang tua harus marah – marah karena anak susah bangun… berapakali harus marah – marah karena mandi dan ganti bajunya terlalu lama, makan terlalu lama, … bisa jadi sebelum berangkat sekolah anak sudah terbebani karena kita sering marah dengan anak. Sedangkan anak kesekolah membutuhkan kondisi psikologis yang nyaman sehingga konsentrasi anak tetap terjaga dengan baik. &lt;br /&gt;Bapak ibu yang berbahagia…… gambaran diatas kalau baru punya satu anak , bagaimana kalau mempunyai 2, 3 , atau 4 anak. Bisa – bisa anak dan ibunya mendadak jadi stress…..&lt;br /&gt;Pulang sekolahpun sudah lelah, belum lagi  dia harus mengerjakan PR – PR nya, lalu kapan kesempatan anak – anak untuk lebih leluasa mengembangkan “personal dan Kreativitasnya” kalau boleh jujur saat ini telah banyak tercetak “Robot- robot manusia” mereka terbiasa dengan rutinitas yang padat. Sehingga mereka lupa bahwa mereka harus belajar bertahan hidup dengan saling menghormati , saling memahami dan menghargai pribadi lain. Tapi yang terjadi mereka makin kurang peduli , mereka makin egois dengan masalahnya sendiri.  Akhirnya banyak juga anak yang mencari penyelesaian masalah dengan jalan pintas , yang sering kita jumpai adalah anak  mulai berani berbohong…….&lt;br /&gt;Bapak ibu yang berbahagia ….  Lingkungan disekeliling kita juga sangat diperlukan untuk perkembangan emosional dan karakter anak – anak kita. Anak juga memerlukan adaptasi … pergaulan…. Sosialisasi …dengan lingkungan sekitar.&lt;br /&gt;Bagai mana kalau semua itu drastic menghilang dan berkurang dari kehidupan anak – anak kita. Untuk itulah diperlukan pemahaman  dan pengertian orang tua dalam membesarkan putra putrinya….&lt;br /&gt;Solusi :&lt;br /&gt;Persiapkan kalau sekolah jauh :&lt;br /&gt;• Pastikan perjalanan anak nyaman , asyik dan menyenangkan.&lt;br /&gt;• Hindari Introgasi / tekanan terhadap anak sebelum sekolah dan setelah pulang sekolah.&lt;br /&gt;• Kalau ada permasalahan disekolah anak segeralah mencarikan solusi nya..&lt;br /&gt;• Dampingi anak ketika mengerjakan tugas – tugas dari sekolah.&lt;br /&gt;• Ciptakan suasana yang menyenangkan ketika anak belajar.&lt;br /&gt;• Kembangkan komunikasi dua arah yang nyaman.&lt;br /&gt;• Minimalkan kecemasan yang berlebihan terhadap permasalahan anak.&lt;br /&gt;• Tetap sabar dan kreatif &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;2. Dari  Mama Hadi, Mama Reza dan Mama Dita. Pertanyaannya hamper sama , yaitu Bagaimana Tip untuk anak memsuki sekolah yang baru? &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Jawab :&lt;br /&gt;Memilih sekolah tidaklah mudah , karena disamping criteria keadaan nya juga memerlukan pemahaman tentang Karakteristik anak kita. Apakah  Holistik , analitik , introvert , ekstrovert , sensing , kemandiriannya, anak tunggal , anak tengah anak sulung ataukah anak bungsu…. Karena semua itu aka terkait dengan pilihan sekolah yang tepat. Minimal ada syarat minimal yang harus terpenuhi :&lt;br /&gt;• Jarak sekolahnya ( sudah dibahas  di sesi sebelumnya )&lt;br /&gt;• Keadaan dan kualitas sekolahnya&lt;br /&gt;• Sekolah yang komunikatif&lt;br /&gt;Ingat ..ingat … ingat … jangan tergiur dengan “iklan atau spanduk karena fasilitasnya”  coba lihat , observasi , cari informasi dan analisa , setelah itu tentukan pilihannya.&lt;br /&gt;Setelah masuk sekolah ada beberapa tips ( Masuk TK dan kelas 1 baru ):&lt;br /&gt;• Persiapkan bangun paginya , tentu diawali dari pembahasan dan komunikasi bahwa nanti kalau sudah masuk sekolah bangunya harus lebih pagi.&lt;br /&gt;• Ciptakan suasana yang mengasyikkan sebelum berangkat sekolah.&lt;br /&gt;• Dampingi anak bila perlu motivasi semangat sekolahnya.&lt;br /&gt;• Dengarkan keluhan anak jangan sampai tidak.&lt;br /&gt;• Berikan reward kalau disekolah punya prestasi ( prestasi punya teman baru , mau masuk kelas sendiri , tidak menangis, dll.)&lt;br /&gt;• Perlahan lahan lepas anak bersekolah sendiri. Ingat prosesnya berbeda – beda ( ada yang sebentar ada yang sampai 3 bulan ) jangan membanding – bandingkan dengan anak lain yang terlebih dahulu mandiri.&lt;br /&gt;• Tetaplah berkomunikasi  dengan pihak sekolah terutama guru.&lt;br /&gt;Sekali lagi peran penting orang tua menghantarkan anak sekolahdi lingkungan baru akan sangat berpengaruh dimasa – msa berikutnya. Semoga tetap sabar dan kreatif memahami permasalahan anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bina Kreatif  13  Juli 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4214269774589169133-1683558928658084044?l=binakreatif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://binakreatif.blogspot.com/feeds/1683558928658084044/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4214269774589169133&amp;postID=1683558928658084044' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4214269774589169133/posts/default/1683558928658084044'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4214269774589169133/posts/default/1683558928658084044'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://binakreatif.blogspot.com/2009/07/ngobrol-pagi-bareng-kak-wien.html' title='Ngobrol Pagi Bareng Kak Wien .......'/><author><name>Kak Wien</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_IjcvEQdax7w/SVmhO3r18gI/AAAAAAAAAEE/mGgzTLHEGB8/S220/Poster+Kakwin.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_IjcvEQdax7w/Sm9_t5tuGwI/AAAAAAAAAQs/G2RSSgI5_PI/s72-c/poster.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4214269774589169133.post-7601217812128343209</id><published>2009-07-28T06:12:00.000+07:00</published><updated>2009-07-28T06:15:20.686+07:00</updated><title type='text'>MENDIDIK ANAK  SYIK LHO......</title><content type='html'>Mengapa Kebanyakan Orang tua  Merasa Kesulitan Mendidik Anak….?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        Para Orang tua dan guru yang berbahagia mari kita simak cerita berikut.Bu Lelly adalah seorang ibu rumah tangga dengan 3 orang anak,2 laki-laki dan satu orang perempuan. Awalnya Ibu Lelly adalah orang tua yang bekerja tetapi Karena ia dan suaminya melihat anak-anaknya mulai beranjak dewasa dan perilakunya mulai “agak-agak” sulit dikendalikan, Ibu Lelly memutuskan untuk berhenti bekerja dan tinggal di rumah. Ibu Lelly berniat untuk mengurus anak-anaknya dengan sepenuh hati. Tadinya dia berfikir bahwa dengan kehadirannya di rumah secara penuh akan membuat anak-anaknya tumbuh menjadi lebih baik,tetapi kenyataanya tidaklah sesederhana itu.&lt;br /&gt; Setelah 2 tahun Ibu Lelly menjadi Ibu penuh waktu di rumah, ternyata setiap pagi ia masih harus berteriak-teriak pada anaknya yang sulit dibangunkan, menyuruh mereka untuk mandi, sarapan, atau bersiap-siap menunggu mobil jemputan sekolah, Ia juga kewalahan mengatasi dua anak laki-lakinya yang hampir setiap hari bertengkar dan tidak ada habis-habisnya terkadang Ibu Lelly menjadi senewen karena pertengkaran itu selalu di picu oleh hal-hal remeh-temeh, seperti rebutan mainan, rebutan makanan, atau rebutan mendapatkan perhatian.&lt;br /&gt;Pertengkaran yang bermula dari anak-anaknya ternyata mulai merambat pada pertengkaran antara Ibu Lelly dengan suaminya. Masalahnya, setiap suami Ibu Lelly pulang kantor selalu mendapati anak-anaknya sedang memmbuat kegaduhan. Di mata si ayah, istrinya dipandang tidak mampu untuk mengurus dan mengatur anak-anaknya. Sementara dimata Ibu Lelly, suami hanya “mau enaknya”saja ( tidak mau terlibat dalam proses pengasuhan anak dan mudah menyalahkan ) dan pulang kerja ingin santai, sedangkan Ibu Lelly merasa pekerjaannya dari pagi hingga malam tidak ada habis-habisnya. Ibu Lelly kerap kali berteriak kepada suaminya, ”kamu belum tau aja, ternyata mengerjakan tugas-tugas kantor itu jauh lebih mudah ketimbang mengurus dan mendidik anak-anak di rumah.” Dan, suaminya cenderung menghindar, enggan menanggapi, dan mengunci diri di kamar untuk melepas lelah.&lt;br /&gt;Ibu Lelly semakin hari semakin tampak lusuh karena stress. Ia sering menangis sendiri di kamar, terutama karena beberapa hari lalu ia sempat dipanggil pihak sekolah karena perilaku anaknya yang suka memukul temannya dan mulai sering bolos sekolah. Ia kerap kali mengadukan perilaku anak-anaknya pada suaminya, tetapi suaminya selalu menghindar dan sering kali menepis, ” Ya…kita bagi-bagi tugaslah. Saya “kan cari uang …jadi,kamulah yang ngurus anak-anak. Percuma saja dong kamu berhenti kerja, kalo ternyata anak-anak masih bandel kaya gini.” Bukan main hancur hati Ibu Lelly. Ia merasa tidak di hargai, betapa Ia  telah mengambil keputusan yang berat untuk meninggalkan pekerjaan yang di cintainya demi mengasuh anak-anak. Sementara , sang suami sama sekali tidak berterimakasih atas keputusan itu. Malah sebaliknya, selalu menempatkan posisi Ibu Lelly sebagai pahak yang bersalah. Mulai tampak garis-garis keretakan di dalam keluarga Ibu Lelly. Ia mulai kehilangan rasa hormat pada suaminya, sementara suaminya terus-menerus mengomplain istrinya. Mereka berdua mulai jarang bicara satu sama lain. Masing – masing menggap pasangannya tidak becus sebagai orang tua juga sebagai pasangan. Masa-masa indah saat dulu baru menikah tidak pernah lagi mereka rasakan . Sementara, perilaku anak-anak mereka semakin hari semakin menjadi-jadi saja. Dan, Ibu Lelly pun semakin sering di panggil ke sekolah dan bahkan pernah suatu waktu diancam oleh pihak sekolah yang mengatakan akan mengeluarkan anak mereka dari sekolah jika mereka tidak berhasil memperbaiki perilaku anaknya. Terbayang sudah hari-hari kelam yang akan dialami oleh keluarga ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah…buat anda yang sedang membaca artikel ini ketahuilah bahwa ”mendidik anak” adalah kalimat yang sederhana dan mudah untuk di ucapkan tetapi tidak sederhana untuk di lakukan. Kisah di atas hanyalah sebagian kecil dari romantika keluarga dalam proses membesarkan anak-anaknya. Masih banyak lagi kasus-kasus yang tak kalah serunya yang dialami oleh banyak orangtua di setiap pelosok negeri ini. Banyak yang bethasil tetapi jauh lebih banyak lagi yang gagal. &lt;br /&gt;Mendidik anak akan terlihat sangat berbeda dari zaman ke zaman. Kita dulu masih merasa menurut, mudah diatur oleh orangtua kita, dan cenderung tidak banyak melakukan hal yang aneh-aneh “Tapi kenapa ya anak sekarang ini…? Yah begitulah…” Oleh karena itu, orang bijak pernah bertitip pesan pada kita para orangtua, ”Didiklah anak-anakmu sesuai zamannya. karena ia akan hidup pada zamannya dan bukan pada zaman kamu dahulu hidup”&lt;br /&gt;Namun sayangnya cara kita mendidik ternyata dari generasi ke generasi cenderung sama karena sebagian besar cara kita mendidik adalah “ warisan ” dari orangtua saat mendidik kita dahulu.&lt;br /&gt;Nah… sekarang marilah kita cari tahu jawaban mengapa kebanyakan orangtua merasa kesulitan mendidik anak.&lt;br /&gt;a.Tidak siap menjadi orangtua…? &lt;br /&gt;       Hayo… siapa yang mau menyangkal, kalo kita memang sesungguhnya tidak siap menjadi orangtua?&lt;br /&gt;Mari kita coba tengok ke belakang ( flash back ),mulai sejak awal kita “berpacaran” dengan pasangan, bagi anda yang “ berpacaran ” tentunya. Apa yang menjadi topik pembahasan utama waktu itu? Apakah persiapan untuk menjadi orangtua yang baik? Atau hal-hal lain…yang jauh lebih menarik untuk dibicarakan “ Do You Know What  I mean ?”  ( tahukan maksud saya ? ).&lt;br /&gt;Mari kita coba maju sedikit pada kita hendak melangkah ke jenjang pelaminan atau pernikahan. Apa yang menjadi topic pembahasan utama waktu itu? Apakah persiapan menjadi orangtua yang baik…? Ataukah persiapan tanggal baik, bulan baik, gaun pengantin, tempat resepsi, catering,souvenir,  undangan, dan pernak-pernik lainnya…?&lt;br /&gt;Baiklah, sekarang mari kita maju lebih dekat lagi. Pada saat masa kehamilan istri menjelang 9 bulan, apa yang menjadi topic pembahasan utama saat itu? Apakah persiapan untuk menjadi orangtua yang baik…? Ataukah persiapan perangkat bayi, dokter pilihan rumah, sakit pilihan, nama pilihan apa lagi…? Yang semuanya pilihan  untuk menjadi orangtua yang baik bagi anak-anak kita tercinta… kapan tepatnya kita mulai mempelajari teknik-teknik mendidik anak yang tepat…? Kabar gembiranya adalah lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.  Dan, jika kita termasuk orang yang terlambat, sekarang adalah saat yang paling tepat untuk memulainya. Teruslah membaca dan telusuri alenia demi alenia dalam artikel  ini. Anda akan mendapatkan banyak manfaat yang akan membantu permasalahan yang saat ini mungkin sedang dihadapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b.Mencari nafkah jauh lebih penting dari pada mendidik anak…?&lt;br /&gt;       Sebagian besar kita pasti sepakat bahwa mencari nafkah itu sangat penting bagi kelangsungan hidup keluarga. Tapi mungkin, kita agak ragu jika mencari nafkah dirasa jauh lebih penting daripada mendidik anak. Pertanyaan sederhana untuk kita… pada akhirnya, sebenarnya  untuk siapakah kita mencari nafkah, memeras keringat dan membanting tulang itu…? Bukankah untuk keluarga ? Dan,  di dalamnya ada anak-anak yang kita cintai sebagai penerus garis keturunan kita. Apa gunanya mampu menjadi orang yang sukses secara financial, tetapi keluarga dan anak-anak menjadi berantakan ?&lt;br /&gt;Kisah Ibu Lelly tesebut di atas menggambarkan fenomena apa yang terjadi apabila di antara salah satu pasangan ada yang memiliki pandangan bahwa mencari nafkah jauh lebih penting dari pada mendidik anak-anak. Akibatnya, ia lebih peduli pada pekerjaan daripada perkembangan perilaku anak-anaknya. Semoga kita bisa belajar dan memetik hikmah dari kisah keluarga Ibu Lelly tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c.Tidak banyak referensi ilmiah yang jelas…?&lt;br /&gt;       Betul sekali jika alasan ini diajukan 10 atau 15 tahun yang lalu. Namun, kini alasan  di atas sudah ketinggalan zaman. Toko-toko buku di sekitar kita banyak sekali menyediakan referensi ilmiah yang lengkap dan komplit tentang pendidikan dan pengasuhan anak baik dalam bentuk buku maupun majalah.&lt;br /&gt;Belum lagi ditambah jika kita rajin membuka informasi melalui internet, banyak sekali artikel pendidikan pengasuhan anak terkini bisa kita peroleh  secara gratis di situs-situs “Majalah On Line”.&lt;br /&gt;d.Terlalu banyak referensi nonilmiah yang membingungkan…?&lt;br /&gt;       Mendengarkan komentar orang tentang pendidikan anak itu memang baik, tetapi jika terlalu banyak mendengarkan komentar orang, akan membuat anda bingung sendiri dengan masukan  dan pendapat  yang begitu beragam. Akhirnya cara mendidik kita malah tidak konsisten dan akan membingungkan anak kita. Oleh karena itu, lebih baik mencari referensi yang dapat di percaya. Apakah itu dari buku, majalah, ataupun DENGAN BERKONSULTASI LOANGSUNG DENGAN PAKAR PSIKOLOGI ATAU dengan mengikuti seminar – seminar mendidik anak atau juga bisa mengakses ke :  www.binakreatif.blogspot .com . nah jadi lebih mudah kan.&lt;br /&gt;e.Tidak ada manual booknya…?&lt;br /&gt;       Betul sekali satu - satunya produk baru yang kita miliki dari tidak memiliki buku manual adalah bayi kita. Oleh karena itu, kita sering merasa kesulitan bagaimana mengelola anak kita. Meskipun sekarang belum ada buku manual anak yang 100% lengkap, beberapa buku manual anak kita sudah mulai di tulis untuk membantu para orang tua dalam mengelola anaknya. Artikel ini juga sebenarnya adalah salah satu manual tentang bagaimana mendidik anak-anak zaman sekarang pasti berbeda dengan anak zaman kita dulu. Kami juga telah menulis artikel , manual singkat tentang “ mengapa anak kita suka melawan dan susah diatur”.&lt;br /&gt;f.Tidak mau belajar&lt;br /&gt;       Sesunggugnya, fitrah kita terlahir sebagai makhluk pembelajaran. Ingat wktu kita masih bayi atau anak-anak. Apa saja ingin kita pelajari…apa saja ingin kita ketahui. Namun sayangnya guru dan sekolah – sekolah kita telah membuat proses belajar sangat membosankan, tidak menyenangkan, dan bahkan sering membuat stress. Meski sejak itu kita semua menjadi makhluk yang “ malas belajar ”.&lt;br /&gt;Tidak hanya anak kita yang perlu belajar, ternyata kita menjadi orang tua yang baik pun perlu banyak belajar. Jika tidak mau, mungkin jangan - jangan kita tidak akan pernah lulus untuk menjadi orang tua yang bai bagi anak-anak kita tercinta.&lt;br /&gt;Artikel ini sengaja ditulis dengan format yang santai dengan tujuan agar anda semua tidak bosan untuk membacanya. Semoga artikel ini menjadi alat pembelajaran yang mengasyikkan Dan ,  Mengembalikan kita semua menjadi makhluk pembelajaran.&lt;br /&gt;Namun, jika tidak…,stop dulu membacanya. Istirahat dulu sejenak dan besok boleh anda lanjutkan kembali. Jangan pernah memaksakan karena proses belajar itu bukanlah sebuah “ pemaksaan dan keterpaksaan”.&lt;br /&gt;Bina Kreatif , Dari berbagai sumber , Juli 2009&lt;br /&gt;***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4214269774589169133-7601217812128343209?l=binakreatif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://binakreatif.blogspot.com/feeds/7601217812128343209/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4214269774589169133&amp;postID=7601217812128343209' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4214269774589169133/posts/default/7601217812128343209'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4214269774589169133/posts/default/7601217812128343209'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://binakreatif.blogspot.com/2009/07/mendidik-anak-syik-lho.html' title='MENDIDIK ANAK  SYIK LHO......'/><author><name>Kak Wien</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_IjcvEQdax7w/SVmhO3r18gI/AAAAAAAAAEE/mGgzTLHEGB8/S220/Poster+Kakwin.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4214269774589169133.post-8812599710936295700</id><published>2009-06-10T05:51:00.001+07:00</published><updated>2009-06-10T05:58:11.052+07:00</updated><title type='text'>Asyik Untuk Dibaca dan Dipahami</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bina Kreatif Talk about …….&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Anak TK koq jadi tambah bingung…&lt;br /&gt;Hafalan “Short Term Memory - CaLisTung” &lt;br /&gt;Para orang tua dan guru yang berbahagia, suatu hari saya pernah diminta menjadi pembicara oleh salah satu pengelola TK yang ingin menyelenggarakan program parenting  kepada para orangtua muridnya. Tema yang diambilnya waktu itu ada CALISTUNG kependekan dari Baca, Tulis dan Hitung. Saya bertnya pada penyelenggara, apa yang diharapkan dari saya melalui tema ini?&lt;br /&gt;Begini, kami ingin memberikan pemahaman pada para orang tua bahwa di sekolah ini, kami belum mengajarkan Baca, Tulis dan hitung kepada anak di usia yang sangat dini. Namun masalahnya, para orangtua tetap saja ngotot dan terus meminta anaknya agar diajari Baca, Tulis dan Hitung.&lt;br /&gt;Kemudian saya bertanya lagi, “apa alasan para orang tua meminta anaknya diajari Baca, Tulis dan hitung?”&lt;br /&gt;Karena hampir semua sekolah dasar mewajibkan anak kelas 1 yang baru mendaftar harus sudah bias Baca, Tulis dan hitung.&lt;br /&gt;Para orangtua dan guru yang berbahagia, saya tidak pernah lupa kejadian ini. Saya juga heran dari mana asal-usulnya, mengapa setiap sekolah dasar mewajibkan siswa baru kelas satunya bisa CALISTUNG. Padahal jika kita bandingkan dengan pendidikan - pendidikan anak usia dini yang ada di Negara - negara maju, sama sekali tidak ada kewajiban semacam ini. Program untuk anak usia dini mayoritas adalah bermain. Karena bermain, bagi anak-anak, sama dengan belajar. Mereka baru diperkenalkan Baca, Tulis dan Hitung pada kelas tiga sekolah dasar (Elementary).&lt;br /&gt;Secara ilmiah, baru-baru ini saya membaca bahwa anak usia dini baru bisa memfokuskan organ visualnya pada objek tiga dimensi, oleh karenanya, alat-alat pembelajaran anak usia dini  yang baik adalah berbentuk tiga dimensi. Apabila anak usia dini dipaksa untuk belajar CALISTUNG yang pada umumnya menggunakan objek dua dimensi atau tulisan di papan tulis, maka si anak akan mengalami gangguan organ visual pada usia yang lebih muda.&lt;br /&gt;Para orang tua dan guru yang berbahagia , tahukah anda mengapa sekolah-sekolah yang ada di Negara maju tidak menekankan pada aspek Baca, Tulis dan Hitung, melainkan lebih menekankan pada aspek pengembangan kreativitas dan kemampuan berpikir / nalar anak?&lt;br /&gt;Menurut penelitian ilmiah, secara global kemampuan otak manusia  yang berkaitan dengan pembelajaran terbagi menjadi tiga hal besar. Pertama adalah kemampuan kreatif,  kedua adalah kemampuan berfikir / nalar, dan ketiga adalah kemampuan mengingat.&lt;br /&gt;Dari ketiga kemampuan ini, kemampuan mengingat merupakan kemampuan alami yang berifat pelengkap, sementara kemampuan kreatif dan berfikir mrupakan kemampuan utama dan vital yang akan membantu anak untuk mencapai sukses di kehidupannya kelak.&lt;br /&gt;Keberhasilan hidup seseorang lebih banyak ditentukan oleh kemampuan kreatif dan berfikirnya ketimbang kemampuan mengingatnya, atau dengan kata lain kemampuan mengingat (short term memory) hanya sebagai pelengkap saja.&lt;br /&gt;Namun sayangnya, yang terjadi pada system pendidikan kita malah sebaliknya. Sejak usia dini anak-anak sudah dipaksa untuk bisa CALISTUNG, yang sesungguhnya hanyalah sebuah proses untuk mngembangkan kemampuan mengingat jangka pendek anak (Short Term Memory Learning).&lt;br /&gt;Ternyata proses ini tidak hanya berhenti di suia dini saja, namun hingga dewasa mereka terus diajar dan diuji berdasarkan kemampuan mengingatnya dan bukan kemampuan kreatif atau nalarnya.&lt;br /&gt;Para orangtua dan guru yang berbahagia, berikut ini adalah salah satu contoh pertanyaan yang dulu pernah diujikan pada saat kita masih bersekolah. &lt;br /&gt;Apa yang terjadi antara 1825 s.d. 1830 ? Masih ingat pelajaran sejarah ? ya, pasti jawabannya adalah perang diponegoro. Para orangtua dan guru yang berbahagia, sementara saya pernah tanyakan pertanyaan yang sama pada anak-anak TK.&lt;br /&gt;“Nak,  siapa yang tahu apa yang terjadi antara 18.25 s.d. 18.30 ? Tiba-tiba seorang anak berteriak,” saya tahu!  Saya tahu! Itu waktunya adzan maghrib. “ Bagaimana menurut anda,  salahkan jawaban anak ini? Tentu saja jika ini menjawab untuk soal ujian nasional pasti akan disalahkan.&lt;br /&gt;Para Orang tua dan guru yang berbahagia, sejak kecil kita tidak pernah dinilai berdasarkan nalar kita dalam menjawab soal-soal. Sejak kecil kita juga tidak pernah diberi pertanyaan yang menggunakan nalar / berfikir seperti :&lt;br /&gt;Apa yang terjadi jika minyak bumi Indonesia habis ? Apa akibatnya ? ya, saat hal itu terjadi maka masyarakat kita menjadi panic. Karena sejak dulu tidak pernah dipertanyakan, apa lagi sempat dipikirkan.&lt;br /&gt;Para orang tua dan guru yang berbahagia, begitulah anak-anak kita telah dibesarkan dengan system pendidikan yang tidak melatih untuk berfikir kreatif. Jadi, wajar saja jika saat ini jumlah pengangguran baru dari lulusan akademi dan universitas terus membengkak. Sementara para pelajar lulusan SMA dan ederajat terus berebut menyerbu perguruan tinggi yang pada akhirnya juga akan menjadikan mereka hanya sebagai calon-calon pengangguran baru. Sayangnya ternyata mereka juga tidak menyadari hal ini, karena memang tidak pernah dilatih untuk memikirkannya.&lt;br /&gt;Para orangtua dan guru yang berbahagia, mari bersama-sama kita ciptakan sitem pembelajaran yang mengasah kemampuan berfikir anak! Bukan sekedar hafalan. Agar kelak mereka bisa melihat dan menciptakan peluang-peluang baru, bukannya melihat dan menciptakannya masalah baru bagi bangsa ini!&lt;br /&gt;Ingat, pasar bebas tenaga  kerja  sudah di depan mata. Zaman ketika persaingan  kualitas manusia akan semakin ketat! Apakah kelak anak-anak kita akan menjadi budak atau tuan rumah di negrinya sendiri, kitalah yang paling bertanggung jawab.&lt;br /&gt;Sebuah catatan artikel menarik tentang membaca dan menulis menjelaskan sebagai berikut :&lt;br /&gt;Anak yang diajari menulis dan membaca lebih awal ternyata membaca buku dan membuat tulisan jauh lebih sedikit daripada anak yang diajarkan baca dan menulis kemudian. Jauh lebih penting untuk menjaga rasa ingin tahu anak dengan mengembangkan kreativitas individunya daripada mengajarinya untuk membaca dan menulis diusia dini.&lt;br /&gt;Dan mungkin itulah sebabnya, kita semua, para orangtua yang dulu sejak kecil sudah di paksa untuk bisa membaca agar dianggap anak pintar dan mendahului anak lain, tetapi ironisnya kini malah menjadi orangtua yang jarang atau malas membaca. Apalagi untuk membuat tulisan.&lt;br /&gt;Begini  penjelasan alamiahnya. Apabila yang pertama kali dirangsang adalah otak kreatif dan rasa ingin tahu anak, maka anak-anak akan menyimpan segudang pertanyaan yang membutuhkan jawaban. Semakin banyak yang ingin diketahui anak maka semakin besar pula usaha untuk mencari jawabannya. Oleh karena itu, keinginan anak yang terpendam tersebut akan meledak apabila kemudian dia baru diajari bagaimana cara membaca dan menulis. Maka anak ini akan menjadi keranjingan untuk membaca dan menulis karena begitu banyak pertanyaan yang harus segera dijawab dan begitu banyak pengetahuan baru yang harus dia tulis.&lt;br /&gt;Namun sebaliknya, jika yang dirangsang pertama adalah membaca dan menulis, maka otak kreatif anak ini tergantung dari rangsangan awalnya dan memiliki periode kritis hingga usia 12 tahun. Anak yang waktunya lebih  terfokus untuk belajar membaca dan menulis sama sekali tidak memiliki ketertarikan, tidak punya pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab, oleh karenanya dia tidak banyak menggunakan kemampuan baca tulisnya.&lt;br /&gt;Mungkin itulah alas an mengapa system pembelajaran di kebanyakan Negara maju lebih mementingkan kreativitas daripada kemampuan membaca dan menulis pada anak-anak di usia dini.&lt;br /&gt;Mari kita renungkan kembali, seperti apakah anak-anak kita dirumah dan disekolah telah dididik?&lt;br /&gt;Bina Kreatif  Juni  2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4214269774589169133-8812599710936295700?l=binakreatif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://binakreatif.blogspot.com/feeds/8812599710936295700/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4214269774589169133&amp;postID=8812599710936295700' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4214269774589169133/posts/default/8812599710936295700'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4214269774589169133/posts/default/8812599710936295700'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://binakreatif.blogspot.com/2009/06/asyik-untuk-dibaca-dan-dipahami.html' title='Asyik Untuk Dibaca dan Dipahami'/><author><name>Kak Wien</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_IjcvEQdax7w/SVmhO3r18gI/AAAAAAAAAEE/mGgzTLHEGB8/S220/Poster+Kakwin.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4214269774589169133.post-6409138152863342986</id><published>2009-05-21T08:32:00.000+07:00</published><updated>2009-05-21T08:33:11.181+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Dialog Dengan Kak Wien ………&lt;br /&gt;“ Seputar Emosional Anak ”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada Tiga Surat yang masuk redaksi  rangkuman dan jawabannya sebagai berikut :&lt;br /&gt;1. Anak saya umurnya 9 tahun. Ia masih sulit dinasihati secara halus. Kalau saya marah, baru ia mau melaksanakan apa yang diminta. Ia selalu bersikap seperti itu dalam segala hal. Bagaimana untuk mengubahnya agar ia mau menurut?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Saya ibu dari dua orang anak. Salah satunya anak laki-laki umur 7 tahun dan nakal sekali. Apa yang saya katakana selalu diprotes. Apa yang harus saya lakukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Anak saya baru masuk SD, umurnya 6,3 tahun. Ia sulit sekali disuruh belajar, maunya main terus. Bagaimana mendidik anak agar mau menurut terhadap orangtua? Sebagai informasi, saya dan suami sama-sama bekerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab:&lt;br /&gt;Pada kesempatan ini, saya sengaja menggabungkan tiga pertanyaan di atas karena menurut saya ada kesamaan dalam permasalahan yang diajukan, yaitu menghadapi anak yang sulit mematuhi nasihat/ instruksi/ aturan/ apa pun yang diberikan orangtua. Dari ketiga pertanyaan di atas, semuanya berkaitan dengan anak usia sekolah dasar. Satu hal yang menarik dari usia ini adalah sering sekali mereka menolak dianggap anak kecil lagi. Akibatnya mereka tidak lagi “mudah menurut” jika cara orangtua dalam menyuruh/ mengatur membuat mereka merasa seperti anak kecil. Mereka akan lebih mudah memahami dan menuruti keinginan orangtua jika mereka diajak bicara dan diberi penjelasan/ alasan dari setiap aturan yang kita berikan pada mereka. Misalnya, mengapa mereka tidak boleh menonton TV terlalu lama atau tidur larut malam. Jadi, hindari instruksi seperti, “Kamu harus belajar karena Ibu menyuruh kamu belajar”, atau “karena itu memang kewajibanmu”. Lebih baik berilah alasan yang bisa mereka terima tentang mengapa mereka harus belajar.&lt;br /&gt;Apabila anak sudah diajak bicara dan sudah pula diberikan penjelasan panjang lebar tapi masih sulit menurut juga, Anda bisa mencoba beberapa tip berikut dalam menghadapi anak:&lt;br /&gt; Perbaiki cara Anda memberikan instruksi pada anak. Berikan instruksi secara singkat dan jelas, seperti, “Sekarang kamu belajar di kamar”; berikan instruksi satu per satu; tatap mata anak ketika memberikan instruksi bukan dalam bentuk pertanyaan, seperti, “Kamu mau belajar atau tidak?” (tentu saja anak lebih memilih jawaban “tidak”).&lt;br /&gt; Berikan pujian pada kepatuhan anak, meskipun hasilnya tidak sempurna. Yang terpenting anak sudah berusaha. Contoh, “Terima kasih kamu sudah berusaha merapikan tempat tidurmu”.&lt;br /&gt; Perkuat pujian dengan konsekuensi positif, misalnya, “Nah, gitu dong cepat mengerjakan PR- nya. Karena kamu cepat, jadinya kamu punya lebih banyak waktu untuk main”.&lt;br /&gt; Berikan pilihan pada anak, contoh: Kalau kamu belajar sekarang, kamu masih punya waktu untuk main sepeda di luar. Tapi kalau belajarnya nanti-nanti, kamu akan kehilangan waktu bermainmu.&lt;br /&gt; Gunkan teknik overcorrection. Stephen Garber dalam bukunya “Good Behaviour” menyarankan orangtua untuk menggunakan teknik ini. Ketika anak tidak kunjung merespons instruksi Anda, katakana padanya, “Mungkin kamu belum tahu caranya ya, jadinya kamu belum merapikan tempat tidurmu. Sini, deh, Ayah ajarkan lagi, coba kamu ulangi terus sampai lima kali supaya kamu ingat caranya dan besok-besok sekali diminta kamu akan langsung melakukannya.” Dengan cara ini diharapkan anak akan lebih memilih langsung melakukan apa yang Anda minta ketika Anda baru 1x menyuruhnya.&lt;br /&gt; Gunakan teknik broken record atau piringan hitam/kaset rusak. Pernah dengar kaset rusak, yang syairnya dinyanyikan berulang-ulang? Nah, teknik ini diilhami dari kaset rusak tersebut. Caranya, ulangi terus instruksi Anda samapi anak bosan mendengarkannya dan akhirnya benar-benar melakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal lagi yang tidak boleh dilupakan adalah bahwa penerapan teknik di atas tetap membutuhkan kesabaran dari Anda. Jangan sampai emosi Anda ikut terpancing karena ini hanya akan memperburuk keadaan. Tetaplah memberikan perhatian dan kasih saying yang ia butuhkan karena yang kita “perangi” adalah perilaku anak, bukan diri anak.&lt;br /&gt;Demikian saran dari saya.&lt;br /&gt;Selamat mencoba dan tetaplah bersabar.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4214269774589169133-6409138152863342986?l=binakreatif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://binakreatif.blogspot.com/feeds/6409138152863342986/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4214269774589169133&amp;postID=6409138152863342986' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4214269774589169133/posts/default/6409138152863342986'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4214269774589169133/posts/default/6409138152863342986'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://binakreatif.blogspot.com/2009/05/dialog-dengan-kak-wien-seputar.html' title=''/><author><name>Kak Wien</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_IjcvEQdax7w/SVmhO3r18gI/AAAAAAAAAEE/mGgzTLHEGB8/S220/Poster+Kakwin.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4214269774589169133.post-9051863963467831230</id><published>2009-04-02T06:28:00.001+07:00</published><updated>2009-04-02T06:30:21.846+07:00</updated><title type='text'>" SUPERMOM "</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 26pt; font-family: Mistral; color: red;"&gt;Bina kreatif talk about……&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 22pt; font-family: &amp;quot;Cooper Black&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; color: rgb(0, 112, 192);"&gt;SUPERMOM , dilematika ibu bekerja?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: &amp;quot;Cooper Black&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; color: rgb(0, 112, 192);"&gt;Oleh : Mama Icha&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: &amp;quot;Cooper Black&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Realita ibu bekerja di jaman sekarang menjadi pemandangan yang sangat biasa. Apalagi tuntutan masyarakat yang menginginkan wanita memiliki karier diluar rumah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Banyak orang yang menyekolahkan anak perempuannya sampai jenjang Perguruan Tinggi dengan harapan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;anak perempuannya tersebut mudah mendapatkan pekerjaan. Emansipasi wanita memang menjadi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;alasan banyak perempuan untuk rela mengejar karier di luar rumah. Selain itu tuntutan ekonomi yang semakin tinggi membuat para suami mengijinkan istrinya untuk turut serta membantu mencari nafkah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Banyak ibu yang diluar sana berkarier mulai dari&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sopir taksi sampai eksekutif di perusahaan ternama, mulai dari pemilik bisnis kecil – kecilan sampai pengusaha dengan omset&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;milyaran rupiah pertahun. Namun setinggi apapun karier yang dicapai, seorang perempuan tidak akan melepaskan tanggung jawabnya terhadap urusan rumah tangga. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;Seperti yang dialami Ibu Nia, ibu dari 3 orang anak. Sebagai seorang manager eksekutif di perusahaannya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ia bertanggung jawab atas banyak hal di kantornya. Namun begitu sampai di rumah ia masih harus memasak untuk suami dan anak- anak. Alasannya untuk menjaga asupan gizi anak anaknya. Ia pun harus memastikan anak anak mengerjakan PR, menemani belajar sambil sesekali membuatkan soal latihan. Belum lagi harus menemani bermain dan membacakan cerita sebelum tidur.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ketika hari makin larut, Ibu Nia masih menyempatkan diri menyiapkan sarapan untuk esok pagi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Pernah ketika si sulung sakit, Ibu Nia harus berkali kali menelpon ke rumah untuk memastikan sang pengasuh merawat anaknya dengan baik. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Ketika Ibu Nia&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;merasa ada yang tidak berjalan sebagaimana mestinya, ia merasa sangat bersalah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;Apa yang dialami oleh Ibu Nia diatas bisa jadi Sindroma Supermom.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Supermom adalah suatu cara berfikir seorang ibu yang merasa dirinya mampu melakukan apa saja, dimana saja dan kepada siapa saja. Keinginan menjadi Supermom sama saja&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dengan menginginkan segala sesuatunya berjalan sempurna. Padahal tidak ada yang sempurna didunia ini kan? Seorang ibu super biasanya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;cenderung menginginkan anaknya mengikuti pola pikirnya dan langkah langkahnya yang serba cepat dan dinamis. Ketidak mampuan sikecil mengikuti irama sang ibu menjadikan ibu tidak sabar. Dalam hal prestasi, sang supermom menginginkan anaknya serba bisa. Dimasukkannya anak anaknya dalam berbagai kegiatan dan kursus - kursus tanpa perlu memikirkan anaknya suka atau tidak. “Nak, ini untuk kepentinganmu juga lho……”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Contoh yang dialami ibu Nia diatas menunjukkan pada kita bahwa peran ganda seorang perempuan sebagai ibu rumah tangga sekaligus pekerja adalah tidak mudah dan sangat berat. Tanggung jawab seorang perempuan di kantor sama beratnya dengan tanggung jawab seorang laki- laki. Namun masyarakat kitapun masih punya pandangan bahwa seorang perempuan harus pandai mengurus keluarga. Citra buruk akan melekat pada diri perempuan apabila ia&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dianggap gagal mengurus rumah tangganya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Oleh sebab itulah bisa dikatakan beban seorang perempuan dua kali lipat beban laki – laki.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;Walaupun sindroma supermom lebih banyak terjadi pada perempuan bekerja, namun bukan tidak mungkin ibu rumah tangga biasa bisa menjadi supermom. Apabila anda seorang SUPERMOM, anda bisa jadi menemui banyak kesulitan. Ketika pulang kantor dalam keadaan lelah, anda akan lebih mudah marah.Apalagi jika melihat hal dirumah yang tidak sesuai dengan keinginan anda. Disaat anda sakit, anda menjadi tidak tenang, karena terbayang kondisi rumah yang acak- acakan tidak terurus. Lantas siapa yang memasak makanan untuk suami dan anak – anak? Siapa yang akan mengantar anak kesekolah? Siapa yang akan ………..????? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;Lantas bagaimana agar tidak terjebak pada keinginan menjadi ibu yang super? Ada beberapa langkah yang bisa dicoba, yaitu:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Mengenali diri sendiri, seberapa besar kemampuan diri sendiri. Seorang supermom biasanya adalah orang yang dinamis, ambisius dan memiliki orientasi prestasi yang tinggi. Jadi kalau anda bukan tipe seperti itu jangan memaksakan diri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Kenali tipe pribadi anda, apakah anda orang yang perfeksionis atau yang apa adanya. Anda orang yang pencemas atau tidak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Kurangi tuntutan berlebih pada diri sendiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;4.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Mengajak suami berperan serta dalam urusan rumah tangga. Misalnya dalam hal pengasuhan anak yang selain meringankan tugas istri juga berdampak positif bagi anak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Suatu hal yang wajar apabila ibu tidak sanggup mengerjakan suatu hal,lantas meminta bantuan orang lain.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Untuk menjadi seorang ibu yang dicinta keluarga, tidak perlu menjadi SUPERMOM bukan? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;                 &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;                        &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: red;"&gt;---------------BINA KREATIF 2009----------------&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4214269774589169133-9051863963467831230?l=binakreatif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://binakreatif.blogspot.com/feeds/9051863963467831230/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4214269774589169133&amp;postID=9051863963467831230' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4214269774589169133/posts/default/9051863963467831230'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4214269774589169133/posts/default/9051863963467831230'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://binakreatif.blogspot.com/2009/04/supermom.html' title='&quot; SUPERMOM &quot;'/><author><name>Kak Wien</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_IjcvEQdax7w/SVmhO3r18gI/AAAAAAAAAEE/mGgzTLHEGB8/S220/Poster+Kakwin.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4214269774589169133.post-4015834356934590098</id><published>2009-03-17T05:49:00.001+07:00</published><updated>2009-03-17T05:53:36.991+07:00</updated><title type='text'>KOMUNIKASI  EFEKTIF</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 28pt; font-family: Mistral; color: red;"&gt;Bina Kreatif Talk About ……&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 20pt; font-family: &amp;quot;Cooper Black&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;KOMUNIKASI&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;EFEKTIF&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 20pt; font-family: &amp;quot;Cooper Black&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;ORANG TUA&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;DENGAN&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;GURU&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: AirfoilScriptSSi;"&gt;Disusun oleh: Tim BINA KREATIF&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: rgb(112, 48, 160);"&gt;Hari itu kami berada di sebuah sekolah dibilangan Jakarta Timur. Kebetulan kami mendampingi Pak Winardi dalam suatu sesi konsultasi. Seorang ibu mengeluh tentang minimnya peran guru dalam mendidik anaknya di sekolah.” Masa anak saya sudah 4 bulan sekolah disini belum satupun diajarkan membaca dan menulis, setiap hari hanya bermain- main dan menggambar melulu…” Pak Win kok bu Guru tidak perhatian ya sama anak saya, kalo dikelas anak saya di cuekin. Gurunya cuma memperhatikan anak lain”. “ Pak, sebelum anak saya sekolah ia anak yang rajin belajar, tapi setelah sekolah kok malah malas belajar, lebih suka bermain. Apalagi dikelas jadi agresif suka memukul temannya. Apa karena kurang perhatian dari gurunya ya?” yang tidak kalah seru banyak ibu guru yang akhirnya mengeluh, “Pak, mamanya si Ade(nama samaran) minta supaya saya beginilah, begitulah, belum lagi anaknya susah diatur!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: rgb(112, 48, 160);"&gt;Sebenarnya pokok permasalahannya dimana sih?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: rgb(112, 48, 160);"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: rgb(112, 48, 160);"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Mungkin kita harus mengupas kembali tentang bagaimana sih sebenarnya proses belajar mengajar di TK. Taman Kanak- Kanak atau TK sebenarnya adalah suatu tempat yang memang didisain untuk bermain. Ya…… namanya juga Taman bukan Sekolah. TK merupakan wadah untuk mempersiapkan anak memasuki jenjang Sekolah Dasar. Anak dipersiapkan mentalnya, motorik, konsentrasi, kondisi emosional, bersosialisasi,kemandirian dan daya pikirnya. Nah karena usia TK merupakan fase eksplorasi yang lebih banyak mengandalkan gerakan maka pada usia ini anak lebih suka bermain. Oleh sebab itu kurikulum di TK dibuat sedemikian rupa sehingga mengakomodasi kepentingan anak akan bermain. Banyak TK yang memiliki misi dan visi belajar sambil bermain. Namun pada kenyataannya misi ini bergeser kearah lebih banyak belajarnya dibanding porsi untuk bermain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: rgb(112, 48, 160);"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: rgb(112, 48, 160);"&gt;Bermain bagi anak usia prasekolah juga adalah media untuk belajar. Anak belajar mengidentifikasi dan mengelola emosi, suatu pelajaran paling mendasar dalam kehidupan. Anak belajar berbagi dengan sesama , bersosialisasi, mengasah empati, dsb. Sebuah penelitian juga menemukan bahwa anak yang dibiarkan bermain secara alami memiliki tingkat depresi yang rendah. Ini menunjukkan bahwa bermain bagi anak prasekolah dapat menurunkan hormon stress. Banyak sekali kita temui orang tua yang merasa rugi kalau anaknya hanya bermain saat disekolah. Mereka menutut anaknya bisa membaca, menulis dan berhitung serta memiliki academic skill yang tinggi.”Lho…….saya kan masukin anak saya di TK supaya gampang masuk SD favorit dan mudah mengikuti pelajaran di SD kelak” bahkan kami pernah menemui orang tua yang tidak mau menyekolahkan anaknya di TK dengan alas an rugi, karena disekolah banyak mainnya ketimbang belajar. Pendapat yang demikian tentu saja salah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: rgb(112, 48, 160);"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: rgb(112, 48, 160);"&gt;Tugas pengasuhan anak dan pendidikan anak yang paling utama &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;sebenarnya adalah di rumah. Keluarga adalah teladan bagi anak untuk mempelajari segala sesuatu baik yang bersifat akademis maupun non akademis, yang bersifat verbal maupun non verbal. Orang tualah yang bisa bertindak sebagai observer,guru,pengasuh,dan pendidik yang baik bagi anak anaknya. Orang tua paling tahu sifat dan karakter anak,kelebihan dan kekurangan anak sehingga sebagai orang yang pertama paham bagaimana cara memperlakukan anak. Pola asuh yang diterapkan orang tua di rumah secara tidak langsung akan berimbas ke lingkungan sekolah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: rgb(112, 48, 160);"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Lalu bagaimana agar terjadi keselarasan antara pendidikan anak di sekolah dan dirumah? Yang paling penting adalah adanya komunikasi yang baik antara pihak sekolah terutama guru kelas dengan orang tua.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: rgb(112, 48, 160);"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: rgb(112, 48, 160);"&gt;Tugas pendidikan anak tidak bisa dibebankan sepenuhnya ke sekolah. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Memasukkan anak kesebuah sekolah tidak seperti menitipkan bahan kain ke penjahit yang setelah menjadi sebuah baju bisa langsung dipakai. Begitu orang tua memutuskan akan memasukkan anaknya ke sebuah sekolah, saat itu pula sudah ada komunikasi antara sekolah dan orang tua. Pihak sekolah sudah harus terbuka mengenai materi pelajaran, sistem pengajaran dan fasilitas apa saja yang akan diberikan selama kegiatan sekolah berlangsung. Pihak sekolah bertanggung jawab untuk memberikan cara- cara belajar kepada anak- anak dan orang tua bertanggung jawab membantu belajar anak dan memberi motivasi kepada anak.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: rgb(112, 48, 160);"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: rgb(112, 48, 160);"&gt;Dibutuhkan kerjasama yang baik antara orang tua dan sekolah. Mungkin kerjasama yang diharapkan tidak mudah untuk dilaksanakan. Hal ini bisa saja karena keterbatasan waktu pertemuan guru dengan orang tua bisa karena kedua orang tua bekerja ataupun karena faktor orang tua tunggal. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: rgb(112, 48, 160);"&gt;Orang tua perlu mengetahui target pencapaian pendidikan disekolah, untuk kemudian berkolaborasi dengan guru mendorong anak mencapai target yang diinginkan. Contoh sederhana seperti yang dialami Anti (nama samaran) seorang murid TK B. Sudah 3 bulan bersekolah Anti masih “pipis” didalam kelas. Bu guru sudah meminta Anti untuk memberitahu bu guru jika ingin BAK. Tapi rupanya himbauan bu guru tidak membuat Anti langsung melaksanakan intruksi bu guru. Karena kemandirian merupakan target pencapaian di TK maka bu guru tidak bisa berusaha seorang diri. Guru dapat mengkomunikasikan hal tersebut kepada orang tua dan bersama sama mencari jalan keluar permasalahan tersebut. Setelah ditelusuri ternyata sang mama termasuk orang yang over protective kepada Anti. Segala sesuatu harus mama yang membantu. Ketika mama tidak ada Anti seperti kebingungan harus minta tolong sama siapa. Anti malu minta tolong sama Bu Guru. Anti mengalami krisis percaya diri. Sedikit demi sedikit mama mendorong Anti untuk lebih mandiri di rumah. Bu Guru pun lebih intensif melakukan pendekatan personal ke Anti. Sesekali Bu Guru berkunjung ke rumah Anti. Akhirnya sedikit demi sedikit rasa percaya diri Anti mulai muncul. Bahkan akhirnya Bu Guru senang karena Anti sudah berani mengungkapkan keinginan dan perasaan kepada Bu Guru. Suatu pencapaian yang tentu saja melebihi target yang diinginkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: rgb(112, 48, 160);"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: rgb(112, 48, 160);"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;Ayah ibu………,harus diakui&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Guru di sekolah tidak mempuyai cukup waktu untuk mengoptimalkan setiap aspek kecerdasan anak. Dengan waktu belajar yang singkat dan jumlah murid yang harus ditangani. Untuk itulah kerjasama yang sinergis&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;antara orang tua dan guru harus ditingkatkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: rgb(112, 48, 160);"&gt;Sekolah yang baik perlu menerima secara terbuka saran dan kritikan dari orang tua. Karena dengan adanya saran maupun kritikan dari para orang tua menandakan para orang tua peduli terhadap proses pendidikan disekolah tersebut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: rgb(112, 48, 160);"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: rgb(112, 48, 160);"&gt;===== &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Rage Italic&amp;quot;; color: rgb(112, 48, 160);"&gt;Bina Kreatif&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: rgb(112, 48, 160);"&gt; =====&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4214269774589169133-4015834356934590098?l=binakreatif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://binakreatif.blogspot.com/feeds/4015834356934590098/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4214269774589169133&amp;postID=4015834356934590098' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4214269774589169133/posts/default/4015834356934590098'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4214269774589169133/posts/default/4015834356934590098'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://binakreatif.blogspot.com/2009/03/komunikasi-efektif.html' title='KOMUNIKASI  EFEKTIF'/><author><name>Kak Wien</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_IjcvEQdax7w/SVmhO3r18gI/AAAAAAAAAEE/mGgzTLHEGB8/S220/Poster+Kakwin.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4214269774589169133.post-7039310890973069152</id><published>2009-02-22T05:28:00.001+07:00</published><updated>2009-02-22T05:30:17.218+07:00</updated><title type='text'>MENJADI  SAHABAT  SEKALIGUS TEMAN  BAGI ANAK</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 28pt; line-height: 115%; font-family: Mistral; color: rgb(0, 112, 192);"&gt;Obrolan pagi ala Kak Wien ……..&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 18pt;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 20pt; line-height: 115%; font-family: Broadway; color: red;"&gt;Menjadi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sahabat&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sekaligus teman bagi anak - anak&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: rgb(0, 112, 192);"&gt;Sepuluh tahun yang lalu berdasarkan penelitian , volume otak anak usia&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;5 tahun masih dalam kategori perkembangan yang biasa. Namun decade 2000-an&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;perkembangan volume otak anak meningkat rata – rata 10% - 15 %, hal ini bisa disebabkan oleh nutrisi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang lebih seimbang juga termasuk perkembangan kecerdasan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;anak – anak sekarang cenderung meningkat , ada beberapa hal yang memungkinkan perkembangan itu&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;optimal :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: rgb(152, 72, 6);"&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: rgb(152, 72, 6);"&gt;Nutrisi yang lebih baik&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: rgb(152, 72, 6);"&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: rgb(152, 72, 6);"&gt;Pemahaman orang tua tentang anak meningkat / lebih baik dari sebelumnya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: rgb(152, 72, 6);"&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: rgb(152, 72, 6);"&gt;Stimulan yang di berikan pada anak – anak sekarang lebih&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kreatif dan vareatif&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpLast" style="text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: rgb(152, 72, 6);"&gt;&lt;span style=""&gt;4.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: rgb(152, 72, 6);"&gt;Informasi yang masuk ke anak sangat beragam&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: rgb(0, 112, 192);"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: red;"&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: red;"&gt;Nutrisi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang lebih baik&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: rgb(0, 112, 192);"&gt;Kalau kita simak saat ini banyak sekali “produk makanan atau minuman”&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang ditawarkan produsen&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pada konsumen mulai dari produk Susu , produk makanan pendamping , bubur dll, semua berorientasi pada kebutuhan “balita”&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan pada akhirnya orang tua akan memilihkan produk menu terbaik untuk putra – putrinya. Hal ini juga sangat mempengaruhi pada pertumbuhan “Volume otak anak” . Berdasarkan penelitian ternyata memang nutrisi besar pengaruhnya terhadap perkembangan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;otak dan kecerdasan anak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: rgb(0, 112, 192);"&gt;Gimana ? ……. Rehat dulu&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kita coba evaluasi ke anak – anak kita … sudah kita berikan nutrisi yang baik belum untuk anak……. He… he….. menu makanan sehat tidak harus yang instan lho…. Sayur buatan mama juga tidak kalah koq….. coba saja menu sayur bayam buatan mama……wah tentu bergizi juga…… eh…para ibu jangan berkecil hati ya….. menu masakan buatan mama juga&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dahsyat koq untuk anak….(red )&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: red;"&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: red;"&gt;Pemahaman orang tua tentang anak meningkat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: rgb(0, 112, 192);"&gt;“Kursus Mendidik Anak ?”&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;… memang ada?&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;…… ternyata sekarang ini banyak sekali lembaga atau institusi yang menawarkan “Kursus mendidik anak “ supaya lebih berkualitas, Disamping itu banyak juga buku – buku tentang perkembangan psikologis anak, mulai dari dalam kandungan sampai pada usia remaja anak. Orang tua memiliki banyak pilihan untuk mendapatkan ilmu mendidik anak . Semakin meningkatnya pengetahuan orang tua tentang anak tentunya akan semakin berkualitas dalam pengasuhannya. Kalau kita amati lebih dari 500 judul buku tentang cara / metode mendidik dan mengoptimalkan potensi anak. Hal inilah yang membuat perkembangan anak – anak&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;semakin baik. Juga tak kalah besar peranan dari internet, bahkan banyak orang tua memperoleh informasi tentang anak dari internet.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: rgb(0, 112, 192);"&gt;Nah … saat ini juga sudah dimulai dari “Bina kreatif Parenting Course” dengan menghadirkan psikolog anak ke sekolah yang jadi binaan ,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tentu hal ini jadi satu trobosan yang sangat dinantikan banyak orang tua….. ( kita ambil respon dari peserta parenting course , sebagian besar menganggap sangat penting dan perlu , bahkan tidak sedikit orang tua murid yang akhirnya mengadakan kegiatannya di perkumpulan arisan, pengajian , majelis ta’lim bahkan sampai pada perkumpulan ibu – ibu PKK kelurahan…. He…he… Psikolog goes to School….. sampai saat ini respon yang kami terima sangat positif…. Sukses Bina Kreatif…. Redaksi )&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: red;"&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: red;"&gt;Stimulan yang diberikan pada anak makin kreatif dan bervareatif&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: rgb(0, 112, 192);"&gt;“Kursus membaca a,I,u,e,o untuk balita?”&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;…….. “Kursus Sempoa, mental aritmatika , jarimatika untuk balita dan pra sekolah?” …….&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;“Kursus bahasa inggris untuk prasekolah dan balita?”&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;….&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;“Kursus olah vocal , menari, karate berenang untuk anak?” dan masih banyak lagi yang di tawarkan untuk anak…. Bahkan ada lembaga Pra sekolah yang menawarkan berbagai methode pembelajaran untuk anak….. lalu sebagai orang tua tentunya makin banyak pilihannya……&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ada yang memahami betul kondisi anaknya, ada yang ikut – ikutan dan lain – lain pilihannya…… intinya semua berorientasi pada Akademik skill nya anak. Adalagi metode belajar dengan Glen Domand dan masih banyak lagi. semakin vareatifnya metode membuat orang tua mempunyai banyak pilihan untuk mengajari anak – anak nya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: rgb(0, 112, 192);"&gt;Wow…ternyata bayak sekali yang menawarkan cara terbaik dalam belajar… kita deh sebagi orang tua kadang tambah bingung mana yang mesti dipilih….. yang harus jadi pegangan bagi para orang tua “Boleh kita mengajarkan bermacam methode pembelajaran untuk anak – anak&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tapi yang lebih penting harus “Kreatif , fun…belajar sambil bermain…. And…. Anak tidak terbebani dengan bermacam – macam&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;hal yang di berikan !!!!”&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Oke …untuk para orang tua mesti kreatif , sabar dan memahami anak – anak. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: rgb(0, 112, 192);"&gt;Untuk lebih memahami pernak – pernik kursus untuk anak buka artikel berjudul “ &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: rgb(192, 0, 0);"&gt;Haruskah anak Kursus?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: red;"&gt;&lt;span style=""&gt;4.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: red;"&gt;Informasi sangat beragam yang di terima anak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: rgb(0, 112, 192);"&gt;Dari mulai media televisi , animasi , game bahkan sampai pengenalan belaajar melalui “Multi Media” bahkan anak anak sekarang sudah pandai bermain dengan media computer, termasuk juga tentang program “Media Edukasi” untuk pre school, mulai dari mewarnai , mengenal huruf , mengenal angka , belajar membaca , belajar berhitung dan sebagainya. Termasuk juga mendapatkan pembelajaran dari buku – buku yang beragam dan menarik untuk anak – anak. Dari penelitian ternyata peran media juga penting dalam perkembangan kecerdasan anak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: rgb(0, 112, 192);"&gt;Nah… semakin banyak informasi yang didapat anak , semakin pintarlah anak – anak , yang penting sekarang bagaimana kita bisa memberikan informasi terbaik untuk anak dan mem-back up&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;informasi negative-nya &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: rgb(0, 112, 192);"&gt;Saran Untuk para Orang tua dan para Guru&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Pra sekolah……..&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="1" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="color: rgb(0, 112, 192); text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Terus      active mencari dan menuntut ilmu perkembangan psikologis anak, &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="color: rgb(0, 112, 192); text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Tetap      kreative dalam mengajarkan materi untuk anak , &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="color: rgb(0, 112, 192); text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Jeli      merespon permasalahan yang dialami anak &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="color: rgb(0, 112, 192); text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Tetap      sabar menghadapi perkembangan emosional dan kecerdasan anak&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="color: rgb(0, 112, 192); text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Jangan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;membanding – bandingkan kekurangan dan      kelemahan anak&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="color: rgb(0, 112, 192); text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Tetap      siap menghadapi kondisi anak, siap menemani belajar , siap menerima      kritikan dari anak&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="color: rgb(0, 112, 192); text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Siap      menjdi sahabat sekaligus teman bagi&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;anak - anak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="color: rgb(0, 112, 192); text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Berbagilah      dengan pasangan hidup anda dalam mendidik dan mengarahkan anak&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="color: rgb(0, 112, 192); text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Dan      akhirnya bersiaplah menjadi Orang tua yang selalu menjadi figure Positif      bagi anak – anak&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: rgb(0, 112, 192);"&gt;Dengan bekal ilmu yang cukup , kesabaran yang tinggi dan kreatif yang selalu kita lakukan , tentunya anak – anak akan terus merasa “Nyaman” berada disisi orang tuanya yang menjadi sahabat sekaligus teman bagi anak – anak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: rgb(0, 112, 192);"&gt;Kembali ke Laptop …he….he…. kata Mas Tukul Arwana……..&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: rgb(0, 112, 192);"&gt;Oke… selamat berjuang semaga kita tetap menjadi sahabat sekaligus teman bagi anak – anak kita. Semoga berhasil.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: rgb(0, 112, 192);"&gt;Kak wien , Bina Kreatif&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;2009&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4214269774589169133-7039310890973069152?l=binakreatif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://binakreatif.blogspot.com/feeds/7039310890973069152/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4214269774589169133&amp;postID=7039310890973069152' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4214269774589169133/posts/default/7039310890973069152'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4214269774589169133/posts/default/7039310890973069152'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://binakreatif.blogspot.com/2009/02/menjadi-sahabat-sekaligus-teman-bagi.html' title='MENJADI  SAHABAT  SEKALIGUS TEMAN  BAGI ANAK'/><author><name>Kak Wien</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_IjcvEQdax7w/SVmhO3r18gI/AAAAAAAAAEE/mGgzTLHEGB8/S220/Poster+Kakwin.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4214269774589169133.post-3147684694087498160</id><published>2009-02-22T05:25:00.001+07:00</published><updated>2009-02-22T05:28:07.924+07:00</updated><title type='text'>PERLUKAH  KURSUS  UNTUK ANAK</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 22pt; font-family: Mistral; color: rgb(0, 176, 240);"&gt;Bina Kreatif&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;talk about …….&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 18pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: red;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 18pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: red;"&gt;HARUSKAH&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ANAK &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;IKUT KURSUS?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: rgb(0, 176, 240);"&gt;Oleh: Tim Bina Kreatif&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;        &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 176, 240);"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: rgb(0, 0, 204);"&gt;    Hari ini suasana di suatu sekolah sangat ramai dengan orang tua yang datang. Ya….hari ini adalah hari pengambilan raport. Sambil menunggu giliran, ada sekelompok ibu – ibu yang anaknya masih duduk di kelas 1 &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;asyik mengobrol. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: rgb(0, 0, 204);"&gt;“Bagaimana&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;anaknya Bu, kalau diluar sekolah dimasukkan les apa nih? Kalau anak saya sih saya suruh kursus sempoa dan bahasa inggris. Dua kali seminggu anak saya harus mengikuti bimbel. Lumayanlah, nilai pelajaran disekolah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;jadi meningkat.”&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: rgb(0, 0, 204);"&gt;“ Iya Bu, anak saya juga punya banyak kegiatan diluar sekolah. Senin ikut kursus komputer, Selasa dan Kamis ikutan les mengaji, Rabu dan Jum’at ikut kursus Bahasa Inggris. Maklumlah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kami kedua orang tuanya bekerja, jadi kami pikir harus ada kegiatan untuk anak kami selama kami tidak ada dirumah kan?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: rgb(0, 0, 204);"&gt;“Lho…… apa anaknya nggak capek Bu?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: rgb(0, 0, 204);"&gt;“Ah, selama ini baik- baik saja kok. Toh kami memasukkan anak ke berbagai macam&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kursus itu tanpa paksaan. Saya tidak ingin dia seperti saya dulu,yang tidak punya kesempatan untuk les. Saya ingin anak saya jadi anak yang aktif”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: rgb(0, 0, 204);"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: rgb(0, 0, 204);"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;Obrolan ibu – ibu diatas menunjukkan pada kita bahwa saat ini&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;fenomena anak usia dini yang harus mengikuti kursus adalah hal yang biasa. Berbagai alasan dikemukakan orang tua mulai dari sekedar mengisi waktu luang anak sampai pada keinginan orang tua untuk mempersiapkan masa depan anaknya agar siap berkompetisi dan tidak tertinggal. Tidak seperti kita di era 80-an, tidak banyak kursus yang ada. Kalaupun ada, paling - paling yang berhubungan dengan seni seperti musik dan menyanyi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: rgb(0, 0, 204);"&gt;Pada jaman sekarang para orang tua makin mengetahui tingkat kompetisi yang ketat dalam hal pendidikan dan pekerjaan. Semakin besar kota maka semakin tinggi tuntutan kompetisinya. Oleh sebab itulah kebutuhan akan kursus paling banyak berkembang di kota – kota besar. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Jenis kursus yang banyak dipilih pun kebanyakan yang berhubungan dengan kemampuan kognitif yang lebih mengandalkan kerja otak kiri. Hal ini dapat dipahami karena kemampuan berhitung diperlukan pada hampir setiap bidang pekerjaan. Bahkan fakta di lapangan membuktikan bahwa pekerjaan yang membutuhkan kemampuan matematika memang memiliki imbalan gaji yang cukup tinggi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: rgb(0, 0, 204);"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: rgb(0, 0, 204);"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;Hal ini dipertegas lagi dengan penelitian para ahli di luar negri yang menguraikan pentingnya stimulasi sejak dini untuk mengembangkan kemampuan anak secara optimal. Maka berlomba – lombalah para orang tua ingin memberikan stiulasi yang baik untuk anaknya. Namun kadangkala orang tua terlalu bersemangat memasukkan anak keberbagai macam kursus tanpa mempertimbangkan kondisi emosional anak. Sebenarnya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;banyaknya kursus yang harus diikuti si kecil tidak akan membuat potensi anak berkembang dengan optimal. Energi anak tidak seperti energi orang dewasa yang sanggup bekerja dalam waktu yang lama. Anak butuh istirahat yang cukup dan lebih banyak berinteraksi dengan lingkungan sosial disekitarnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: rgb(0, 0, 204);"&gt;Terlalu banyak kegiatan rutin akan menjadi beban bagi anak dan anak bisa mengalami kelelahan mental. Dampak selanjutnya berpengaruh pada konsentrasi dan daya ingat yang menurun. Hal inilah yang harus menjadi pertimbangan utama orang tua. Berkurangnya waktu bermain akan menyebabkan krisis emosional anak. Bukan tidak mungkin anak menjadi anti sosial dan menjadi anak “semau gue”. Puncak dari semua itu, pada akhirnya muncul perilaku negative pada anak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: rgb(0, 0, 204);"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: rgb(0, 0, 204);"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;Sebenarnya keinginan setiap orang tua untuk mempersiapkan buah hatinya sebaik mungkin adalah suatu hal yang wajar. Namun orang tua tidak boleh memasukkan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;anaknya mengikuti suatu kegiatan tanpa perhitungan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: rgb(0, 0, 204);"&gt;Hal- hal yang harus diperhatikan orang tua antara lain:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="1" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="color: rgb(0, 0, 204); text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Perhatikan      minat dan bakat anak. Orang tua sebenarnya bisa menjadi observer bagi      anaknya. Orang tua bisa mengetahui apa yang disukai atau tidak disukai      anak sehingga menjadi pedoman memilihkan kursus yang sesuai dengan anak.      Jadi apabila anak memiliki kesukaan dibidang olah raga jangan memasukkan      anak kursus musik. Hal itu tidak akan membuat anak nyaman.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="color: rgb(0, 0, 204); text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Letak      tempat kursus dari rumah jangan terlalu jauh. Ini untuk menghindari      kelelahan fisik selama perjalanan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="color: rgb(0, 0, 204); text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Usahakan      jenis kursus tidak hanya yang mengoptimalkan kerja otak kiri saja tetapi      juga menyeimbangkan dengan otak kanan seperti seni dan olah raga.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="color: rgb(0, 0, 204); text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Hindari      pilihan jenis kursus yang terlalu banyak. Pilihlah satu atau dua jenis      kursus yang benar benar diminati anak dan tentunya bermanfaat bagi anak.      Anak yang diberi kesempatan mengembangkan satu macam kemampuan akan lebih      bisa mengembangkan potensinya dibandingkan anak yang diharuskan      mengembangkan banyak kemampuan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="color: rgb(0, 0, 204); text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Komunikasikan      setiap pilihan jenis kursus kepada anak. Biarkan anak yang memilih. Orang      tua jangan sampai memaksakan kehendak. Pemaksaan yang dilakukan orang tua      bukan tidak mungkin menyebabkan anak menjadi mudah ngambek, mudah      marah-marah dan anak menjadi frustasi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="color: rgb(0, 0, 204); text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Pastikan      kursus yang dijalani si kecil memiliki metode yang menyenangkan dan      memiliki pendekatan yang holistic sehingga anak tidak cepat bosan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: rgb(0, 0, 204);"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: rgb(0, 0, 204);"&gt;Bagaimanapun belajar merupakan proses, jadi jangan hanya mengharapkan hasil akhir dari suatu proses namun perhatikan nilai – nilai apa yang didapatkan anak dari kursus tersebut,efek yang didapatkan anak dan potensi apa yang bisa dikembangkan anak. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: rgb(0, 0, 204);"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 18pt;" align="center"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: rgb(0, 0, 204);"&gt;---------Bina kreatif 2009---------&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: rgb(0, 0, 204);"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4214269774589169133-3147684694087498160?l=binakreatif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://binakreatif.blogspot.com/feeds/3147684694087498160/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4214269774589169133&amp;postID=3147684694087498160' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4214269774589169133/posts/default/3147684694087498160'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4214269774589169133/posts/default/3147684694087498160'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://binakreatif.blogspot.com/2009/02/perlukah-kursus-untuk-anak.html' title='PERLUKAH  KURSUS  UNTUK ANAK'/><author><name>Kak Wien</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_IjcvEQdax7w/SVmhO3r18gI/AAAAAAAAAEE/mGgzTLHEGB8/S220/Poster+Kakwin.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4214269774589169133.post-5318569450764791805</id><published>2009-02-06T00:23:00.000+07:00</published><updated>2009-02-06T00:31:02.352+07:00</updated><title type='text'>BINA  KREATIF  NEWS</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: red;"&gt;COMING&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;SOON….&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 20pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;TEMA &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;“ JANGAN PERNAH&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;BERMIMPI&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ANAK KITA&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;JADI ANAK PENURUT……… TETAPI BERMIMPILAH&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;UNTUK SELALU MENJADI SAHABAT DAN TEMAN BAGI ANAK – ANAK&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;KITA.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;Bacaan wajib&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Guru dan orang tua yang bijaksana……………&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;( Kutipan Dialog&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;“Kak Seto” di Trans – 7 )&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4214269774589169133-5318569450764791805?l=binakreatif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://binakreatif.blogspot.com/feeds/5318569450764791805/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4214269774589169133&amp;postID=5318569450764791805' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4214269774589169133/posts/default/5318569450764791805'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4214269774589169133/posts/default/5318569450764791805'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://binakreatif.blogspot.com/2009/02/bina-kreatif-news.html' title='BINA  KREATIF  NEWS'/><author><name>Kak Wien</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_IjcvEQdax7w/SVmhO3r18gI/AAAAAAAAAEE/mGgzTLHEGB8/S220/Poster+Kakwin.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4214269774589169133.post-1723983796920163971</id><published>2009-02-06T00:16:00.000+07:00</published><updated>2009-02-06T00:18:17.636+07:00</updated><title type='text'>OPINI  DARI  REDAKSI........</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 28pt; font-family: Mistral; color: red;"&gt;Uneg – Uneg&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Bina Kreatif ……&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 22pt; font-family: &amp;quot;Britannic Bold&amp;quot;; color: fuchsia;"&gt;KENAPA&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;TAHUN AJARAN BARU SEKOLAH&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;HARUS BULAN&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;JULI …….. bukan April atau Mei saja….&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;Kalau lebih bisa fleksibel&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;, bolehkan TAB&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang akan datang bulan Mei … &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;Mengapa sih ?????.....&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;Kenapa Sih ?????......&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;Saat ini TAB&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;jatuh pertengahan Juli 2009 …. sedangkan pertengahan Agustus&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;2009 sudah mulai libur awal puasa , libur lebaran … waduh….&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Bisa dibayangkan betapa Ribetnya anak – anak&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;menyesuaikan emosional dengan lingkungannya….. Belum lagi masalah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;beban materi pelajaran yang tetap sama dan harus selesai di “SEMESTER SATU”&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;Sedangkan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tuNtutaN Orang Tua&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;makin tinggi … TuNtutaN Sekolah juga makin tinggi……&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Akhirnya Guru&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Juga tambah Ribet mengatur&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;agenda supaya materi tetap selesai …. ya…akhirnya anak – anak sekolah yang harus menanggung&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: fuchsia;"&gt;“Depresi”&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;Siapa sih yang paling merasakan dampaknya …&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;Jelas&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Anak&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Pra sekolah ( Taman Kanak – kanak )&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt; , karena mereka ini paling rentan dengan target – target materi pembelajaran . Anak – anak ini baru belajar kenal dengan aktivitas formal , tapi yang mereka dapati setengah dipaksakan….. pantas kalau akhir – akhir ini&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;banyak anak mulai tidak mau sekolah , malas sekolah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan lain – lain….ya…karena anak sudah merasakan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;“KETIDAK NYAMANAN” …&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;Anak&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sekolah dasar&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kelas 1 – 3&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;, mereka ini&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;juga kena imbas , karena diusianya ini mereka baru mencoba memahami “ FASE EXPLORASI dan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;FASE&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;PRIVASI”&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;di usia ini benar – benar membutuhkan tingkat pengarahan , keteraturan dan kenyamanan yang tinggi. tapi apa yang mereka rasakan ….. beban – beban materi pelajaran yang berat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Untuk itu diperlukan kejasama dan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;saling memahami antara :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Anak&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Orang tua&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Guru.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;4.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Instansi terkait.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Keempat komponen ini harus sama – sama memahami , &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;Orang tua jangan terlalu menuntuk untuk bidang – bidang akademiknya saja&lt;/b&gt; , namun yang lebih penting adalah memahami &lt;i style=""&gt;perkembangan Emosionalnya&lt;/i&gt;. Orang tua lebih bersahabat dengan anak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;Guru , juga harus lebih kreatif&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; mengemas materi dan cara penyampaiannya, sehingga anak didik jadi lebih asyik , dan juga para guru harus terus mengembangkan ilmu Belajar dan mengajarkan efektif , efisien dan menyenangkan. &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;“SMART&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;TEACHING”&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;Instansi terkait&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; juga harus lebih jeli mengontrol perkembangannya , lebih &lt;b style=""&gt;“PRO – AKTIF” &lt;/b&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;menyikapi permasalahan dan cepat mengambil langkah yang efektif untuk diterapkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;Akhirnya ya…” Kembali ke laptop……. kata si Tukul&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Arwana…..&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;Siapkan ketika anak mau bersekolah , tidak boleh dadakan , tidak boleh setengah – setengah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;Pilih sekolah yang sesuai untuk karakter dan sifat – sifat anak kita.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;Cari sekolah yang ASRI , nyaman , komunikatif dan terjangkau.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;&lt;span style=""&gt;4.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;pikirkan juga jarak sekolah dengan rumah anda , karena bisa jadi anak depresi karena tiap hari capek dengan perjalanan yang jauh.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;&lt;span style=""&gt;5.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;Benar benar siapkan Anak masuk Sekolah dengan usia yang tepat&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;contoh muisalnya masuk SD minimal usia&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;6,2 tahun&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;&lt;span style=""&gt;6.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;Cari informasi sekolah sebanyak mungkin , baru diskusikan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kalau perlu diskusikan dengan KOnsultan pendidikan yang anda kenal.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;&lt;span style=""&gt;7.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;mantapkan , dan terus ikuti perkembangannya, jangan sampai telat menagani permasalah belajar anak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Nah itu dulu … semoga bisa jadi bahan Renungan …sebelum menyekolahkan anak – anak kita….. SELAMAT ….. SEMOGA BERHASIL&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;and&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tetap jadi orang tua yang sabar dan kreatif.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;Bina Kreatif&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Februari&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;2009&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;InFo Konsultasi : “ Kak Wien Centre ”&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;021&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;87987089&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4214269774589169133-1723983796920163971?l=binakreatif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://binakreatif.blogspot.com/feeds/1723983796920163971/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4214269774589169133&amp;postID=1723983796920163971' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4214269774589169133/posts/default/1723983796920163971'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4214269774589169133/posts/default/1723983796920163971'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://binakreatif.blogspot.com/2009/02/opini-dari-redaksi.html' title='OPINI  DARI  REDAKSI........'/><author><name>Kak Wien</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_IjcvEQdax7w/SVmhO3r18gI/AAAAAAAAAEE/mGgzTLHEGB8/S220/Poster+Kakwin.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4214269774589169133.post-4052196445446673417</id><published>2009-02-04T21:29:00.003+07:00</published><updated>2009-02-04T21:34:30.980+07:00</updated><title type='text'>" SPONSOR " DARI  REDAKTUR</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: Broadway; color: blue;"&gt;INFO&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;“ DAHSYAT ” &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;BINA&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;KREATIF&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: Broadway; color: blue;"&gt;IKUTI……&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 20pt; font-family: Broadway; color: red;"&gt;KONSULTASI&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;“ 10&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;MENIT ”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 5pt; font-family: Broadway; color: red;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; color: red;"&gt;“ Anda&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;akan jadi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;orang tua yang lebih bijaksana&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;GRATIS&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Konsultasi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;satu tahun”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;span style="font-size: 5pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Satu kegiatan yang dikemas asyik meliputi : &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0in;" start="1" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Psikotest Anak&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;( mengetahui perkembangan psikologisnya      , Emosionalnya , dan kecerdasannya )&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Psikotest Orang Tua&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt; ( Mengetahui tingkat      efektif dalam mengasuh dan mengoptimalkan anak , mengetahui tingkat      kreativitas dan tingkat kejenuhan mendidik anak )&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Konsultasi Orang tua &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 5pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Yuk ikuti Program ini…. Rugi kalau tidak ikut……. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Selengkapnya Hubungi :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;“Kak Wien Centre”&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;021 87987089 ( Sdri Devi , Wiwin atau Nurul )&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4214269774589169133-4052196445446673417?l=binakreatif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://binakreatif.blogspot.com/feeds/4052196445446673417/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4214269774589169133&amp;postID=4052196445446673417' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4214269774589169133/posts/default/4052196445446673417'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4214269774589169133/posts/default/4052196445446673417'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://binakreatif.blogspot.com/2009/02/sponsor-dari-redaktur.html' title='&quot; SPONSOR &quot; DARI  REDAKTUR'/><author><name>Kak Wien</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_IjcvEQdax7w/SVmhO3r18gI/AAAAAAAAAEE/mGgzTLHEGB8/S220/Poster+Kakwin.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4214269774589169133.post-6508189598289018634</id><published>2009-01-20T20:34:00.000+07:00</published><updated>2009-01-20T20:36:05.181+07:00</updated><title type='text'>DIKUSI  "PRO dan KONTRA"</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 36pt; font-family: Mistral; color: red;"&gt;“Bina Kreatif”&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 36pt; font-family: Mistral; color: blue;"&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;talk about……….&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: &amp;quot;Century Schoolbook&amp;quot;; color: blue;"&gt;“PRO AKTIF” &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: &amp;quot;Century Schoolbook&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: &amp;quot;Century Schoolbook&amp;quot;; color: blue;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: &amp;quot;Century Schoolbook&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;MEMPERCEPAT PERKEMBANGAN ANAK&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: &amp;quot;Century Schoolbook&amp;quot;; color: blue;"&gt;( Diambil dari sebuah diskusi Pro dan Kontra )&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: &amp;quot;Century Schoolbook&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Unicode MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;Menunggu waktu, itu budaya lama. Kini semuanya bisa dipercepat, asal tidak kelewatan saja.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;Belasan tahun yang lalu, bayi-bayi di Indonesia dilahirkan sama dengan bayi-bayi sekarang, yaitu belum tahu apa-apa. Belum bisa melihat, hanya menangis dan menggerak-gerakkan kaki tangan tak teratur.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;Tetapi selanjutnya nampak ada perbedaan pola pertumbuhan dan perkembangannya. Bayi-bayi dulu baru bisa melihat kearah seseorang dalam usia dua bulan, tetapi bayi-bayi sekarang sudah nampak reaksi penglihatannya sebelum empat puluh hari.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;Kalau dulu bayi bisa tengkurap di usianya yang kelima bulan. Sekarang tak perlu lagi menunggu hingga tiga bulan. Begitu juga duduk, merangkak, berdiri dan berjalan, rata-rata bayi sekarang berkembang lebih cepat. Penghematan waktu telah terjadi, dengan perbedaan yang kian lama kian besar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;Dari yang semula bisa berjalan dalam satu setengah tahun, kini menjadi sepuluh bulan. Dari yang bisa masuk sekolah di usia 7 atau 8 tahun, kini bisa dimulai usia 6 tahun. Secara umum, memang nampak ada perbedaan dalam hal perkembangan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: rgb(204, 153, 255);"&gt;Inilah yang disebut ‘percepatan’. Suatu pola tumbuh kembang yang dipercepat. Pola ini tetap sama pada setiap bayi, sejak jaman purbakala hingga sekarang. Hanya waktunya yang menjadi lebih pendek. Hingga nampaknya bayi-bayi sekarang makin pandai.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;Tidak ada bayi normal yang bisa lebih dahulu bisa melihat dari pada mendengar. Setiap bayi sudah langsung mendengar ketika dia lahir, atau bahkan sejak masih janin. Dan baru akan bisa melihat sesuatu secara fokus pada usia satu atau dua bulan kehidupannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: &amp;quot;Century Schoolbook&amp;quot;; color: rgb(255, 102, 0);"&gt;KEUNTUNGAN PERCEPATAN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;Secara teori, kecepatan perkembangan anak antara satu dengan yang lain tak bisa disamakan. Begitu banyak faktor yang mempengaruhi proses tumbuh kembang anak, sehingga ada perbedaan dalam kecepatan tempuhnya. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; pula ahli yang beranggapan bahwa pertumbuhan fisik yang dipercepat, pun tidak banyak membawa manfaat bagi anak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;Memang benar bahwa anak yang bisa berjalan pada bulan kesepuluh tidak akan secara otomatis lebih pandai dari pada yang lain. Tak ada hubungan langsung antara kemampuan fisik dengan perkembangan otak. Namun kenyataan membuktikan bahwa proses ‘percepatan’ ini ternyat banyak sekali manfaatnya bagi anak, terutama bila ditinjau dari sisi perkembangan kepribadiannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;Hal ini dimungkinkan terjadi karena secara umum masyarakat memberikan respon yang menyenangkan kepada bayi yang lebih unggul dari pada bayi lain. Sementara secara awam, ‘keunggulan’ bayi yang paling cepat dapat dinilai adalah dari sisi perkembangan kemampuan fisik mereka.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: &amp;quot;Century Schoolbook&amp;quot;; color: rgb(255, 102, 0);"&gt;SIKAP PRO AKTIF MENDIDIK ANAK&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: Symbol; color: fuchsia;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: fuchsia;"&gt;Jangan Terus menerus memberi mainan yang sama&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: Symbol; color: fuchsia;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: fuchsia;"&gt;Ketika anak puas dengan mainan yang satu, segera berikan mainan baru&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: Symbol; color: fuchsia;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: fuchsia;"&gt;Ketika satu keterampilan telah mampu dilakukan, segera ajarkan keterampilan berikutnya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: Symbol; color: fuchsia;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: fuchsia;"&gt;Sediakan fasilitas setingkat di atas kemampuan anak, supaya terangsang untuk meningkatkan kemampuannya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: Symbol; color: fuchsia;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: fuchsia;"&gt;Bangun rasa iri yang positif melihat perkembangan anak lain dan segera kejar&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: Symbol; color: fuchsia;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: fuchsia;"&gt;Hentikan usaha pro aktif ini jika anak menjadi tak nyaman karenanya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.25in;"&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;Orang akan berdecak kagum, tersenyum dan bertepuk tangan melihat kelucuan bayi sepuluh bulan yang jatuh bangun ketika belajar berjalan. Orang pun senang dan gemas melihat anak yang belum lagi genap dua tahun namun sudah mampu bicara banyak dengan centilnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;Respon-respon positif&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ini menyenangkan hati anak, dan memperbesar rasa percaya diri mereka. Akhirnya, dari kemampuan rasa percaya diri ini akan berkembang sebuah kepribadian yang sehat dan trengginas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: rgb(153, 51, 0);"&gt;Sebuah kenyataan pahit yang tak dapat dihindarkan adalah, bahwa ternyata masyarakat tidak terlalu memberi respon kepada bayi-bayi yang berkembang secara biasa, yang tidak terlalu nampak lucu dan tidak pula menggemaskan, atau bahkan yang perkembangnnya terlambat. Kenyataan ini sebenarnya tak sehat dan sangat merugikan bayi dan anak yang kebetulan kurang beruntung ini.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: rgb(153, 51, 0);"&gt; Namun, siapa yang mampu mengubah kecenderungan masyarakat yang memang wajar ini ?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: &amp;quot;Century Schoolbook&amp;quot;; color: rgb(255, 102, 0);"&gt;JANGAN TERTINGGAL KERETA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;Dulu, orang cenderung membiarkan anak berkembang apa danya, tanpa rangsangan dari luar. Ibu masih terus menggendong ke mana-mana putra-putrinya yang sudah berumur dua tahun. Mereka pun dibebaskan bermain hingga usia 7 atau 8 tahun untuk kemudian masuk SD.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;Tidak semua anak dianggap perlu belajar hingga lulus SD. Kalaupun lulus, tidak semua juga dianggap perlu meneruskan ke SLTP. Dan akan lebih sedikit lagi yang merasa harus terus masuk SLTA. Tapi kini? Selain sekolah sudah menjadi keharusan dan kebutuhan, bahkan sejak anak usia dua tahun pun telah disediakan sarana pendidikan untuk merangsang pertumbuhannya. Tumbuh Kelompok Bermain di mana-mana, yang memang sangat berguna untuk mempercepat perkembangan fisik dan mental anak-anak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;Lingkungan, teknologi dan pola hidup masyarakat yang mengalami perubahan pesat mengharuskan orang tua untuk menyesuaikan diri. Kalau anak-anak sekarang tidak lebih terpacu perkembangan otaknya dibanding anak-anak dahulu, mungkin akan tersisih dari pergaulan masayarakat.Tidak bisa mengimbangi dan mengejar ketinggalannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;Tak ada yang bisa menghindar dari persaingan global yang pasti akan terjadi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: red;"&gt;Dasar-dasar ilmu pasti, berhitung, pengenalan alam hingga bahasa asing, sudah dirasa perlu untuk anak-anak bahkan semenjak TK. Asalkan disampaikan dengan metoda sesuai kebutuhan perkembangan anak seusianya. Tidak bias lagi kita menunggu waktu sebab kenyataan-kenyataan yang baru akan mereka pelajari di sekolah lanjutan itu sebenarnya sudah dihadapi anak-anak semenjak mereka kecil.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: &amp;quot;Century Schoolbook&amp;quot;; color: rgb(255, 102, 0);"&gt;SIKAP PROAKTIF&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;Inilah pola pendidikan modern yang sesuai dengan tuntutan-tuntutan kondisi lingkungan dan masyarakat. Tuntutan akan keseimbangan antar kekuatan fisik dan otak itu mesti dipenuhi, karena di era globalisasi ini begitu banyak tantangan yang memerlukan kerja otak dari pada kerja fisik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: rgb(153, 51, 0);"&gt;Pola asuh proaktif adalah sikap orang tua yang mendidik anak dengan mengantisipasi segala perubahan, masalah, dan kebutuhan di masa depan. Di dalam pola ini orang tua dituntut untuk berfikir dan berinisiatif melakukan tindakan. Harus memilih dan menentukan rangsangan terbaik untuk anak, tidak hanya bersifat menunggu dan menerima saja apa yang akan terjadi pada anak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: rgb(153, 51, 0);"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: rgb(153, 51, 0);"&gt;Inti dari pola asuh proaktif ini adalah upaya membentuk ‘percepatan’ tadi. Percepatan hanya akan terjadi kalau rangsangan dan dorongan kuat dari luar. Bukan hanya dilakukan dalam bidang perkembangan kemampuan fisik saja, tetapi yang lebih penting justru di bidang perkembangan emosi dan otak anak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;Bagaimana cara pemberian rangsangan tersebut? Sebagai contoh, kita tinjau seorang bayi yang suka memegang segala sesuatu, dan mulai belajar membedakan halus dan kasarnya. Tetapi seorang ibu yang mendidik proaktif mungkin akan sengaja menyediakan satu mangkok beras dan segelas tepung lengkap dengan sendok garpu dan piring plastic untuk media bermain anak. Saat itulah, sang bayi belajar merasakan halus kasar, lengketnya tepung dan beras pada tangan, tercampurnya tepung ke dalam air dan tenggelamnya beras, serta masih banyak lagi. Lewat cara ini si bayi mulai mengasah kepekaan indra perasa kulit dan logika akalnya lebih cepat dibanding mereka yang dibiarkan menemukan sendiri beberapa bulan sesudahnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;Buku-buku ensiklopedia khusus anak-anak kini telah banyak beredar ditoko, dan ini sangat baik untuk merangsang perkembangan otak kanan. Lewat media cetak ini minat anak akan tergugah lebih dini untuk mendalami ilmu pengetahuan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;Dari sisi perkembangan emosi, egosentrisme yang secara fitrah di bawa sejak lahir pun bisa di percepat berkurangnya dengan cara proaktif ini. Anak usia dua setengah tahun yang sudah tergabung dalam kelompok bermain akan sudah belajar bersosialisasi dengan teman sehingga mulai bisa menghargai keberadaan temannya sebagai “sosok” lain selain dirinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;Peran aktif dan kreatifitas orang tua yang sangat menentukan dalam hal ini. Yaitu dengan cara memberikan fasilitas pada anak, yang memungkinkan fase-fase pada pola tumbuh kembang bisa segera di lewati.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: &amp;quot;Century Schoolbook&amp;quot;; color: rgb(255, 102, 0);"&gt;TIDAK BERLEBIHAN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;Perlu diingat, agar orang tua tidak salah dan berlebihan dalam menerapkan sikap proaktif ini. Tidak salah, maksudnya percepatan yang dilakukan harus tetap disesuaikan dengan kemampuan psikologis anak sesuai usianya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;Jangan memaksa anak segera masuk TK jika secara psikologis mereka belum mampu. Mengajar berhitung, menulis, juga harus disesuaikan dengan kebutuhan bernain mereka. Jangan sampai orang tua mengajar anak TK&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;berhitung dengan menggunakan system yang seharusnya untuk anak usia SD. Jangan pula memadati hari-hari anak dengan berbagai macam les dan kursus sehingga membuat mereka jenuh dan tertekan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;Berlebihan, maksudnya jika ‘percepatan’ yang diupayaka orang tua sudah melebihi batas kemampuan psikologis. Misalkan, kemampuan anak untuk mandiri bisa mulai dipercepat di usia TK. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Tetapi tetap tidak bisa diharapkan terlalu banyak di usia para TK. Tuntutan orang tua yang menginginkan anaknya sudah bisa mandiri terlalu cepat bahkan bisa menumbuhkan perasaan marah dan perasaan diabaikan pada diri anak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;Untuk bisa bersikap proaktif tanpa berlebih-lebihan, orang tua perlu memahami pedoman pendidikan anak yang benar. Tidak lagi cukup mengandalkan naluri dan anggapan “biarlah mengalir begitu saja”. Sementara teori pun tidak mandek, akan terus mengalir pembaharuan. Itu sebabnya bagi siapapun, Tidak ada batas waktu untuk berhenti belajar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;Nah setelah membaca artikel ini apa komentar anda? “ProAktif” / percepatan bukan identik dengan pemaksaan , apalagi dengan cara – cara yang tidak sesuai dengan usia anak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: &amp;quot;Century Schoolbook&amp;quot;; color: rgb(255, 102, 0);"&gt;“NGONO YO&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;NGONO ….. NING&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;OJO&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;NGONO……..”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;Selamat berjuang!!!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4214269774589169133-6508189598289018634?l=binakreatif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://binakreatif.blogspot.com/feeds/6508189598289018634/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4214269774589169133&amp;postID=6508189598289018634' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4214269774589169133/posts/default/6508189598289018634'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4214269774589169133/posts/default/6508189598289018634'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://binakreatif.blogspot.com/2009/01/dikusi-pro-dan-kontra.html' title='DIKUSI  &quot;PRO dan KONTRA&quot;'/><author><name>Kak Wien</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_IjcvEQdax7w/SVmhO3r18gI/AAAAAAAAAEE/mGgzTLHEGB8/S220/Poster+Kakwin.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4214269774589169133.post-6211716013652208240</id><published>2009-01-19T22:46:00.002+07:00</published><updated>2009-01-19T22:54:10.672+07:00</updated><title type='text'>KAK  WIEN  MENJAWAB....</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 26pt; line-height: 150%; font-family: Mistral; color: red;"&gt;Belajar&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dari&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Orang Lain ……&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kenapa Tidak !!!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;( Diambil dari dialog permasalahan anak di TK&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Alif&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Depok )&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 5pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;EMPATI&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&amp;amp;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;EMOSIONAL&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;Kak Wien…..&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt; Saya mempunyai anak&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang duduk di TK B. Permasalahan yang sering dihadapi oleh gurunya adalah bila diejek sedikit saja oleh temennya dia marah. Bahkan sampai menangis dan langsung pulang lapor orang tuanya. Tetapi kalau disanjung sedikit saja ia merasa sombong bahkan meremehkan temannya yang lain. Sebenarnya dia pintar sih di sekolah. Yang ingin saya tanyakan, bagaimana cara memberi pengertian kepada keponakan saya ? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Cataneo BT&amp;quot;; color: blue;"&gt;Solusi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Psikolog :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Ibu yang baik ……. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Seorang anak yang pintar&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;atau cerdas di sekolah, belum tentu cerdas secara emosional. Untuk itu memang di perlukan upaya untuk melatihnya, agar kecerdasan emosional sang anak juga berkembang dengan baik. &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;Caranya antara lain:&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; Ajaklah anak untuk berdialog dari hati ke hati, beri penjelasan bahwa dalam berteman kita perlu memiliki sifat rendah hati dan tidak boleh sombong. Tidak perlu marah apabila diejek temen, sebaliknya bisa menghadapi dengan tetap tersenyum. Selain itu, kita juga bisa memberi contoh nyata dengan tetap bersikap sabar dan penuh kasih sayang terhadap sang anak tersebut dalam membimbingnya. Semoga dalam waktu yang tidak terlalu lama kecerdasan emosionalnya dapat terus berkembang dengan baik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: maroon;"&gt;MOTIVASI ….. JANGAN&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;DIPAKSA.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: maroon;"&gt;Kak Wien ….. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: maroon;"&gt;Saya mempunyai anak berusia 5 tahun. Sekolah di TK B. Dia sudah bisa menulis dan membaca. Huruf a-z besar &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;kecilnya &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;dia sudah paham. Bila saya perhatikan saat dia belajar, dia jadi malas. Misalnya saya suruh membaca. Meskipun dia sudah bisa membaca, dia tidak mau. Jadi, saya biarkan saja dia belajar sendiri. Saat saya suruh menulis namanya, dia mau dan tidak satu huruf pun yang salah. Dia sangat senang saat saya beri nilai 10. Sepetinya anak saya tidak mau diperintah. Yang ingin saya tanyakan adalah bagaimana caranya agar anak saya mau diperhatikan saat belajar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Cataneo BT&amp;quot;; color: maroon;"&gt;Solusi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Psikolog :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: maroon;"&gt;&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;Ibu….&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: maroon;"&gt; Pada dasarnya setiap anak memiliki semangat yang luar biasa untuk belajar. Semangat ini akan terus berkembang sampai dewasa. Apabila dibiarkan untuk tumbuh dengan sendirinya secara wajar. Artinya tidak dipaksakan atau diperintah dengan cara-cara yang tidak berkenan di hati anak. Saran saya, sebaiknya ibu tidak terlalu banyak memerintah &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;atau memaksakan kehendak kepada putra ibu yang pada dasarnya sudah cukup cerdas dan senang belajar itu. &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;Biarkan ia menikmati suasana belajarnya dengan cara-caranya sendiri yang lebih tepat untuk dirinya,&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; sehingga semangat belajar tersebut akan terus bertahan sampai dewasa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: purple;"&gt;MELATIH&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;PERCAYA&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;DIRI&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: purple;"&gt;Kak&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Wien …..&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: purple;"&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Saya ibu dari 2 orang putra ( 4,5 tahun dan 2,1 tahun). Anak pertama laki-laki sudah masuk TK A. ia anak yang pendiam dan pemalu. Permasalahan yang saya hadapi adalah:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: purple;"&gt;a. Jika diganggu adiknya atau mainan / pensil diminta temannya dia tidak berani membalas atau memintanya kembali. Dia hanya menangis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: purple;"&gt;b. Jika di rumah belajar saya tunggu dia bisa membaca dan menulis. Tapi kalau di sekolah dia selalu banyak masalah dan sering tidak&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;selesai&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: purple;"&gt;c. Bagaimana cara mengajari dan menumbuhkan keberaniannya? karena dia juga penakut dan agak pasif.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Cataneo BT&amp;quot;; color: maroon;"&gt;Solusi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Psikolog :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: purple;"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;Ibu……&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Perilaku anak pada dasarnya diperoleh melalui proses belajar. Artinya : anak menjadi penakut atau pemberani, melalui proses belajar yang berlangsung setahap demi setahap. Kalau saat ini putra ibu tampil sebagai anak penakut,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;maka sebetulnya tanpa disadari lingkungan telah mengajarinya untuk menjadi anak yang penakut. Misalnya : anak terlalu banyak dilindungi sehingga kurang diberi kesempatan untuk belajar mandiri. Maka untuk mengubahnya, tentu diperlukan suatu proses yang cukup memakan waktu. Untuk sebaiknya mulai dari sekarang dengan tetap tenang, ibu lebih memberi kesempatan kepadanya bersosialisasi. Selain di sekolah, anak bisa dilibatkan dalam berbagai kegiatan disanggar atau mengikuti berbagai acara-acara lmba. Beri dorongan secara positif dan terima kegagalan - kegagalannya dengan sikap yang positif pula. Semoga dapat memperoleh kemajuan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Colonna MT&amp;quot;; color: fuchsia;"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;Semoga&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dari beberapa dialog ini bisa menambah pemahaman kita sebagai orang tua dalam mendidik anak. Selamat mencoba, selamat berjuang , semoga selalu menjadi orang tua yang sabar , Kreatif&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan semangat. Amin.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Colonna MT&amp;quot;; color: fuchsia;"&gt;Silahkan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;beri komentar atau info tambahan….. oke.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4214269774589169133-6211716013652208240?l=binakreatif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://binakreatif.blogspot.com/feeds/6211716013652208240/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4214269774589169133&amp;postID=6211716013652208240' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4214269774589169133/posts/default/6211716013652208240'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4214269774589169133/posts/default/6211716013652208240'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://binakreatif.blogspot.com/2009/01/kak-wien-menjawab.html' title='KAK  WIEN  MENJAWAB....'/><author><name>Kak Wien</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_IjcvEQdax7w/SVmhO3r18gI/AAAAAAAAAEE/mGgzTLHEGB8/S220/Poster+Kakwin.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4214269774589169133.post-1650476268335526940</id><published>2009-01-13T21:18:00.000+07:00</published><updated>2009-01-13T21:19:51.833+07:00</updated><title type='text'>ASSALAMUALAIKUM........</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 24pt; line-height: 150%; font-family: Mistral; color: red;"&gt;Bina Kreatif talk about&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 20pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: fuchsia;"&gt;KAK WIEN anak saya “Kurang PE-DE”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;Kak..... Anak saya laki-laki berumur 10 tahun dan sekarang duduk di kelas 5 SD. Sejak TK sampai sekarang selalu juara kelas dan wajahnya juga tampan. Kami dari keluarga yang harmonis dan hidup berkecukupan. Namun, mengapa anak kami sepertinya kurang percaya diri? Kalau mau melakukan sesuatu seperti ragu-ragu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 18pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Cataneo BT&amp;quot;; color: fuchsia;"&gt;Solusi Psikolog :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: rgb(51, 51, 153);"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;Kondisi keluarga yang berkecukupan tidak menjadi tumbuhnya kepercayaan diri anak. Anak akan tumbuh menjadi percaya diri jika ia terbiasa mandiri, baik dalam kegiatan sehari-hari maupun dalam menyelesaikan masalah. Kepercayaan diri anak juga ditempa oleh pengalaman anak masuk ke dalam berbagai macam situasi social, dimna ia menemui hal/ tantangan baru yang menantang kemampuan dirinya. Anak yang terbiasa segalanya di layani, dipilihkan, dan terbiasa selalu ada orang lain yang menyelesaikan masalahnya, akan tumbuh menjadi anak yang kurang percaya diri, ragu-ragu, dan mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan. Anak yang terbiasa segala sesuatunya serbamudah, akan gamang ketika berhadapan dengan situasi yang sulit.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: rgb(51, 51, 153);"&gt;Berikut adalah 10 tip yang bisa Anda terapkan atau tingkatkan (jika ada yang sudah pernah dilakukan) untuk meningkatkan rasa percaya diri pada anak:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0in;" start="1" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="color: rgb(51, 51, 153); text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Biasakan anak melakukan aktivitasnya sehari-hari secara      mandiri, misalnya, membereskan sendiri buku sekolah untuk esok hari.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="color: rgb(51, 51, 153); text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Berikan anak satu tugas rumah tangga (meskipun sudah ada      pembantu) yang menjadi tanggung jawabnya seperti menyiram tanaman, mencuci      sepeda, dan lain-lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="color: rgb(51, 51, 153); text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Biasakan anak membuat pilihan tentang apapun yang      berkaitan dengan dirinya, misalnya, baju apa yang akan dipakai atau les      apa yang ingin diikuti. Orangtua hanya menyediakan pilihannya saja, biar      anak yang menentukan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="color: rgb(51, 51, 153); text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Tidak menetapkan target atau menuntut secara berlebihan      pada anak. Biarkan anak menentukan targetnya sendiri dan Bantu ia      mencapainya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="color: rgb(51, 51, 153); text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Ketika ia menghadapi masalah, ajaklah ia bicara dan      bantulah ia melihat pilihan solusi yang ada beserta konsekuensinya.      Dukunglah pilihan yang ia ambil. Hindari menyelesaikan masalah untuk anak,      misalnya, ketika anak bekelahi dengan temannya, orangtua langsung datang      melabrak teman tersebut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="color: rgb(51, 51, 153); text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Tawarkan bantuan hanya jika diperlukan. Hindari memberi      bantuan apabila si anak tidak memintanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="color: rgb(51, 51, 153); text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Berikan lebih banyak pujian, khususnya ketika ia      menunjukan kemandirian atau kepercayaan dirinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="color: rgb(51, 51, 153); text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Jangan merendahkan hasil karya atau pilihan yang telah ia      ambil karena bisa membuat si anak jera membuat pilihan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="color: rgb(51, 51, 153); text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Berikan kesempatan untuk mengembangkan minat dan bakat di      luar sekolah, misalnya, ikut klub olahraga atau seni. Memiliki kompetensi      lain di luar sekolah, bisa membuat anak lebih pecaya diri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="color: rgb(51, 51, 153); text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Berikan lebih banyak kesempatan untuk berinteraksi dengan      anak sebayanya (di luar teman sekolah) sebagai sarana mengasah ketrampilan      bersosialisasi dengan bebagai lingkungan sosial.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: rgb(51, 51, 153);"&gt;Demikian saran saya. Semoga bermanfaat dalam pemecahan masalah anak Anda. Selamat mencoba…...&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;Kalau ada yang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mau&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;menambahkan silahkan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kirim komentarnya ………&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4214269774589169133-1650476268335526940?l=binakreatif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://binakreatif.blogspot.com/feeds/1650476268335526940/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4214269774589169133&amp;postID=1650476268335526940' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4214269774589169133/posts/default/1650476268335526940'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4214269774589169133/posts/default/1650476268335526940'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://binakreatif.blogspot.com/2009/01/assalamualaikum_13.html' title='ASSALAMUALAIKUM........'/><author><name>Kak Wien</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_IjcvEQdax7w/SVmhO3r18gI/AAAAAAAAAEE/mGgzTLHEGB8/S220/Poster+Kakwin.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4214269774589169133.post-128225536210517281</id><published>2009-01-09T17:02:00.000+07:00</published><updated>2009-01-09T17:07:22.522+07:00</updated><title type='text'>Assalamualaikum.............</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 20pt; font-family: Mistral; color: red;"&gt;“ Bina Kreatif ”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 20pt; font-family: &amp;quot;Dutch801 XBd BT&amp;quot;; color: red;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 20pt; font-family: Mistral; color: red;"&gt;Talk&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;a bout ………&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 26pt; font-family: Mistral; color: blue;"&gt;Mengigau …. &lt;st1:place st="on"&gt;Susah&lt;/st1:place&gt; makan ……. dan sulit pakai baju&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Unicode MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 18pt; font-family: &amp;quot;Cataneo BT&amp;quot;; color: blue;"&gt;&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;Kak&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Wien ….. Anak saya suka “mengigau”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 18pt; font-family: &amp;quot;Cataneo BT&amp;quot;; color: red;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 5pt; font-family: &amp;quot;Arial Unicode MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: &amp;quot;BernhardFashion BT&amp;quot;; color: purple;"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;Sejak anak saya berumur 2 tahun sampai sekarang 7 tahun hampir setiap malam ia tidur sambil mengigau apa penyebabnya ?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Solusi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Psikolog :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;Mengigau&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt; atau &lt;i style=""&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;bicara dalam tidur&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; adalah keadaan ketika anak berkata-kata /bicara sendiri baik secara jelas maupun tidak jelas pada saat ia tidur nyenyak. Gangguan tidur ini biasanya terjadi &lt;i style=""&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;ketika anak berusia 2-6 tahun&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;. Mengigau umumnya terjadi karena pada saat akan tidur, &lt;i style=""&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;kondisi emosi anak tidak dalam keadaan tenang&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;. Penyebab-penyebabnya antara lain:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ul style="margin-top: 0in;" type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Anak      tidur dalam kondisi terlalu &lt;i style=""&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;lelah&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; baik secara &lt;i style=""&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;fisik maupun emosi&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;. Bisa      diakibatkan karena &lt;i style=""&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;aktivitas yang berlebihan sebelum tidur&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;      seperti loncat-loncat diatas kasur atau bercanda sampai tertawa      terpingkal-pingkal.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;Tidur      terlalu larut&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;      sehinga anak tidur dalam keadaan sudah sangat lelah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;Lingkungan&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt; sekitar anak      ketika tidur terlalu &lt;i style=""&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;bising&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;, misalnya, TV yang menyala terus.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Adanya      &lt;i style=""&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;fantasi      yang menegangkan / menakutkan&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; dari film atau buku cerita yang      dibaca anak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Ada&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt; &lt;i style=""&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;masalah dalam      hubungan anak&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; dengan orang tua atau disekolah yang menimbulkan &lt;i style=""&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;kecemasan      sehingga terbawa saat tidur.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: green;"&gt;Sebagai orang tua, Bapak / Ibu bisa mencoba melakukan beberapa cara dibawah ini:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ul style="margin-top: 0in;" type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: purple;"&gt;Ciptakan      suasana yang menenangkan sebelum tidur&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt; , misalnya berdoa bersama , mematikan      TV dan lampu , serta bicara dari hati ke hati sebelum tidur tentang apa      yang terjadi hari itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: purple;"&gt;Kondisikan      fisik anak dalam keadaan relaks dan bersih&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt; , misalnya,      membiasakan ritual gosok gigi atau membersihkan tangan dan kaki sebelum      tidur.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: purple;"&gt;Hindari      kegiatan fisik yang berlebihan sebelum tidur&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt; seperti      bercanda ditempat tidur.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: purple;"&gt;Berikan      perhatian dan kasih sayang yang cukup&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt; karena sering kali kecemasan      yang muncul dalam bentuk mengigau yang berhubungan erat dengan bagimana      perlakuan orang tua terhadap anak. misalnya , hukuman berlebihan , kurang      diperhatikan , atau tuntutan yang berlebihan pada anak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="color: purple; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: windowtext;"&gt;Jika masalah ini masih terus berlanjut , bapak / ibu      bisa &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;mengkonsultasikan masalah ini      pada psikolog atau psikiater anak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Cataneo BT&amp;quot;; color: blue;"&gt;Kak&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Wien …….&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Cataneo BT&amp;quot;; color: blue;"&gt;Anak saya susah makan dan sering nggangguin&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;adiknya , bagaimana mengatasinya ?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;BernhardFashion BT&amp;quot;; color: blue;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;BernhardFashion BT&amp;quot;; color: maroon;"&gt;Saya mempunyai anak perempuan berusia 2 tahun, Ia sudah makan dan minum susu, Setiap diberi makan atau minum harus selalu ditakut - takuti dengan sesuatu. Kalau tidak begitu ia tidak mau, Ia juga suka cari gara - gara yang membuat saya kesal dan marah misalnya, Ia suka sekali menggoda adiknya , kata orang ia cemburu terhadap adiknya, Bagaimana saya mengatasinya?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Arial Unicode MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: fuchsia;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Solusi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Psikolog &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: fuchsia;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: fuchsia;"&gt;Aktivitas makan adalah aktivitas wajib untuk anak demi kesehatan dan pertumbuhanya. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Karena itu, sebaiknya anak menyadari manfaat dari makan. &lt;i style=""&gt;&lt;span style="color: fuchsia;"&gt;Jangan sampai anak “ terpaksa ” makan&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; karena &lt;span style="color: fuchsia;"&gt;ancaman&lt;/span&gt; atau &lt;span style="color: fuchsia;"&gt;ditakut - takuti.&lt;/span&gt; Apalagi ditakut - takuti juga akan membuat anak takut pada objek atau figure tertentu. Misalnya , para ibu suka menakut-nakuti kalau tidak makan, nanti dimarahi Pak Satpam. Maka dalam diri anak akan terbentuk citra buruk dan ia jadi takut pada figur tersebut. Atau, yang terjadi justru bisa sebaliknya, ia tidak akan takut lagi pada ancaman Ibu ( tidak mempan lagi ). Ini berarti anda harus terus mencari bahan ancaman baru atau hal lain yang ditakuti oleh anak. Cara ini tentu akan melelahkan pikiran. &lt;i style=""&gt;&lt;span style="color: fuchsia;"&gt;Lagi pula, sampai kapan anak akan hidup dibawah “ ancaman “?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;Saya menyarankan agar Anda jangan pernah menyerah mencoba berbagi variasi dalam jenis makanan , suasana makan , cara pemberian makanan , tempat memberi makan, dan lain – lain.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; Sampai menemukan trik yang paling jitu supaya anak mudah makan. Ada anak yang menjadi lahap makan karena sajian makanan yang kreatif ( dibentuk muka orang / nasi dicetak bentuk lucu ) , ada anak yang lahap dengan cita rasa makanan yang variatif (mungkin saja ia bosan dengan jenis makanan yang itu - itu saja ) , ada anak yang mudah makan jika yang memberi makan adalah ibunya sendiri bukan pembantu , ada anak yang mudah makan jika ada anak lain seusianya yang juga makan , ada yang suka makan dengan diiringi musik lucu. Memang tugas ibulah untuk&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mencari pendekatan seperti apa yang cocok untuk anak.ingat, setiap anak itu unik. Belum tentu pendekatan yang berhasil pada seorang anak, berhasil untuk anak &lt;i style=""&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;Anda. Sekali lagi , jangn menyerah pada penggunaan ancaman karena efek jangka panjangnya akan lebih sulit ditangani.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; &lt;st1:place st="on"&gt;Para&lt;/st1:place&gt; ibu juga bisa mendongeng untuk anak sebelum tidur dengan tema yang dikaitkan dengan masalah susah makannya anak. Lewat cerita , anak bisa terdorong untuk mau makan.berikut tip praktis lain yang bisa anda terapkan :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 42pt; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;Kurangi kudapan atau jangan memberikan kudapan sama sekali diantara jam makan&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;, termasuk susu , sehingga makanan utama lebih lahap dimakan anak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 42pt; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;Biarkan anak makan sendiri.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt; Anak seusia ini sedang ingin menunjukan kemandirianya, jadi ia akan senang sekali jika Anda precaya bahwa ia bisa makan sendiri. &lt;i style=""&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;Jangan takut kotor &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;atau makanan akan tercecer kemana – mana, toh itu bisa dibersihkan &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;, bukan?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 42pt; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;Hindari memberikan porsi yang banyak kepada anak&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;, sehingga anak merasa sulit menghabiskanya.Lebih baik memberikan porsi sedikit demi sedikit, jika anak merasa kurang, ia boleh meminta tambah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;Untuk masalah suka menggoda adik , hal itu mungkin memang karena ia merasa cemburu.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; Anda bisa mengatasinya dengan melungkan waktu bersamanya sebisa mungkin atau ayah bisa lebih banyak berperan disini ketika ibu sibuk mengurus sang adik. Memang anak seusia ini masih belum sepenuhnya paham jika diajak bicara apalagi kemampuan bicaranya belum berkembang. Namun dengan &lt;i style=""&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;menghabiskan waktu bersamanya&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;, Misalnya mengajaknya bermain , anak akan mengerti bahwa ia tetap diperhatikan. Sesekali libatkan ia dalam mengurusi adiknya , misalnya , mintalah bantuanya untuk mengambilkan bedak, popok , atau benda lainya yang mudah ia jangkau. Perilaku menggoda adik juga bisa disebabkan karena anak ingin tahu. &lt;i style=""&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;Hadapi dengan tenang dan ajarkan&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; ( raih tanganya dan peragakan ) kepada anak bagaimana menyentuh adik tanpa menyakiti.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Arial Unicode MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Cataneo BT&amp;quot;; color: blue;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Kak&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Wien …….. Anak&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;saya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sulit&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;memakai&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;baju…..&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Arial Unicode MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Arial Unicode MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;BernhardFashion BT&amp;quot;; color: blue;"&gt;Saya mempunyai anak 3 tahun 4 bulan. Setiap hari saya sangat kesulitan untuk memakainya baju.bagaimana cara membujuknya.?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Arial Unicode MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;Solusi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Psikolog &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;Anak seusia itu memang acap kali senang bertelanjang&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt; , apalagi ketika habis mandi. &lt;i style=""&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;Di usia ini norma tentang tama krama belum sepenuhnya diterapkan anak&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; dalam tingkah lakunya sehingga belum ada rasa malu dengan aksinya ini. Banyak hal yang menyebabkan ia berperilaku denikian , diantaranya ia merasakan sensasi ”kesegaran” pada tubuhnya terasa lebih enak jika tidak pakai baju , mencari perhatian , atau memang tidak suka dengan bajunya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;Meskipun prilaku ini masih dalam batas kewajaran , tetapi tentu saja tidak bijak juga jika dibiarkan.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; Beberapa pendekatan berikut ini bisa anda coba terapkan pada si kecil:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;Tegaskan pada anak bahwa waktu yang ada terbatas&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;. Katakana padanya , jika ia terus berlarian atau mnolak pakai baju, Anda akan beralih mengerjakan hal lain seperti memasak, membereskan rumah , atau pergi ke kantor.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;Jika lingkungan rumah cukup aman ( pintu keluar tidak terbuka )&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; , usahakan untuk tidak mengejar - ngejar anak ketika ia lari menghindar untuk dipakaikan baju. jika dikejar&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;, anak justru akan menikmati “ main kejar – kejaran ” Ini sehingga malah memperkuat perilaku sulit pakai bajunya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;Tanamkan norma&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mengenai tata krama&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pada anak&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; seperti : memakai baju harus dikamar &lt;i style=""&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;, malu kalau terlihat orang dalam keadaan telanjang&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;. Tanamkan pula nilai nilai yang terkait dengan kebersihan dan kesehatan “ Nanti masuk angin atau digigit nyamuk lho kalau tidak pakai baju.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;Memilih baju bersama.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt; Untuk menghindari ketidak sukaan anak pada baju berikan kesempatan pada anak untuk memilih pakaiannya sendiri. Hal ini sekaligus untuk melatih kemandiriannya. Pakaian apa saja boleh , tentu saja anda sudah menyeleksi sebelumnya untuk menghindari hal – hal yang tidak diinginkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;Jangan lupa juga berikan contohnya misalnya&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt; , anda membiasakan diri berpakaian di kamar mandi jika kamar mandi terletak diluar kamar tudur. &lt;i style=""&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;Dan juga ciptakan suasana yang menyenangkan ketika memakaikan baju pada anak&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; , misalnya sambil menyanyi atau sambil bercerita yang menarik, misalnya “ ha haa… akulah si celana panjang mana kaki kanan yang akan aku tutupi?” ….&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Semoga berhasil.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Dari seputar&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;cerita &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;berbagai sumber.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4214269774589169133-128225536210517281?l=binakreatif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://binakreatif.blogspot.com/feeds/128225536210517281/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4214269774589169133&amp;postID=128225536210517281' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4214269774589169133/posts/default/128225536210517281'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4214269774589169133/posts/default/128225536210517281'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://binakreatif.blogspot.com/2009/01/assalamualaikum.html' title='Assalamualaikum.............'/><author><name>Kak Wien</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_IjcvEQdax7w/SVmhO3r18gI/AAAAAAAAAEE/mGgzTLHEGB8/S220/Poster+Kakwin.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4214269774589169133.post-4981363249766145097</id><published>2008-12-23T17:31:00.001+07:00</published><updated>2008-12-23T17:34:30.510+07:00</updated><title type='text'>Seputar Permasalahan kita</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 24pt; font-family: Mistral; color: blue;"&gt;Bina Kreatif Talk about……&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 22pt; font-family: &amp;quot;Dutch801 XBd BT&amp;quot;; color: fuchsia;"&gt;“ TIDAK&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;MAU&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;SEKOLAH ”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 22pt; font-family: Mistral; color: lime;"&gt;( Padahal baru Usia&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;u&gt;+&lt;/u&gt; 3&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tahun )&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 26pt; font-family: Mistral; color: rgb(153, 51, 102);"&gt;Permasalahan :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 26pt; font-family: Mistral; color: rgb(153, 51, 102);"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Kak Wien …….&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 26pt; font-family: Mistral; color: rgb(153, 51, 102);"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Sejak kecil putri saya diasuh oleh budenya. Menjelang usia 2 tahun bude tidak bisa lagi mengasuh dan kami memutuskan untuk memasukkannya ke playgroup karena kami belum menemukan pengasuh yang tepat untuknya. &lt;span style="color: blue;"&gt;Sedangkan saya dan istri bekerja.&lt;/span&gt; &lt;span style="color: blue;"&gt;Awalnya ia senang,&lt;/span&gt; karena kami bergantian menungguinya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Namun belakangan ini ia &lt;span style="color: blue;"&gt;selalu menolak untuk bersekolah.&lt;/span&gt; Sejak dari rumah ia sudah menangis agar tidak bersekolah maunya ikut kami ke kantor. Karena tidak mungkin ikut terus ke kantor, kami dengan terpaksa membawanya dan meninggalkannya di sekolah. Walaupun pada awalnya menangis meronta-ronta, tetapi menurut para gurunya itu hanya sebentar. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Ketika sore hari saya jemput, ia terlihat ceria dan selalu bilang “ayah ita nggak nangis” dan ini selalu terjadi setiap hari. Namun ada satu hal yang membuat saya gundah, Kak Wien . &lt;span style="color: blue;"&gt;Dalam tidurnya ia sering sesenggukan &lt;/span&gt;( seperti habis menangis karena sedih sekali). Saya tidak tahu, apakah itu pertanda depresi atau apa. Saya takut sebenarnya ia merasa tertekan, karena setiap kali kita mengucapkan kata “ sekolah ”, ia seperti takut dan langsung bilang “ nggak sekolah…” apa yang seharusnya kami lakukan?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 150%; font-family: Mangal;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 28pt; line-height: 150%; font-family: Mistral; color: lime;"&gt;Solusi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Psikolog :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Memang sering menjadi dilemma bagi orang tua yang bekerja antara harus mencari nafkah dan menemani anak di rumah. Namun dari sisi anak juga perlu dipahami bahwa &lt;i style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 153, 255);"&gt;di usianya sekarang ia masih butuh perhatian besar dari kedua orangtuanya.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 153, 255);"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Sebenarnya &lt;i style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 204, 0);"&gt;anak berusia di bawah 3 tahun belum wajib sekolah&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; karena stimulasi yang diberikan di sekolah masih bisa diberikan oleh orang tua/pengasuh di rumah dan sebaiknya &lt;span style="color: rgb(51, 102, 255);"&gt;hindari alasan menjadikan sekolah sebagai tempat menitipkan anak karena dikhawatirkan anak akan merasa “tersisihkan” dari orangtuanya yang harus bekerja.&lt;/span&gt; Selain itu, sekolah pertama bagi anak sebaiknya jangan langsung yang mengharuskan kehadiran anak setiap hari, &lt;i style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 102, 255);"&gt;idealnya adalah 1-3 kali seminggu.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Menurut saya, yang dialami anak bapak adalah &lt;i style=""&gt;&lt;span style="color: purple;"&gt;ketidak mampuan untuk beradaptasi secara baik dengan perubahan drastic dalam kehidupannya.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; Awalnya, ia merasa nyaman dalam pengasuhan bude di rumah. Sekarang ia harus masuk dalam lingkungan baru yang berbeda jauh dengan rumah dimana ia harus berbagi perhatian dengan anak lainnya dan berjauhan dengan orang-orang yang dekat dengannya. Hal ini bisa sangat di pahami untuk anak seusia anak anda. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Saya juga melihat anak anda mengingkan perhatian yang lebih dari kedua orangtuanya. Karena itu ia enggan berpisah dari orangtuanya. Anda dan pasangan mungkin sudah merasa memberikan banyak waktu dan perhatian, tetapi anak mungkin merasa belum cukup. Sering kali orangtua merasa, dengan mengurusi kebutuhannya seperti memandikan atau menyuapi makan. Mereka sudah memberikan perhatian pada anak. Padahal itu baru kebutuhan lahiriah saja. &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Ada&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; kebutuhan emosi anak yang terlewatkan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Untuk memenuhinya, &lt;span style="color: blue;"&gt;anda bisa sering-sering mengajaknya bicara tentang perasaannya. Misalnya sebelum tidur,&lt;/span&gt; Anda bisa bertanya apa yang ia alami hari ini dan bagaimana perasaannya tentang itu. &lt;span style="color: blue;"&gt;Momen ini juga bisa anda pakai untuk menjelaskan dengan bahasa anak mengapa orangtuanya harus bekerja dan meninggalkannya di sekolah.&lt;/span&gt; Percakapan emosi dengan anak bisa membantu anak mengeluarkan semua perasaan yang dialaminya sehingga tidak terbawa hingga tidur. &lt;span style="color: fuchsia;"&gt;Mengigau yang dialami anak disebabkan oleh kondisi emosi anak yang tidak tenang karena hal-hal yang ia alami di siang harinya atau sebelum tidur.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Dari cerita Anda, saya lihat sebenarnya tidak ada masalah dengan sekolahnya karena setelah si anak menangis dan meronta, ia bisa baik kembali. Namun, tidak ada salahnya anda mencaritahu apa yang membuat anak tidak nyaman di sekolah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: fuchsia;"&gt;Apakah gurunya kurang hangat....... ? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: fuchsia;"&gt;Adakah teman yang mengganggu …… ? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: fuchsia;"&gt;Apakah aktivitas sekolahnya yang terlalu melelahkan …..?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Caritahu dengan menanyai anak secara jeli sehingga ditemukan alasan yang sebenarnya. Konsultasikan juga masalah ini dengan guru sehingga penyebab dan pemecahannya bisa dicari bersama.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: red;"&gt;Jangan lupa, berikan penghargaan positif pada anak jika ia bisa melewati hari sekolahnya dengan ceria.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt; &lt;i style=""&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;Berikan ia pujian, pelukan hangat, atau hadiah berupa dibacakan cerita di malam harinya.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; &lt;span style="color: lime;"&gt;Sebisa mungkin usahakan waktu di akhir pekan hanya diperuntukkan untuk anak dan keluarga.&lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(51, 204, 204);"&gt;Satu lagi saran saya, secepatnya carilah pengasuh yang bisa dipercaya dan sudah punya hubungan dekat dengan anak sebelumnya.&lt;/span&gt; Dengan adanya pengasuh , diharapkan anak tidak harus berada di sekolah setiap hari dan sampai sore.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Jika dalam waktu satu bulan anak tidak menunjukkan kemajuan setelah anda melakukan usaha-usaha tersebut di atas (anak masih mengigau dan menolak sekolah), anda bisa mengosultasikan masalah ini ke psikolog anak terdekat agar anak anda tertangani dengan baik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Semoga yang sedikit ini bia memberikan wawasan baru bagi anda. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 22pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Info Konsultasi Anak :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 5pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 26pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: red;"&gt;“Kak Wien Centre”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 22pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;Phone&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;: 021&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;87987089&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;(&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sdri. Devi / Nurul )&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 150%; font-family: Mangal;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4214269774589169133-4981363249766145097?l=binakreatif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://binakreatif.blogspot.com/feeds/4981363249766145097/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4214269774589169133&amp;postID=4981363249766145097' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4214269774589169133/posts/default/4981363249766145097'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4214269774589169133/posts/default/4981363249766145097'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://binakreatif.blogspot.com/2008/12/seputar-permasalahan-kita.html' title='Seputar Permasalahan kita'/><author><name>Kak Wien</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_IjcvEQdax7w/SVmhO3r18gI/AAAAAAAAAEE/mGgzTLHEGB8/S220/Poster+Kakwin.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4214269774589169133.post-4217538721815303878</id><published>2008-12-23T17:27:00.001+07:00</published><updated>2008-12-23T17:31:13.424+07:00</updated><title type='text'>Assalamu'alaikum  Kak Wien</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 28pt; line-height: 150%; font-family: Mistral; color: red;"&gt;Kopi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Pagi ……..&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 28pt; line-height: 150%; font-family: Mistral; color: red;"&gt;Ilustrasi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dari berbagai&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pengalaman perjalanan hidup manusia….&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 26pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Dutch801 XBd BT&amp;quot;; color: blue;"&gt;Berseteru &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;karena Cemburu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 20pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: fuchsia;"&gt;&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 18pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;Sejak awal, Mia tidak ingin repot dengan urusan anak yang riuh rendah. Tetapi keinginan untuk punya anak ada. Betapapun, rasanya belum lengkap pernikahan tanpa hadirnya keturunan. Itu sebabnya, dari awal menikah Mia merasa perlu membicarakan dengan suaminya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;“Saya mau punya anak satu,” kata Mia, “Biar bisa mendidik dengan lebih baik, bisa memberi perhatian yang optimal, dan mengembangkan seluruh potensi anak.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;Mia berharap-harap cemas menunggu reaksi suaminya. Mia sengaja mendahului mengutarakan gagasannya karena dia merasa masalah ini sangat prinsip baginya. Entah kenapa, suaminya masih diam saja.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;“Kalau Mas sendiri ingin punya anak berapa?” Tanya Mia. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;“Saya sih . . . ,” kata suaminya, “. . . ingin punya anak sembilan.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;Jawaban yang tak terduga. Jawaban yang sama sekali tak diharapkan Mia. Begitu mengejutkan, sehingga Mia tak bisa dengan cepat menyikapinya dengan baik. Salah satunya karena dia tahu jawaban suaminya sangat serius.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;Ah . . . , tetapi kebahagiaan pengantin baru dengan cepat mengalahkan semua kerisauannya. Dan tak lama, di mengandung anak pertama, anaknya yang kemudian dia perlakukan sebagai anak tunggal. Selalu mencurahkan perhatian besar dan &lt;span style="color: blue;"&gt;kadang lupa membedakan antara kasih sayang dengan memanjakan.&lt;/span&gt; Tanpa sadar, Mia sering mengajak bercanda anaknya yang semata wayang dengan kata-kata yang menjadikan anak mersa sebagai satu-satunya. Tak pernah Mia mengajak anak untuk membayangkan indahnya punya saudara.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;Ketika anak mulai beranjak besar, Mia mulai merasa kerepotan. Satu anak saja sudah sangat repot, apalagi kalau dua. Mia mencoba meyakinkan suaminya ketika lelaki yang menikahinya empat tahun lalu itu mulai mengajaknya bicara tentang kemungkinan punya anak lagi. Sekali lagi, Mia ingin menunjukan kepada suaminya, repot sekali punya anak dua kalau yang pertama saja belum mandiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;“Nantilah, Mas kalau anak kita sudah usia empat tahun. Kalau adik sudah masuk TK, kita bisa merencanakan punya anak lagi,” kata Mia. Suaminya setuju. Dan Mia kembali menghadapai kesibukan melayani anaknya yang semata wayang, Nisa .&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;Sudah 3 tahun usia Nisa sekarang. Aduh, anak yang manis itu kini sangat menyusahkan. Mandi susah, makan susah, sikat gigi apalagi. Kalau sudah di depan televisi, malas sekali beranjak meski sekadar untuk mengambil sendok. Lagi-lagi Mia dan suaminya yang harus sibuk dengan semua itu, tanpa mengingat bahwa anak harus belajar mandiri. &lt;span style="color: blue;"&gt;Kadang kita sulit membedakan antara menyayangi dan memanjakan, sehingga karena takut memanjakan, kita kurang memberikan kasih sayang pada anak-anak kita. Sebaliknya, karena ingin menyayangi, kita keliru memanjakan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;Menjelang anaknya berusia 4 tahun, Mia mulai hamil. Saat anaknya memasuki usia 4,5 tahun lebih sedikit, Mia melahirkan seorang bayi laki-laki yang sehat. Tangisnya keras memecah kesunyian.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;Hari-hari pertama, Nisa sangat senang punya adik. Tetapi setelah satu minggu, kecemburuannya mulai tampak. Setelah adiknya lahir, perhatian ibunya memang jauh berkurang. Nisa mulai menyerang adiknya. Tak cukup dengan itu, belakangan Nisa menunjukan perlawanan. Kerap kali dia melarang ibunya meninabobokkan si adik. &lt;i style=""&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;“adik sama Bapak aja,” teriak Nisa&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;Tak pelak, suami Mia yang harus menggendong dan menangani si kecil kalau Nisa sedang menampakkan perlawanannya. Mia sendiri kerap menyalahkan keinginan suaminya untuk punya anak lagi, sehingga menjadi pembenaran Nisa untuk menunjukan perlawanan. Keinginan Nisa untuk menguasai ibunya hanya untuk dia saja, seakan gayung bersambut dengan sikap ibunya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;Tetapi . . . .&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;Mia akhirnya merasa sangat kerepotan. Bagaimanapun juga, Mia harus memberi perhatian kepada anak lelakinya. Kalau Nisa terus mengganggu, Mia tak bisa mengurus si kecil dengan baik. Masalahnya, Nisa sudah terlanjur “menguasai ibunya” kalau sedang minta diperhatikan. &lt;i style=""&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;Semakin dituruti keinginannya, rasa cemburu Dita terhadap adiknya justru semakin besar.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; Bukan semakin reda. Sekarang, baru menyusui si kecil sebentar saja, Nisa sudah menunjukkan marahnya. Sudah tak kurang-kurang Mia menyampaikan kepada Nisa bahwa sebagai kakak, Nisa harus sayang sama adik. Tetapi, Nisa semakin keras saja. Rasa cemburunya semakin menyala-nyala.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;Apa yang salah sebenarnya dengan Nisa? Tak ada yanga salah. Nisa berseteru dengan adiknya karena cemburu. Bahasa psikologinya sibling &lt;i style=""&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;rivalry (persaingan antarsaudara)&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;. Rasa cemburunya besar, dan bahkan cenderung menolak adik, karena memang dia diperlakukan sebagai anak tunggal oleh ibunya. Pada saat yang sama, Mia sebagai ibunya &lt;i style=""&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;tidak mempersiapkan anak untuk memiliki adik.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; Dia tidak menumbuhkan keinginan, harapan, dan bayangan tentang apa yang bisa Nisa lakukan untuk adiknya kelak. Mia juga &lt;i style=""&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;tidak menata mental anak menghadapai perubahan menjelang adiknya lahir.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;Seperti Mia, banyak diantara kita yang &lt;i style=""&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;tidak merencanakan kelahiran dengan baik.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; Anak-anak kita &lt;i style=""&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;punya adik karena adiknya memang sudah lahir.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; Ia lahir begitu saja. Dan tiba-tiba sesudah kelahiran, segala sesuatu berubah. Kita juga sendiri berubah. Berubah karena harus ada yang kita hadapi, anak kita yang baru lahir denga tangis dan pipisnya. Kita berubah bukan karena secara sengaja merencanakan untuk berubah, mengiringi kelahiran anak kita.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;Ujung-ujungnya, kita terjebak oleh ketakutan dan mendapat pembenaran dari repotnya menangani anak. Punya anak satu saja repot, apalagi dua.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; Punya anak dua lebih repot, kok mau tiga. Padahal hitung-hitungnya tidak demikian. Punya anak satu memang repot, karena sumber perhatian anak hanya dari orangtua. Punya anak dua? Sama saja. Sama-sama repot, karena mereka cenderung bersaing berebut perhatian. Tetapi tidak kalau anak sudah tiga atau empat. Mereka akan belajar bekerja sama. Tetapi, bukankah melalui peristiwa semacam ini mereka belajar keadilan? Sayangnya sumbu emosi kita begitu pendek sehinnga &lt;i style=""&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;mudah naik pitam saat mereka bertengkar. Apalagi kalau kita sedang capek.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;Saya tidak berpanjang-panjang dengan ini, sebab masalah paling pokok umumnya adalah sikap kita yang tidak mau direpoti oleh anak. &lt;i style=""&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;Berapapun anak yang kita asuh kalau kita memang tidak mau repot, kehadiran mereka akan sangat merepotkan kita, sekalipun mereka sudah menjadi anak-anak manis yang sangat menyenangkan.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; Seperti halnya keengganan kita menemani anak dengan berlindung di balik ungkapan terindah yang pernah saya dengar, &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;“Yang paling penting &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:state st="on"&gt;kan&lt;/st1:State&gt;&lt;/st1:place&gt; kualitas, bukan banyaknya waktu yang kita habiskan bersama anak.”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Kita ungkapkan itu dengan mantap, tetapi lupa menakar waktu berkualitas itu yang seperti apa. &lt;i style=""&gt;Kita juga lupa bertanya, waktu berkualitas itu menurut kita atau menurut anak. Jangan-jangan yang kita anggap waktu berkualitas bersama anak, sesungguhnya bagi anak sama saja dengan waktu-waktu lain. Sama-sama tak berarti. Sama-sama membosankan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;Berawal dari sikap tidak mau direpoti anak, jalan pintas kerap menjadi pilihan yang kita ambil tanpa sadar. Begitu anak menangis, atau bikin kita merasa repot-termasuk repot karena pertanyaan-pertanyaan cerdas anak-cepat-cepat kita berikan televisi pada mereka. Kita berikan mereka mimpi-mimpi tentang asyiknya melihat benda ajaib benama televisi, &lt;i style=""&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;“Eee, coba. Kita lihat, yuk . . . . Bagus lho acara televisinya.”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; Anakpun segera bergegas lari mematut diri di depang televisi. Lama sekali. Begitu lamanya sampai-sampai kita lupa bahwa amat banyak hal yang telah mempengaruhi otak dan diri anak, hingga ketika beberapa waktu kemudian tampak perilaku yang tidak menentramkan hati, kita marah pada cara televisi. Anehnya, kita tetap rawat dan sayang-sayangi kotak kaca ajaib itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;Ah . . . , betapa anehnya kita hari ini. Merusak tapi dicintai. Atau saya yang semakin bodoh? Tidak mampu memahami bahwa hidup di dunia modern memang harus memiliki semua yang disebut modern?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;Baiklah, kita kembali berbincang tentang televisi.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; Sekurangnya ada dua hal yang membuat kita perlu mempertimbangkan kembali kehadiran televisi di rumah kita, sekurangnya mengurangi kehadirannya dalam kehidupan anak kita. &lt;i style=""&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;Pertama, televisi menjadikan otak pasif, melumpuhkan kemampuan berpikir kritis, dan merusak terutama sekali kecerdasan spasial di otak sebelah kanan.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; &lt;i style=""&gt;&lt;span style="color: fuchsia;"&gt;Kedua, semakin banyak nonton televisi, anak semakin kurang bergerak.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; Padahal, seperti yang ditukis Carla Hannaford, Ph.D. dalam Smart Moves: Why Learning is not All in Your Head, gerakan membangkitkan dan mengaktifkan kapasitas mental kita. Gerakan menyatukan dan menarik informasi-informasi baru ke dalam jaringan neuron kita. Gerakan sangat vital bagi semua tindakan untuk mewujudkan dan mengungkapkan pembelajaran kita, pemahaman kita dan diri kita.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="color: fuchsia;"&gt;Alhasil, jangan terkejut jika anak kita mengalami gangguan mental maupun gangguan belajar&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;, sementara kita tahu dengan pasti bahwa ia sejak kecil selalu ditimang-timang oleh televisi. Jangan bertanya, gen siapa yang menyebabkan anak bermasalah sehingga menampakkan perilaku seperti anak autis jika kitalah sebenarnya sebagai orangtua yang memperlakukan mereka secara autis. Kita jarang mau bicara karena setiap kali mereka rewel, cepat-cepat kita menyalakan televisi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;Tetapi, bukan ini perbincangan kita saat ini. Saya sebenarnya cuma mau bertutur bahwa kecemburuan anak tehadap adiknya, lebih-lebih yang sampai pada tingakat menolak, sebenarnya kerap kali bersumber pada sikap awal kita. Saya Cuma nau berbincang bahwa tingkah laku mereka yang sangat merepotkan, &lt;i style=""&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;tidak jarang justru berawal dari sikap kita yang tidak mau direpoti anak.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; Meski pada sebagian besar kasus, perilaku mereka yang bikin kita geleng-geleng kepala dan mebuat ibunya mengelu-elus dada sebenarnya karena kecerdasan mereka yang luar biasa. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;Pada usia di bawah 10 tahun, kadang bahkan berlanjut hingga usia sesudahnya, manifestasi kecerdasan itu adalah gerakannya yang sangat aktif. Sesudahnya adalah kemampuan berpikir yang sangat krtis, cerdas dan kreatif.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;Emmm . . . jangan salah paham. Saya bukan orangtua yang luar biasa. Saya masih merasa betapa merepotkannya mereka. Saya juga masih sering marah. Tetapi, tak ada lagikah bagi kita ruang untuk saling bertegur-sapa, saling mengingatkan, saling menasihati, dan termasuk saling memberi tahu agar tidak melelahkan diri sendiri dengan sumber pengaruh yang kita tidak mampu mengendalikan isinya sepuluh menit yang akan datang, yakni televisi?&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;Heee…. semoga bermanfaat…..&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 22pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Info Konsultasi Anak :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 5pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 26pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: red;"&gt;“Kak Wien Centre”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 22pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;Phone&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;: 021&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;87987089&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;(&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sdri. Devi / Nurul )&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 26pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: red;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4214269774589169133-4217538721815303878?l=binakreatif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://binakreatif.blogspot.com/feeds/4217538721815303878/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4214269774589169133&amp;postID=4217538721815303878' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4214269774589169133/posts/default/4217538721815303878'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4214269774589169133/posts/default/4217538721815303878'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://binakreatif.blogspot.com/2008/12/assalamualaikum-kak-wien.html' title='Assalamu&apos;alaikum  Kak Wien'/><author><name>Kak Wien</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_IjcvEQdax7w/SVmhO3r18gI/AAAAAAAAAEE/mGgzTLHEGB8/S220/Poster+Kakwin.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4214269774589169133.post-6417969074020612610</id><published>2008-11-26T19:51:00.000+07:00</published><updated>2008-11-26T19:55:03.241+07:00</updated><title type='text'>'SMART" Parenting.......</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 24pt; font-family: Mistral; color: red;"&gt;Bina Kreatif Talk About …….&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 24pt; font-family: &amp;quot;Arial Unicode MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;ANAK-ANAK KARBITAN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: rgb(255, 102, 0);"&gt;I. Anak-anak yang Digegas Menjadi Cepat Mekar, Cepat Matang, Cepat Layu...&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Pendidikan bagi anak usia dini sekarang tengah marak-maraknya. Dimana-mana orang tua merasakan pentingnya mendidik anak melalui lembaga persekolahan yang ada. Mereka pun berlomba untuk memberikan anak-anak mereka&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pelayanan pendidikan yang baik. Taman kanak-kanak pun berdiri dengan berbagai rupa, di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;kota&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; hingga ke desa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Kursus-kursus kilat untuk anak-anak pun juga bertaburan di berbagai tempat. Tawaran berbagai macam bentuk&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;pendidikan ini amat beragam. Mulai dari yang puluhan ribu hingga jutaan rupiah per bulannya. Dari kursus yang dapat membuat otak anak cerdas dan pintar berhitung, cakap berbagai bahasa, hingga fisik kuat dan sehat melalui kegiatan menari, main musik dan berenang. Dunia pendidikan saat ini betul-betul penuh dengan denyut kegairahan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Penuh tawaran yang menggiurkan yang terkadang menguras isi kantung orangtua ...&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Captive market!&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Kondisi diatas terlihat biasa saja bagi orang awam. Namun apabila kita amati lebih cermat, dan kita baca berbagai informasi di internet dan literatur yang ada tentang bagaimana pendidikan yang patut bagi anak usia dini, maka kita akan terkejut! Saat ini hampir sebagian besar penyelenggaraan pendidikan bagi anak-anak usia dini&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;melakukan kesalahan. Di samping ketidak-patutan yang dilakukan oleh orang tua akibat ketidak-tahuannya!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: fuchsia;"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: fuchsia;"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Anak-Anak Yang Digegas...&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Ada&lt;/span&gt;&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt; beberapa indikator untuk melihat berbagai ketidak-patutan terhadap anak. Diantaranya yang paling menonjol adalah orientasi pada kemampuan intelektual secara dini. Akibatnya bermunculanlah anak-anak ajaib dengan kepintaran intelektual luar biasa. Mereka dicoba untuk menjalani akselerasi dalam pendidikannya dengan memperoleh pengayaan Kecakapan - kecakapan akademik di dalam dan di luar sekolah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Kasus yang pernah dimuat tentang kisah seorang anak pintar karbitan ini terjadi pada tahun 1930, seperti yang dimuat majalah New Yorker. Terjadi pada seorang anak yang bernama William James Sidis, putra seorang psikiater.Kecerdasan otaknya membuat anak itu segera masuk &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Harvard College &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;walaupun usianya masih 11 tahun.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kecerdasannya dibidang matematika begitu mengesankan banyak orang. Prestasinya sebagai anak jenius menghiasi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;berbagai media masa. Namun apa yang terjadi kemudian? James Thurber seorang wartawan terkemuka pada suatu&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;hari menemukan seorang pemulung mobil tua, yang tak lain adalah William James Sidis. Si anak ajaib yang begitu dibanggakan dan membuat orang banyak berdecak kagum pada beberapa waktu silam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;Kisah lain tentang kehebatan kognitif yang diberdayakan juga terjadi pada seorang anak perempuan bernama Edith. Terjadi pada tahun 1952, dimana seorang Ibu yang bemama Aaron Stern telah berhasil melakukan eksperimen menyiapkan lingkungan yang sangat menstimulasi perkembangan kognitif anaknya, sejak si anak masih berupa janin. Baru saja bayi itu lahir ibunya telah memperdengarkan suara musik klasik di telinga sang bayi. Kemudian diajak berbicara dengan mcnggunakan bahasa orang dewasa. Setiap saat sang bayi dikenalkan kartu-kartu bergambar dan kosa kata baru. Hasilnya sungguh mencengangkan! Di usia 1 tahun Edith telah dapat berbicara dengan kalimat sempurna. Di usia 5 tahun Edith telah menyelesaikan membaca Ensiklopedi Britannica. Usia 9 tahun ia membaca enam buah buku dan koran New York Times setiap harinya. Usia 12 tahun dia masuk universitas. Ketika usianya menginjak 15 tahun ia menjadi guru matematika di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:placename st="on"&gt;Michigan&lt;/st1:PlaceName&gt; &lt;st1:placetype st="on"&gt;State&lt;/st1:PlaceType&gt;  &lt;st1:placetype st="on"&gt;University&lt;/st1:PlaceType&gt;&lt;/st1:place&gt;. Aaron Stem berhasil menjadikan Edith anak jenius karena terkait dengan kapasitas otak yang sangat tak berhingga. Namun khabar Edith selanjutnya juga tidak terdengar lagi ketika ia dewasa. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Banyak kesuksesan yang diraih anak saat ia menjadi anak, tidak menjadi sesuatu yang bemakna dalam kehidupan anak ketika ia menjadi manusia dewasa. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Berbeda dengan banyak kasus legendaris orang-orang terkenal yang berhasil mengguncang dunia dengan penemuannya. Di saat mereka kecil mereka hanyalah anak-anak biasa yang terkadang juga dilabel sebagai murid yang dungu. Seperti halnya Einstein yang mengalami kesulitan belajar hingga kelas 3 SD. Dia dicap sebagai anak&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;bebal yang suka melamun. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Selama berpuluh-puluh tahun orang begitu yakin bahwa keberhasilan anak di masa depan sangat ditentukan oleh faktor kognitif. Otak memang memiliki kemampuan luar biasa yang tiada berhingga. Oleh karena itu banyak orangtua dan para pendidik tergoda untuk melakukan "&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Early Childhood Training&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;". Era pemberdayaan otak mencapai masa keemasannya. Setiap orangtua dan pendidik berlomba-lomba menjadikan anak-anak mereka menjadi anak-anak yang super (&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Superkids&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;). Kurikulum pun dikemas dengan muatan 90 % bermuatan kognitif yang memfungsikan belahan otak kiri. Sementara fungsi belahan otak kanan hanya mendapat porsi 10% saja. &lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;Ketidak-seimbangan dalam memfungsikan ke dua belahan otak dalam proses pendidikan di sekolah sangat mencolok. Hal ini terjadi sekarang dimana-mana, di Indonesia. "Early Ripe, Early Rot...!"&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt; &lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Gejala ketidak-patutan dalam mendidik ini mulai terlihat pada tahun 1990 di Amerika. Saat orangtua dan para profesional merasakan pentingnya pendidikan bagi anak-anak semenjak usia dini. Orangtua merasa apabila mereka tidak segera mengajarkan anak-anak mereka berhitung, membaca dan menulis sejak dini maka mereka akan kehilangan "peluang emas" bagi anak-anak mereka selanjutnya. Mereka memasukkan anak-anak mereka sesegera mungkin ke &lt;st1:place st="on"&gt;Taman&lt;/st1:place&gt; Kanak-kanak (Pra Sekolah). &lt;st1:place st="on"&gt;Taman&lt;/st1:place&gt; Kanak-kanak pun dengan senang hati menerima anak-anak yang masih berusia di bawah usia 4 tahun. Kepada anak-anak ini gurunya membelajarkan membaca dan berhitung secara formal sebagai pemula.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Terjadinya kemajuan radikal dalam pendidikan usia dini di Amerika sudah dirasakan saat Rusia meluncurkan Sputnik pada tahun 1957. Mulailah "&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Era Headstart&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;" merancah dunia pendidikan. &lt;st1:place st="on"&gt;Para&lt;/st1:place&gt; akademisi begitu optimis untuk membelajarkan wins dan matematika kepada anak sebanyak dan sebisa mereka (tiada berhingga). Sementara mereka tidak tahu banyak tentang anak, apa yang mereka butuhkan dan inginkan sebagai anak. Puncak keoptimisan era &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Headstart &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;diakhiri dengan pernyataan Jerome Bruner, seorang psikolog dari Harvard University yang menulis sebuah buku terkenal "&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;The Process of Education&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;" pada tahun 1990, la menyatakan bahwa kompetensi anak untuk belajar sangat tidak berhingga. Inilah buku suci pendidikan yang mereformasi kurikulum pendidikan di Amerika . "&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;We begin with the hypothesis that any subject can be taught effectively in some intellectually honest way to any child at any stage of development&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;". &lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;Inilah kalimat yang merupakan hipotesis Bruner yang &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;disalahartikan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;oleh banyak pendidik, yang akhirnya menjadi bencana Pendidikan dilaksanakan dengan cara memaksa otak kiri anak sehingga membuat mereka cepat matang dan cepat busuk... &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;early ripe, early rot&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt; !&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Anak-anak menjadi tertekan. Mulai dari tingkat pra sekolah hingga usia SD. Di rumah para orangtua kemudian juga melakukan hal yang sama, yaitu mengajarkan sedini mungkin anak-anak mereka membaca ketika Glenn Doman menuliskan kiat-kiat praktis membelajarkan bayi membaca.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Bencana berikutnya datang saat Arnold Gesell memaparkan konsep "kesiapan-&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;readiness&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;" dalam ilmu psikologi perkembangan temuannya yang mendapat banyak decakan kagum. Ia berpendapat tentang "&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;biological limitations on learning&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;'. Untuk itu ia menekankan perlunya dilakukan intervensi dini dan rangsangan intelektual dini kepada anak agar mereka segera siap belajar apapun. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Tekanan yang bertubi-tubi dalam memperoleh kecakapan akademik di sekolah membuat anak-anak menjadi cepat mekar. Anak-anak menjadi "miniatur orang dewasa ". Lihatlah sekarang, anak-anak itu juga bertingkah polah sebagaimana layaknya orang dewasa. Mereka berpakaian seperti orang dewasa, berlaku pun juga seperti orang dewasa. Di sisi lain media pun merangsang anak untuk cepat mekar terkait dengan musik, buku, film, televisi, dan internet. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Lihatlah maraknya program teve yang belum pantas ditonton anak anak yang ditayangkan di pagi atau pun sore hari. Media begitu merangsang keingin-tahuan anak tentang dunia seputar orang dewasa, sebagai seksual&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;promosi yang menyesatkan. Pendek kata media telah memekarkan bahasa, berpikir dan perilaku anak tumbuh kembang secara cepat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Tapi apakah kita tahu bagaimana tentang emosi dan perasaan anak? Apakah faktor emosi dan perasaan juga dapat digegas untuk dimekarkan seperti halnya kecerdasan? Perasaan dan emosi ternyata memiliki waktu dan ritmenya sendiri yang tidak dapat digegas atau dikarbit. Bisa saja anak terlihat berpenampilan sebagai layaknya orang dewasa, tetapi perasaan mereka tidak seperti orang dewasa. Anak-anak memang terlihat tumbuh cepat di berbagai hal tetapi tidak di semua hal. Tumbuh mekarnya emosi sangat berbeda dengan tumbuh mekarnya kecerdasan (intelektual) anak. &lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Oleh karena perkembangan emosi lebih rumit dan sukar, terkait dengan berbagai keadaan, Cobalah perhatikan, khususnya saat perilaku anak menampilkan gaya "kedewasaan ", sementara perasaannya menangis berteriak sebagai "anak". &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Dampak berikutnya terjadi ... ketika anak memasuki usia remaja. Akibat negatif lainnya dari anak-anak karbitan terlihat ketika ia memasuki usia remaja. Mereka tidak segan segan mempertontonkan berbagai macam perilaku yang tidak patut. Patricia O'Brien menamakannya sebagai "&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;The Shrinking of Childhood&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;". “Lu belum tahu ya... bahwa gue telah melakukan segalanya", begitu pengakuan seorang remaja pria berusia 12 tahun kepada teman-temannya. "Gue tahu apa itu minuman keras, drug, dan seks " serunya bangga.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;Berbagai kasus yang terjadi pada anak-anak karbitan memperlihatkan bagaimana pengaruh tekanan dini pada anak akan menyebabkan berbagai gangguan kepribadian dan emosi pada anak.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;Oleh karena ketika semua menjadi cepat mekar.... kebutuhan emosi dan sosial anak jadi tak dipedulikan! Sementara anak sendiri membutuhkan waktu untuk tumbuh, untuk belajar dan untuk berkembang, … &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: fuchsia;"&gt;Sebuah proses dalam kehidupannya &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: fuchsia;"&gt;! &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Saat ini terlihat kecenderungan keluarga muda lapisan menengah ke atas yang berkarier di luar rumah tidak memiliki waktu banyak dengan anak-anak mereka. Atau pun jika si ibu berkarier di dalam rumah, ia lebih mengandalkan tenaga "&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;baby sitter&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;" sebagai pengasuh anak-anaknva. Colette Dowling menamakan ibu-ibu muda kelompok ini sebagai "&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Cinderella Syndrome&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;" yang senang &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;window shopping&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;, ikut arisan, ke salon memanjakan diri, atau menonton telenovela atau buku romantis. Sebagai bentuk ilusi menghindari kehidupan nyata yang mereka jalani.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Kelompok ini akan sangat bangga jika anak-anak mereka bersekolah di lembaga pendidikan yang mahal, ikut berbagai kegiatan kurikuler, ikut berbagai les, dan mengikuti berbagai arena, seperti lomba penyanyi cilik, lomba model ini dan itu. &lt;st1:place st="on"&gt;Para&lt;/st1:place&gt; orangtua ini juga sangat bangga jika anak-anak mereka superior di segala bidang, bukan hanya di sekolah. Sementara orangtua yang sibuk juga mewakilkan diri mereka kepada &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;baby-sitter &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;terhadap pengasuhan dan pendidikan anak-anak mereka. Tidak jarang para &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;baby-sitter &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;ini mengikuti pendidikan &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;parenting &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;di Lembaga pendidikan eksekutif sebagai wakil dari orang tua.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: fuchsia;"&gt;Era SUPERKIDS / era ANAK MAMA / era ANAK HEBAT&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Kecenderungan orangtua menjadikan anaknya &lt;span style="color: blue;"&gt;"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;be special&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;"&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt; daripada &lt;span style="color: blue;"&gt;"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;be average or normal&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;"&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt; semakin marak terlihat. Orangtua sangat ingin anak-anak mereka menjadi &lt;span style="color: blue;"&gt;"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;to excel, to be the best&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;".&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt; Sebetulnya tidak ada yang salah. Namun ketika anak-anak mereka digegas untuk mulai mengikuti berbagai kepentingan orangtua untuk menyuruh anak mereka mengikuti beragam kegiatan, seperti kegiatan mental aritmatik, sempoa, renang, basket, tari balet, piano, biola, melukis, dan banyak lagi lainnya... maka lahirlah anak-anak super---"&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;SUPERKIDS' &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;". &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Cost &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;merawat anak &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Superkids &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;ini sangat mahal. Era &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Superkids &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;berorientasi kepada "&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Competent Child&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;". Orangtua saling berkompetisi dalam mendidik anak karena mereka percaya "&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;earlier is better&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;". Semakin dini dan cepat dalam menginvestasikan beragam pengetahuan ke dalam diri anak mereka, maka itu akan semakin baik. Neil Postman seorang sosiolog Amerika pada tahun 80-an meramalkan bahwa jika anak-anak tercabut dari masa kanak-kanaknya, maka lihatlah... ketika anak anak itu menjadi dewasa, maka ia akan menjadi orang dewasa yang ke kanak-kanakan !&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 18pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;Berbagai Gaya Orang Tua&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Kondisi ketidakpatutan dalam memperIakukan anak ini telah melahirkan berbagai &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;gaya&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; orangtua (&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Parenting Style&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;) yang melakukan kesalahan "&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;miseducation&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;" terhadap pengasuhan pendidikan anak-anaknya. Elkind (1989) mengelompokkan berbagai &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;gaya&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; orangtua dalam pengasuhan, antara lain:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: fuchsia;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: fuchsia;"&gt;Gourmet Parents &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: fuchsia;"&gt;--- (ORTU B0RJU)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Mereka adalah kelompok pasangan muda yang sukses. Memiliki rumah bagus, mobil mewah, liburan ke tempat-tempat yang eksotis di dunia, dengan &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;gaya&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; hidup kebarat baratan. Apabila menjadi orangtua maka mereka akan cenderung merawat anak-anaknya seperti halnya merawat karier dan harta mereka. Penuh dengan ambisi! Berbagai macam buku akan dibaca karena ingin tahu isu-isu mutakhir tentang cara mengasuh anak. Mereka sangat percaya bahwa tugas pengasuhan yang baik seperti halnya membangun karier, maka "&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Superkids&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;" merupakan bukti dari kehebatan mereka sebagai orangtua.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Orangtua kelompok ini memakaikan anak-anaknva baju-baju mahal bermerek terkenal, memasukkannya ke dalam program-program eksklusif yang prestisius. Keluar masuk restoran mahal. Usia 3 tahun anak-anak mereka sudah diajak tamasya keliling dunia mendampingi orangtuanya. Jika suatu saat kita melihat sebuah sekolah yang halaman parkirnya dipenuhi oleh berbagai merek mobil terkenal, maka itulah sekolah banyak kelompok orangtua "&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;gourmet &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;" atau kelompok borju menyekolahkan anak-anaknya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: fuchsia;"&gt;College Degree Parents &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: fuchsia;"&gt;--- (ORTU INTELEK)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Kelompok ini merupakan bentuk lain dari keluarga intelek yang menengah ke atas. Mereka sangat peduli dengan pendidikan anak-anaknya. Sering melibatkan diri dalam barbagai kegiatan di sekolah anaknya. Misalnya membantu membuat majalah dinding, dan kegiatan ekstra kurikuler lainnya. Mereka percaya pendidikan yang baik merupakan pondasi dari kesuksesan hidup. Terkadang mereka juga tergiur menjadikan anak-anak mereka "&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Superkids&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;", apabila si anak memperlihatkan kemampuan akademik yang tinggi. Terkadang mereka juga memasukkan anak-anaknya ke sekolah mahal yang prestisius sebagai bukti bahwa mereka mampu dan percaya bahwa pendidikan yang baik tentu juga harus dibayar dengan pantas. Kelebihan kelompok ini adalah sangat peduli dan kritis terhadap kurikulum yang dilaksanakan di sekolah anak anaknya. Dan dalam banyak hal mereka banyak membantu dan peduli dengan kondisi sekolah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: fuchsia;"&gt;Gold Medal Parents &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: fuchsia;"&gt;--- (ORTU SELEBRITIS)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Kelompok ini adalah kelompok orangtua yang menginginkan anak-anaknya menjadi kompetitor dalam berbagai gelanggang. Mereka sering mengikutkan anaknya ke berbagai kompctisi dan gelanggang. &lt;st1:city st="on"&gt;Ada&lt;/st1:City&gt; gelanggang ilmu pengetahuan seperti Olimpiade matematika dan sains yang akhir-akhir ini lagi marak di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;. &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Ada&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; juga gelanggang seni seperti ikut menyanyi, kontes menari, terkadang kontes kecantikan. Berbagai cara akan mereka tempuh agar anak-anaknya dapat meraih kemenangan dan merijadi "seorang Bintang Sejati ". Sejak dini mereka persiapkan anak-anak mereka menjadi "Sang Juara", mulai dari juara renang, menyanyi dan melukis hingga None Abang Cilik kelika anak-anak mereka masih berusia TK. Sebagai ilustrasi, dalam sebuah arena lomba ratu cilik di Padang puluhan anak-anak TK baik laki-laki maupun perempuan tengah menunggu di mulainya Lomba Pakaian Adat. Ruangan yang sesak, penuh asap rokok, dan acara yang molor menunggu datangnya tokoh anak dari &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; . Anak-anak mulai resah, berkeringat, mata memerah karena keringat melelehi mascara anak kecil mereka. &lt;st1:place st="on"&gt;Para&lt;/st1:place&gt; orangtua masih bersemangat, membujuk anak-anaknya bersabar, mengharapkan acara segera di mulai dan anaknya akan keluar sebagai pemenang sementara pihak penyelenggara mengusir panas dengan berkipas kertas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Banyak kasus yang mengenaskan menimpa diri anak akibat perilaku ambisi kelompok &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Gold Medal Parents &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;ini. Sebagai contoh pada tahun 70-an seorang gadis kecil pesenam usia TK mengalami kelainan tulang akibat ambisi ayahnya yang guru olahraga. Atau kasus "bintang cilik" Yoan Tanamal yang mengalami tekanan hidup dari dunia glamour masa kanak-kanaknya, kemudian menjadikannya pengguna dan pengedar narkoba hingga menjadi penghuni penjara. Atau bintang cilik dunia Heintje yang setelah dewasa hanya menjadi pasien dokter jiwa. &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Gold Medal Parents &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;menimbulkan banyak bencana pada anak-anak mereka ! &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Beberapa waktu yang lalu kita saksikan di TV bagaimana bintang cilik "Joshua" yang bintangnya mulai meredup dan mengkhawatirkan orangtuanya. Orangtua Joshua berambisi untuk kembali menjadikan anaknya seorang bintang dengan kembali menggelar konser tunggal. Sebagian dari kita tentu masih ingat bagaimana lucu dan pintarnya. Joshua ketika berumur kurang 3 tahun. Dia muncul di TV sebagai anak ajaib karena dapat menghapal puluhan nama-nama kepala negara. kemudian di usia balitanya dia menjadi penyanyi cilik terkenal. Kita kagum bagaimana seorang bapak yang tamatan SMU dan bekerja di salon dapat membentuk dan menjadikan anaknya seorang "Superkid" seorang penyanyi sekaligus seorang bintang film.... &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: fuchsia;"&gt;Do-it Yourself Parents&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Merupakan kelompok orangtua yang mengasuh anak-anaknya secara alami dan menyatu dengan semesta. Mereka sering menjadi pelayanan professional di bidang sosial dan kesehatan, sebagai pekerja sosial di sekolah, di tempat ibadah, di Posyandu dan di perpustakaan. Kelompok ini menyekolahkan anak-anaknya di sekolah negeri yang tidak begitu mahal dan sesuai dengan keuangan mereka. Walaupun begitu kelompok ini juga bemimpi untuk menjadikan anak-anaknya "&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Superkids&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;" -- &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;earlier is better&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;". Dalam kehidupan sehari-hari anak-anak mereka diajak mencintai lingkungannya. Mereka juga mengajarkan merawat dan memelihara hewan atau tumbuhan yang mereka sukai. Kelompok ini merupakan kelompok penyayang binatang, dan mencintai lingkungan hidup yang bersih.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: fuchsia;"&gt;Outward Bound Parents &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: fuchsia;"&gt;--- (ORTU PARANOID)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Untuk orangtua kelompok ini mereka memprioritaskan pendidikan yang dapat memberi kenyamanan dan keselamatan kepada anak-anaknya. Tujuan mereka sederhana, agar anak-anak dapat bertahan di dunia yang penuh dengan permusuhan. Dunia di luar keluarga mereka dianggap penuh dengan marabahaya. Jika mereka menyekolahkan anak-anaknya maka mereka lebih memilih sekolah yang nyaman dan tidak melewati tempat tempat tawuran yang berbahaya. Seperti halnya &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Do It Yourself Parents&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;, kelompok ini secara tak disengaja juga terkadang terpengaruh dan menerima konsep "&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Superkids&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;" Mereka mengharapkan anak-anaknya menjadi anak-anak yang hebat agar dapat melindungi diri mereka dari berbagai macam marabahaya. Terkadang mereka melatih kecakapan melindungi diri dari bahaya, seperti memasukkan anak-anaknya "Karate, Yudo, Pencak Silat" sejak dini. Ketidak patutan pemikiran kelompok ini dalam mendidik anak-anaknya adalah bahwa mereka terlalu berlebihan melihat marabahaya di luar rumah tangga mereka, mudah panik dan ketakutan melihat situasi yang selalu mereka pikir akan membawa dampak buruk kepada anak. Akibatnya anak-anak mereka menjadi "steril" dengan lingkungannya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: fuchsia;"&gt;Prodigy Parents &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: fuchsia;"&gt;--(ORTU INSTANT)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Merupakan kelompok orangtua yang sukses dalam karier namun tidak memiliki pendidikan yang cukup. Mereka cukup berada, namun tidak berpendidikan yang baik. Mereka memandang kesuksesan mereka di dunia bisnis merupakan bakat semata. Oleh karena itu mereka juga memandang sekolah dengan sebelah mata, hanya sebagai kekuatan yang akan menumpulkan kemampuan anak-anaknya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Tidak kalah mengejutkannya, mereka juga memandang anak-anaknya akan hebat dan sukses seperti mereka tanpa memikirkan pendidikan seperti apa yang cocok diberikan kepada anak-anaknya. Oleh karena itu mereka sangat mudah terpengaruh kiat-kiat atau cara unik dalam mendidik anak tanpa bersekolah. Buku-buku instant dalam mendidik anak sangat mereka sukai. Misalnya buku tentang "Kiat-Kiat Mengajarkan Bayi Membaca" karangan Glenn Doman , atau "Kiat-Kiat Mengajarkan Bayi Matematika" karangan Siegfried, "Berikan Anakmu pemikiran Cemerlang"&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;karangan Therese Engelmann, dan "Kiat-Kiat Mengajarkan Anak Dapat Membaca Dalam Waktu 9 Hari" karangan Sidney Ledson .&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: fuchsia;"&gt;Encounter Group Parents &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: fuchsia;"&gt;--- (ORTU NGERUMPI)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Merupakan kelompok orangtua yang memiliki dan menyenangi pergaulan. Mereka terkadang cukup berpendidikan, namun tidak cukup berada atau terkadang tidak memiliki pekerjaan tetap (luntang-lantung). Terkadang mereka juga merupakan kelompok orangtua yang kurang bahagia dalam perkawinannya. Mereka menyukai dan sangat mementingkan nilai-nilai &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;relationship &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;dalam membina hubungan dengan orang lain. Sebagai akibatnya kelompok ini sering melakukan ketidak-patutan dalam mendidik anak-anak dengan berbagai perilaku "gang ngrumpi" yang terkadang mengabaikan anak. Kelompok ini banyak membuang-buang waktu dalam kelompoknya sehingga mengabaikan fungsi mereka sebagai orangtua. Atau pun jika mereka memiliki aktivitas di kelompokya lebih berorientasi kepada kepentingan kelompok mereka. Kelompok ini sangat mudah terpengaruh dan latah untuk memilihkan pendidikan bagi anak-anaknya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Menjadikan anak-anak mereka sebagai "&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Superkids&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;" juga sangat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;diharapkan. Namun banyak dari anak anak mereka biasanya kurang menampilkan minat dan prestasi yang diharapkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: fuchsia;"&gt;Milk and Cookies Parents &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: fuchsia;"&gt;---(ORTU IDEAL)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Kelompok ini merupakan kelompok orangtua yang memiliki masa kanak-kanak yang bahagia, yang memiliki kehidupan masa kecil yang sehat dan manis. Mereka cenderung menjadi orangtua yang hangat dan menyayangi anak-anaknya dengan tulus. Mereka juga sangat peduli dan mengiringi tumbuh kembang anak-anak mereka dengan penuh dukungan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Kelompok ini tidak berpeluang menjadi orangtua yang melakukan "&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;miseducation&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;" dalam merawat dan mengasuh anak-anaknya. Mereka memberikan lingkungan yang nyaman kepada anak-anaknya dengan penuh perhatian, dan tumpahan cinta kasih yang tulus sebagai orang tua.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Mereka memenuhi rumah tangga mereka dengan buku-buku, lukisan dan musik yang disukai oleh anak-anaknya. Mereka berdiskusi di ruang makan, bersahabat dan menciptakan lingkungan yang menstimulasi anak-anak mereka untuk tumbuh mekar segala potensi dirinya. Anak-anak mereka pun meninggalkan masa kanak-kanak dengan penuh kenangan indah yang menyenangkan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;Kehangatan hidup berkeluarga menumbuhkan kekuatan rasa yang sehat pada anak untuk percaya diri dan antusias dalam kehidupan belajar. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Kelompok ini merupakan kelompok orangtua yang menjalankan tugasnya dengan patut kepada anak-anak mereka. Mereka begitu yakin bahwa &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;anak membutuhkan suatu proses dan waktu untuk dapat menemukan sendiri keistimewaan yang dimilikinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Dengan kata lain mereka percaya bahwa anak sendirilah yang akan menemukan sendiri kekuatan didirinya. Bagi mereka setiap anak adalah benar-benar scorang anak yang hebat dengan kekuatan potensi yang juga berbeda dan unik!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;“Kamu harus tahu bahwa tiada satu pun yang lebih tinggi, atau lebih kuat, atau lebih baik, atau pun lebih berharga dalam kehidupan nanti daripada kenangan indah terutama kenangan manis di masa kanak-kanak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Kamu mendengar banyak hal tentang pendidikan, namun beberapa hal yang indah, kenangan berharga yang tersimpan sejak kecil adalah mungkin itu pendidikan yang terbaik. Apabila seseorang menyimpan banyak kenangan indah di masa kecilnya, maka kelak seluruh kehidupannya akan terselamatkan. Bahkan apabila hanya ada satu saja kenangan indah yang tersimpan dalam hati kita, maka itulah kenangan yang akan memberikan satu hari untuk keselamatan kita" (destoyevsky' s brothers karamoz)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 20pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: fuchsia;"&gt;II. Perspektif Sekolah Yang Mengkarbit Anak&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 20pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: fuchsia;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Kecenderungan sekolah untuk melakukan pengkarbitan kepada anak didiknya juga terlihat jelas. Hal ini terjadi ketika sekolah berorientasi kepada produk dari pada proses pembelajaran. Sekolah terlihat sebagai sebuah "Industri" dengan tawaran-tawaran menarik yang mengabaikan kebutuhan anak. &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Ada&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; program akselerasi, ada program kelas unggulan. Pekerjaan rumah yang menumpuk. Tugas-tugas dalam bentuk hanya lembaran kerja. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Kemudian guru-guru yang sibuk sebagai "operator kurikulum" dan tidak punya waktu mempersiapkan materi ajar karena rangkap tugas sebagai administrator sekolah. Sebagai guru kelas yang mengawasi dan mengajar terkadang lebih dari 40 anak, guru hanya dapat menjadi "pengabar isi buku pelajaran" ketimbang menjalankan fungsi edukatif dalam menfasilitasi pembelajaran. Di saat-saat tertentu sekolah akan menggunakan "mesin-mesin dalam menskor" capaian prestasi yang diperoleh anak setelah diberikan ujian berupa potongan-potongan mata pelajaran. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Anak didik menjadi dimiskinkan dalam menjalani pendidikan di sekolah. Pikiran mereka diforsir untuk menghapalkan atau melakukan tugas-tugas yang tidak mereka butuhkan sebagai anak. Manfaat apa yang mereka peroleh jika guru menyita anak membuat bagan organisasi sebuah birokrasi? Manfaat apa yang dirasakan anak jika mereka diminta membuat PR yang menuliskan susunan kabinet yang ada di pemerintahan? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Manfaat apa yang dimiliki anak jika ia disuruh menghapal kalimat-kalimat yang ada di dalam buku pelajaran? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Tumpulnya rasa dalam mencerna apa yang dipikirkan oleh otak dengan apa yang direfleksikan dalam sanubari dan perilaku-perilaku keseharian mereka sebagai anak menjadi semakin senjang. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Anak-anak tahu banyak tentang pengetahuan yang dilatihkan melalui berbagai mata pelajaran yang ada dalam kurikulum persekolahan, namun mereka bingung mengimplementasikan dalam kehidupan nyata. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Sepanjang hari mereka bersekolah di sekolah untuk sekolah… dengan tugas-tugas dan PR yang menumpuk.... Namun sekolah tidak mengerti bahwa anak sebenarnya butuh bersekolah untuk menyongsong kehidupannya ! &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Lihatlah, mereka semua belajar dengan cara yang sama. Membangun 90 % kognitif dengan 10 % afektif. Paulo Freire mengatakan bahwa sekolah telah melakukan "&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;pedagogy of the oppressed&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;" terhadap anak-anak&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;didiknya. Dimana guru mengajar, anak diajar, guru mengerti semuanya dan anak tidak tahu apa-apa, guru berpikir dan anak dipikirkan, guru berbicara dan anak mendengarkan, guru mendisiplin dan anak didisiplin, guru memilih dan mendesakkan pilihannya dan anak hanya mengikuti, guru bertindak dan anak hanya membayangkan bertindak lewat cerita guru, guru memilih isi program dan anak menjalaninya begitu saja, guru adalah subjek dan anak adalah objek dari proses pembelajaran (Freire, 1993). Model pembelajaran &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;banking system &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;ini dikritik habis-habisan sebagai masalah kemanusiaan terbesar. Belum lagi persaingan antar sekolah dan persaingan ranking wilayah....&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;Mengkompetensi Anak --- merupakan " KETIDAKPATUTAN PENDIDIKAN ?"&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Anak adalah anugrah Tuhan... sebagai hadiah kepada semesta alam, tetapi citra anak dibentuk oleh sentuhan tangan-tangan manusia dewasa yang bertanggung-jawab. "(&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Nature versus Nurture&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;) bagaimana?" Karenanya ada dua pengertian kompetensi. Kompetensi yang datang dari kebutuhan di luar diri anak (direkayasa oleh orang dewasa) atau kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan dari dalam diri anak sendiri. Sebagai contoh adalah konsep kompetensi yang dikemukakan oleh John Watson (psikolog) pada tahun 1920 yang mengatakan bahwa bayi dapat ditempa menjadi apapun sesuai kehendak kita sebagai komponen sentral dari konsep kompetensi. Jika bayi-bayi mampu jadi pembelajar, maka mereka juga dapat dibentuk melalui pembelajaran dini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;Kata-kata Watson&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt; yang sangat terkenal adalah sebagai berikut : &lt;i style=""&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;"&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;Give me a dozen healthy infants, well formed and my own special world to bring them up in, and I'll guarantee you to take any one at random and train him to become any type of specialist I might select -- doctor, lawyer, artist, merchant chief and yes, even beggar and thief regardless of his talents, penchants, tendencies, vocations, and race of his ancestors &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;"&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Pemikiran Watson membuat banyak orang tua melahirkan "intervensi dini" setelah mereka melakukan serangkaian tes Inteligensi kepada anak-anaknya. &lt;st1:city st="on"&gt;Ada&lt;/st1:City&gt; sebuah kasus kontroversi yang terjadi di Institut &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:state st="on"&gt;New Jersey&lt;/st1:State&gt;&lt;/st1:place&gt; pada tahun 1979. Dimana guru-guru melakukan serangkaian program tes untuk mengukur &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;"Kecakapan Dasar Minimum (&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Minimum Basic Skill &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;) " dalam mata pelajaran membaca dan matematika. Hasil dari pelaksanaan program ini dilaporkan kolumnis pendidikan Fred Hechinger kepada &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;New York Times &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;sebagai berikut : "&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;The improvement in those areas were not the result of any magic program or any singular teaching strategy, they were... simply proof that accountability is crucial and that, in the past five years, it has paid off in New Jersey&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;"&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Juga belajar dari biografi tiga orang tokoh legendaris dunia seperti Eleanor Roosevelt, Albert Einstein dan Thomas Edison, yang diilustrasikan sebagai anak-anak yang bodoh dan mengalami keterlambatan dalam akademik ketika mereka bersekolah di SD kelas rendah, semestinya kita dapat menyimpulkan bahwa pendidikan dini sangat berbahaya jika dibuatkan kompetensi-kompetensi perolehan pengetahuan hanya secara kognitif.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Oleh karena hingga hari ini sekolah belum mampu menjawab dan dapat menampilkan kompetensi emosi sosial anak dalam proses pembelajaran. Pendidikan anak seutuhnya yang terkait dengan berbagai aspek seperti emosi, sosial, kognitif, fisik dan moral belum dapat dikemas dalam pembelajaran di sekolah secara terintegrasi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Sementara &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;pendidikan sejati adalah pendidikan yang mampu melibatkan berbagai aspek yang dimiliki anak sebagai kompetensi yang beragam dan unik untuk dibelajarkan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Bukan anak dibelajarkan untuk di tes dan di skor saja !&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Pendidikan sejati bukanlah paket-paket atau kemasan pembelajaran yang berkeping-keping, tetapi bagaimana secara spontan anak dapat terus menerus merawat minat dan keingin-tahuan untuk belajar. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Anak mengenali tumbuh kembang yang terjadi secara berkelangsungan dalam kehidupannya. Perilaku keingin-tahuan - "&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;curiosity&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;" inilah yang banyak tercabut dalam sistem persekolahan kita. Akademik Bukanlah Keutuhan Dari Sebuah Pendidikan! "&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Empty Sacks will never stand upright &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;" --- George Eliot&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Pendidikan anak seutuhnya tentu saja bukan hanya mengasah kognitif melalui kecakapan akademik semata ! &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;Sebuah pendidikan yang utuh akan membangun secara bersamaan, pikiran, hati, fisik, dan jiwa yang dimiliki anak didiknya&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: blue;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt; Membelajarkan secara serempak pikiran, hati. dan fisik anak akan menumbuhkan semangat belajar sepanjang hidup mereka. Di sinilah dibutuhkannya peranan guru sebagai pendidik akademik dan pendidik sanubari "karakter". Dimana mereka mendidik anak menjadi "&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;good and smart&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;", terang hati dan pikiran Sebuah pendidikan yang baik akan melahirkan "&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;how learn to learn&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;" pada anak didik mereka. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Guru-guru yang bersemangat memberi keyakinan kepada anak didiknya bahwa mereka akan memperoleh kecakapan berpikir tinggi, dengan berpikir kritis, dan cakap memecahkan masalah hidup yang mereka hadapi sebagai bagian dari proses mental. Pengetahuan yang terbina dengan baik yang melibatkan aspek kognitif dan emosi, akan melahirkan berbagai kreativitas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Leonardo da Vinci seorang pelukis besar telah menghabiskan waktunya berjam-jam untuk belajar anatomi tubuh manusia. Thomas Edison mengatakan bahwa "G&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;enius is 1 percent inspiration and 99 percent perspiration &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;".&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Semangat belajar "&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;encourage&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;" tidak dapat muncul tiba-tiba di diri anak. Perlu proses yang melibatkan hati, kesukaan dan kecintaan belajar. Sementara di sekolah banyak anak patah hati karena gurunya yang tidak mencintai mereka sebagai anak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Selanjutnya misi sekolah lainnya yang paling fundamental adalah mengalirkan "moral literacy" melalui pendidikan karakter. Kita harus ingat bahwa kecerdasan saja tidak cukup. Kecerdasan plus karakter inilah tujuan sejati sebuah pendidikan (Martin Luther King, Jr ). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;lnilah keharmonisan dari pendidikan, bagaimana menyeimbangkan fungsi otak kiri dan kanan, antara kecerdasan hati dan pikiran, antara pengetahuan yang berguna dengan perbuatan yang baik....&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 18pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: fuchsia;"&gt;III. Akhir Episode&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Mengembalikan pendidikan pada hakikatnya untuk menjadikan manusia yang terang hati dan terang pikiran &lt;span style="color: fuchsia;"&gt;"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: fuchsia;"&gt;good and smart&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: fuchsia;"&gt;"&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt; merupakan tugas kita bersama. Melakukan reformasi dalam pendidikan merupakan kerja keras yang mesti dilakukan secara serempak, antara sekolah dan masyarakat, khususnya antara guru dan orangtua. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Pendidikan yang ada sekarang ini banyak yang tidak berorientasi kepada kebutuhan anak sehingga tidak dapat memekarkan segala potensi yang dimiliki anak. Atau pun jika ada yang terjadi adalah ketidak-seimbangan yang cenderung memekarkan aspek kognitif dan mengabaikan faktor emosi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Begitu juga orangtua. Mereka berkecenderungan melakukan training dini kepada anak. Mereka ingin anak-anak mereka menjadi &lt;span style="color: fuchsia;"&gt;"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: fuchsia;"&gt;SUPERKIDS&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: fuchsia;"&gt;".&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt; Inilah fenomena yang sedang trend akhir-akhir ini. Inilah juga awal dari lahirnya era anak-anak karbitan! Lihatlah nanti ketika anak-anak karbitan itu menjadi dewasa, maka mereka akan menjadi orang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;dewasa yang ke kanak-kanakan.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Diambil dari Diskusi Panel&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;“ Meng-optimalkan anak Secara natural ”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4214269774589169133-6417969074020612610?l=binakreatif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://binakreatif.blogspot.com/feeds/6417969074020612610/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4214269774589169133&amp;postID=6417969074020612610' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4214269774589169133/posts/default/6417969074020612610'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4214269774589169133/posts/default/6417969074020612610'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://binakreatif.blogspot.com/2008/11/smart-parenting.html' title='&apos;SMART&quot; Parenting.......'/><author><name>Kak Wien</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_IjcvEQdax7w/SVmhO3r18gI/AAAAAAAAAEE/mGgzTLHEGB8/S220/Poster+Kakwin.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4214269774589169133.post-8708380306306609939</id><published>2008-11-05T22:10:00.000+07:00</published><updated>2008-11-05T22:13:08.121+07:00</updated><title type='text'>KEDEKATAN  ORANG TUA</title><content type='html'>Pertemanan orang tua – anak&lt;br /&gt;KEDEKATAN TANPA BATAS&lt;br /&gt;DAPAT MENJERUMUSKAN ANAK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dekat dengan anak dapat diperoleh dengan cara berteman dengan anak. Keinginan orang tua untuk merasa dekat dengan anak didasarkan pada kenyataan bahwa mereka mempunyai hubungan yang berjarak dengan orang tuanya pada masa kecil dulu. Akibatnya anak menjadi tidak mempunyai keberanian untuk mengeksplorasi lingkungannya. Namun di masa sekarang ini untuk berteman dengan anak hingga merasa dekat tidak semudah mengucapkannya.  Kesibukan kedua orang tua mencari nafkah, membuat mereka harus pandai mengatur waktu luang. Sayangnya, dalam pemanfaatan waktu ini banyak orang tua yang terjebak untuk mengikuti semua keinginan anak. Semua ini dilakukan agar si anak merasa senang dan ingin mencuri simpati anak. Hal ini bisa juga manifestasi rasa bersalah dari orang tua karena meninggalkan anak untuk bekerja. Yang terjadi akhirnya hubungan pertemanan yang tanpa batas. Padahal hal ini berdampak pada hilangnya respek dan wibawa orang tua.&lt;br /&gt; Lalu apa yang harus dilakukan orang tua agar tidak terjebak pada pertemanan tanpa batas ini?&lt;br /&gt;Berteman seharusnya adalah hubungan yang seimbang dan sejajar. Kedua hal itu menyebabkan orang tua harus menanggalkan  “pekerjaan” sebagai orang tua seperti melindungi, mengajar, mendidik, menerapkan disiplin. Sementara anak juga membutuhkan orang yang lebih tua, yang lebih bijaksana dan membutuhkan perasaan aman saat dibawah bimbingan orang tua. Itulah sebabnya  orang tua diharapkan jangan membawa konsep berteman terlalu jauh karena anak juga membutuhkan orang tua untuk membimbing,mengajar dan melindunginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Berteman dengan anak membutuhkan kiat- kiat tersendiri. Ada beberapa hal yang patut diperhatikan dan dilakukan orang tua, yaitu:&lt;br /&gt;1. Memahami kebutuhan anak. Caranya dengan melihat keberadaan anak sesuai usianya. Misalnya pada anak usia 3 tahun , apa saja kebutuhannya baik dari sudut sosial, emosi dan intelegensi.&lt;br /&gt;2. Mengetahui sifat, watak dan karakter anak. Ini penting karena orang tualah yang paling dekat dengan anak. Apa kecenderungan anak, apakah tipe ekstrovert atau introvert. Orang tua juga perlu mengetahui tipologi gaya belajar anak apakah visual, kinestetik atau auditif. Cara belajar ini mempengaruhi perkembangan kepribadian anak,karena belajar merupakan proses perubahan tingkah laku. Sementara kepribadian merupakan proses akumulasi psikofisik yang terwujud dalam perilaku. Karena itu orang tua perlu memahami proses belajar anak untuk mengembangkan kepribadiannya.&lt;br /&gt;3. Berempati dan bersimpati pada anak. Anak yang memiliki hari- hari aktif tentu juga mengalami stress, sehingga diperlukan empati dan simpati orang tua dalam berkomunikasi.&lt;br /&gt;4. Melihat dari perspektif anak. Orang tua jangan hanya mengatur, menyoroti dan melarang anak. Anak mempunyai pandangan yang berbeda dengan orang tua, karena pengalaman dan pengetahuannya belumlah sebanyak orang tua. Oleh sebab itu cobalah memahami anak dengan komunikasi yang hangat. Cara ini sangat efektif untuk mengubah perilaku anak. Misalnya, saat orang tua ingin melarang anaknya menonton film yang banyak adegan kekerasannya, maka orang tua juga harus ikut nonton dan mencari tahu apa yang membuat anak tertarik menonton film tersebut.&lt;br /&gt;5. Menurunkan level. Tempatkan posisi orang tua sama dengan anak tidak hanya secara fisik tapi juga gaya bahasa dan isi pembicaraan. Anak akan merasa bahwa orang tuanya bukan orang yang powerful.  Ini memungkinkan anak tampil apa adanya. Dengan cara ini komunikasi pun bisa berjalan.&lt;br /&gt;6. Tetap tegas pada aturan.Aturan tetaplah aturan, harus tetap disampaikan pada anak. Jangan melemah karena suatu situasi. Tetap konsisten agar anak tidak bingung dan mempergunakan kesempatan. Jangan takut melihat anak sedih, kecewa, menangis dan merajuk, karena ana
